10.07.2018

Perempuan Pembenci Pertemuan


Sejujurnya, saya benci dengan pertemuan karena ia datang bersama perpisahan. .

Saya perempuan yang mudah jatuh hati. Mudah menganggap semua orang bisa menjadi kawan, meskipun pada akhirnya mereka pergi sebagai lawan. 

Seperti sore waktu itu, masing-masing kita enggan tuk berpisah, meskipun senja sudah memberikan tanda. .

Kita berpisah dengan ribuan kemungkinan tak akan bertemu kembali. Kekhawatiran-kekhawatiran yang selalu menghantui. 

Padahal, senja selalu datang esok hari. Tuhan selalu menepati janji-janjiNya. 



Lalu, apa lagi yang kautakutkan akan pertemuan?
1.23.2018

Di Danau Pagi Itu


Sudah hampir satu jam kami duduk di dudukan beton di tepi danau. Danau buatan yang berada di tengah-tengah kampus. Berada di antara kantin yang riuh dan masjid yang teduh. Aku, sejak kedatanganku tadi hanya memberikan tatapan sendu tanpa mengeluarkan satu kata pun. Sedangkan dia, sedari tadi berbicara mengenai dirinya, kondisi tubuhnya, pemikiran-pemikirannya, dan kekhawatiran-kekhawatirannya akan masa depan.

Sesungguhanya, pertemuan ini dialah yang memulainya. Mempertanyakan hubungan kami – hubungan yang ingin tak ingin ia lakukan. Maka, ia pun merasa gamang. Sebenarnya, apa yang kami lakukan, sedangkan ini bertolak belakang dengan prinsip hidupnya.

Aku masih membisu.

Dan dia terus berseru.

Sayup-sayup lantunan lagu My Heart Will Go On terdengar dari kejauhan. Nampaknya, dari arah kantin kampus.
11.27.2017

Awal Musim Penghujan


Genangan air ada di mana-mana. Pada tengah lahan yang cekung, lahan beraspal dekat koridor, dan beberapa di jalanan kampus. Dedaunan yang gugur pun tak terlewatkan oleh air hujan, ranting-ranting pohon, rerumputan dan genting-genting pada bangunan-bangunan kampus. Ini bulan November, seperti lagu milik Guns N’ Roses ”November Rain”.
10.12.2017

Lelaki Melankolis



Adalah Lelaki Melankolis yang mengenalkan saya pada gemar membaca. Ketika itu, saya masih kelas tiga di Sekolah Dasar. Di mana saya baru bisa mengenal huruf ketika kelas dua, yang berarti saya baru lancar-lancarnya bisa membaca. Ada seorang teman saya yang membawa majalah Bobo ke kelas, namanya Tama. Selain majalah Bobo, dia juga membawa beberapa komik. Saat itu, saya sudah tertarik dengan majalah Bobo. Kemudian, saya ke Jombang, rumah paman saya. Di sana, saya menemukan majalah serupa milik sepupu. Sepulang dari Jombang, saya meminta Lelaki Melankolis untuk membeli majalah Bobo.

Waktu itu, kami - Lelaki Melankolis dan saya - tidak tahu di mana bisa membeli majalah Bobo. Saya pun tak punya inisiatif bertanya kepada Tama maupun sepupu. Akhirnya, Lelaki Melankolis membawa saya ke pasar loak di Mojokerto. Di sana selain saya menemukan barang-barang bekas, saya juga melihat kios-kios buku bekas dan majalah bekas. Lelaki Melankolis membelikan saya beberapa majalah Bobo bekas.

Awalnya, saya lebih suka membaca cerita bergambar Nirmala dan Oki, Paman Gembul, dan Bona si Belalai Panjang. Setiap membeli majalah Bobo - entah baru atau bekas - yang saya baca cerita-cerita itu saja. Karena saya suka sekali membaca cerita bergambar, akhirnya saya meminta Lelaki Melankolis membeli komik. Waktu itu, saya dibelikan komik Crayon Shinchan, Doraemon bahkan sampai Dragon Ball. Tentu, sebagian merupakan komik bekas. Bahkan, ketika saya harus rawat inap di Rumah Sakit, yang saya minta adalah komik.
10.04.2017

Rindu Selalu Begitu



Kenangan seringkali menerbitkan rindu
Membawa hal-hal yang tak perlu
Ketika ia tiba, kita kan dibuat sendu

Rindu selalu menggebu, terburu-buru sebelum lebur menjadi abu
Terkadang, ia menyebabkan haru yang teramat pilu

Sayang, kita semua tahu, kenangan tak akan lekang oleh waktu
Ia hanya bisa dibunuh dengan waktu, di saat kita melangkah maju

9.26.2017

Karena yang kutahu, cinta tak pernah mendua.



Katanya, kau mencintaiku. Tapi, kau tak pernah rela meninggalkan kekasihmu.
.
.
.
Malam itu, kita berada di halaman kampus. Kau datang terlambat dari waktu janji temu. Kau sibuk dengan latihan demi latihan pecinta alam, sedangkan aku tetap menunggu.  
.
.
.
9.01.2017

Kubukan sebuah kesalahan, yang harus kausesali

Aku tak pernah memintamu untuk singgah. Justru, kamu adalah orang yang selalu kuhindari. 
Tiba-tiba saja, kamu datang membawa harapan. Membuatku melambung tinggi, kemudian kauhempaskan. Yang tersisa kini, hanya luka dan luka serta penyesalan. 

Kamu meminta maaf karena datang dalam hidupku yang damai. Kaupikir, mengenalku adalah sebuah kesalahan? Seharusnya, kauminta maaf karena membuangku dan memilih bersama orang lain. Bukan karena mengenalku.

Aku bukanlah sebuah kesalahan, yang harus kausesali.