8.20.2017

Semacam Prolog, Tanpa BAB Pertama



Aku masih belum bisa memahami, sebenarnya apa yang tengah kita lakukan sebulan belakangan? Awal sebuah cerita atau justru akhir dari sebuah cerita? Baik, sampai detik ini, aku pun masih meraba-raba, apa esensinya dari kedekatan kita belakangan, yang kemudian justru menjauhkan kita layaknya orang asing. Padahal, kita berteman sudah cukup lama. Berkali-kali kubilang, kaulayaknya air yang menyejukkan. Namun kini, apakah anggapan tersebut masih berlaku?

Jawabannya, entah.

Sulit mendeskripsikan benang merah antara kita berdua saat ini, lebih-lebih perasaanku. Dahulu aku menganggapmu sebagai lelaki yang bersahaja, sekarang sebagian dari diriku menganggapmu “Semua lelaki sama saja”. Oke. Kita sudah sama-sama punya niat baik, bahkan sempat membawa nama masing-masing kepada orangtua. Ehm, tapi. Tahukah kau, aku sudah membawa namamu ke telinga kedua orangtuaku, bertahun-tahun lalu? Namamu, sudah terpatri dalam ingatan kedua orangtuaku, sehingga mereka tak banyak bertanya mengenaimu, ketika kuceritakan kedekatan kita.

Namamu, sudah menjadi salah satu bagian kotak-kotak ingatan kedua orangtuaku. Sehingga, ketika kusebut namamu, mereka cukup membuka kotak dalam memorinya, tanpa bersusah payah mencari tahu.
7.05.2017

I Lost My Captain



I don't know where I'm going
7.03.2017

Dermaga: Tak Pernah Lelah Menanti ~


Pelaut,
rumahnya di laut. Bukan di hatimu
Ia milik laut, milik samudera yang selalu memabukkannya. Bukan milikmu.

Kau hanya dermaga, tempat persinggahannya ketika ia lelah.
Ia mengingatmu, ketika ia terluka oleh cinta.
Yang diam-diam ia suka.

Pelaut,
Hanya singgah ke pelukanmu, ketika ia butuh tempat bercerita. Kemudian, ia pergi lagi.
Seringnya, tanpa pamit.
Kau akan tahu, dengan sendirinya. Kau akan bersedih sesuka hatimu, kemudian kau pun mengerti.
Memang seperti itulah, ia.

Ia singgah, untuk pergi. Sekuat apa pun jerat tambang yang kau lilitkan. Ia tetap pergi.
Kepada laut, tempat yang selalu memabukkannya.

Yang selalu ingin ia rengkuh.

Jangan pernah tanya kenapa, karena kau terlalu mengenalnya.
Kau terlalu lama mengenalnya.
Kau tahu jawabnya, tanpa perlu ia berkata kenapa.
6.20.2017

Sid, Lelaki yang Pernah Kucintai



Sid pernah berkata padaku, "Aku playboy, tapi cewekku cuma satu."
.
.
.
Saat itu, kami berada di halaman kampus,duduk berdua dengan komputer jinjing menyala di hadapan kami. Kami sama-sama menyukai dunia maya, hampir setiap hari kami menggunakan aplikasi chatting untuk berkomunikasi. Padahal, jarak kami teramat dekat.
.
.
.

Karena yang kutahu, cinta tak pernah mendua.



Katanya, dia kau mencintaiku. Tapi, kau tak pernah rela meninggalkan kekasihmu.
.
.
.
Malam itu, kita berada di halaman kampus. Kau datang terlambat dari waktu janji temu. Kau sibuk dengan latihan demi latihan pecinta alam, sedangkan aku tetap menunggu.  
.
.
.
6.06.2017

Laptop Asus, Kawan Baru Menulis Saya



Sudah menjadi sebuah kebutuhan, selain bulpoin dan buku catatan, laptop adalah salah satu benda yang dibutuhkan oleh seorang penulis. Mungkin, ada juga yang masih menggunakan seperangkat komputer sebagai media menulis mereka atau justru hanya di atas lembar-lembar kertas putih. Tapi, sebagaian besar penulis sudah menggunakan komputer jinjing sebagai media menulis mereka, begitu pula dengan saya.
Seperti penulis kebanyakan, yang memulai media menulis mereka dengan berlembar-lembar kertas, saya pun demikian. Saya memulai karir menulis saya dari lembaran-lembaran buku catatan. Lalu, semenjak Lelaki Melankolis membelikan saya seperengkat komputer, saya mulai mengetik cerita-cerita saya dalam Microsoft Word.
Bertahun-tahun berlalu, sampai akhirnya saya harus belajar di perguruan tinggi di Surabaya dan Lelaki Melankolis pun membelikan saya sebuah laptop yang dibelinya dengan cara mencicil selama setahun. Laptop itupun menemani saya dalam belajar di perguruan tinggi, mengerjakan esai-esai yang menumpuk, menjalankan pelbagai rangkaian tugas serta pratikum, dan tentunya saya gunakan untuk menulis blog dan cerita-cerita sendu. Seperti yang kalian baca dalam blog ini. Hampir semua tulisan di blog ini dihasilkan oleh laptop yang dibelikan oleh Lelaki Melankolis.
6.27.2016

Maaf, Aku Mencintaimu


taken from unsplash.com

“Maaf, aku suka kamu.”

                Dalam lingkaran pertemanan kami, tak pernah sekalipun kalimat itu terucap. Entah dari bibirku, apalagi bibirnya. Tak sekalipun, aku berharap ia akan mengatakannya. Bahkan, ketika aku ingin sekali mendengarkan kalimat itu terucap.

                Karena, ketika kalimat itu benar-benar terucap, aku tak tahu harus berbuat apa.

                “Bercandaan saja kamu, ih!”aku memukul lengannya pelan, sambil tertawa kecil. Tapi, sampai tawaku mereda, ia tetap berdiri di depanku, menatapku.

                Aku menelan ludah. Ini serius?

                Mendadak aku rikuh. “Ehm, setelah ini, kita ke mana?”mengalihkan topik pembicaraan, sepertinya adalah pilihan yang tepat.