4.04.2009

Danau Bintang









“Lelaki sialan!!! Bangsaaatttt!!!! “
Aku terduduk dan menangis sejadi-jadinya. Aku tidak mngerti apa rencana Tuhan sebenarnya. Mengapa aku yang mengalami hal ini? Apa dosa-ku? Oke. Aku memang hamper tidak pernah atau tidak pernah salat. Apa mungkin karena itu Tuhan menghukumku sekarang ini?
“ Tapi, ya Allah kenapa harus dengan cara seperti ini engkau menghukum diriku??? Kenapa tidak dengan cara yang lain?” protesku.
Aku masih duduk di pinggir danau itu. Sendiri. Menangis. Kecewa. Marah.
Pacarku, menghianatiku. Dia menduakan aku.
“ Tuhaaannnnn ini tidak adil untukku!!! Aku sudah sangat setia dengannya. Tapi apa balasannya???” teriakku, kecewa.
Aku sangat kesal. Benci. Semua rasa tercampur aduk. Untung danau ini masih sepi, jadi aku bisa berteriak sesuka hati tanpa takut ada yang tau, meskipun ada yang melihatku, aku toh tidak peduli lagi. Pusssssiiiiiiinnnngggg!!!!!
Aku melemparkan batu-batu kerikil ke danau itu. Aku masih menangis. Ingin rasanya aku memaki Dino, dan menjabakinya hingga aku puas. Tapi aku maluu. Kayak tidak ada cowok lain aja.
“Dino, kenapa kamu buat aku seperti ini. Apa yang kurang dari aku?” oke. Aku tidak cantik. Tapi aku baik. Menurutku, aku baik, dan yang pasti setia. Jangan salah gini-gini juga ada yang coba pe-de-ka-te sama aku.
Summpeekkkk!!!! Nggak relaaa. Nggak ikhlas.
Enak sekali Winda begitu gampang dapetin Dino. Sedangkan aku? Aku harus menunggu Dino dulu, sebelum Dino jadi cowok aku.
Teringat sebuah sinetron, yang dalam ceritanya sang tokoh utama sedang sedih dan semua kesedihannya di tulis pada selembar kertas, dan kertas itu dibentuk menjadi sebuah kapal-kapalan, lalu di hanyutkan ke danau, agar saat kapal-kapalan itu tenggelam, hilang juga kesedihan bersama tenggelamnya kapal-kapalan itu.
Dan sekarang ini aku lagi ada di pinggiran danau. Dan aku lagi sedih juga. Lalu aku mengambil sebuah kertas dan bulpoin dari dalam tas ranselku dan menulis semua kesedihanku.


Dear Bear…
Oke. Bukan berarti aku memanggilmu beruang. Jangan dilihat dari beruang aslinya, lihatlah boneka beruang yang berwarna putih yang lucu dan menyenangkan!!!
Oke. Aku kesal. Aku benci. Aku marah. Apa salahku? Oke. Kenapa Tuhan menghukumku? Pacarku mengkhianatiku. Menyakiti aku. Menodai kepercayaanku. Apa hanya wanita cantik seksi, sempurna, tanpa cacat saja yang berhak mendapat kebahagiaan, kesetiaan, cinta dari lelaki tampan? Kalau seperti itu, kenapa juga aku diciptakan Tuhan dengan wajah pas-pasan , dan tidak sempurna sperti aku? Kenapa aku tidak diciptakan seperti Winda saja? Cewek Dino sekarang. Ya, sekarang aku bukan cewek Dino Daniar lagi. Menyedihkan memang.
Dan aku bingung harus protes dengan siapa. Benci. Muak!!!
Oke. Bear. Semoga kau bisa membantuku.

From: pYu_PyU



Aku melipat kertas itu. Bukan seperti kapal-kapalan dan menenggelamkannya. Jika aku melakukan hal itu, tiada guna aku menulis tadi, tidak akan ada orang yang akan membacanya. Lalu aku menaruhnya di sebelahku dan aku tutupi dengan batu yang agak besar. Dan kuharap akan ada orang yang membacanya.


3 hari kemudian…….

Aku mendatangi danau itu lagi. Mencoba melihat apakah sudah ada orang yang membacanya, dan membalasnya. Kubuka batu yang kemarin.
“Ahh… Nggak ada.”
Aku duduk di pinggir danau itu lagi. Hari masih pagi, udara sungguh masih dingin. Hari ini aku bolos sekolah lagi. Hatiku sakit bila melihat Dino dan Winda bermesraan di sekolah. Sungguh rasanya ingin mati saja.
“Dinooo aku benci sama kamu!!!!!” teriakku. Aku mulai mengambil kertas yang ku taruh di bawah batu kemarin. Dan membacanya lagi.
“Kenapa sich, tidak ada yang mau bantuin aku? pada nggak saying sama aku.”
Aku berdiri dan berteriak-teriak layaknya orang gila.
“Cowokkk bereengseekkkk!!!!! Winda bangsaattt. Perebut cowok orang. Aku benci kalian berduaaaaa!!!!”aku menangis,” Aku benci kalian. Kalian tega sama aku,”suaraku melemah dan membenamkan kepalaku di kedua kakiku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku kecewa.


Esoknya….
Hari ini, hari Minggu. Aku dating lagi ke danau itu. Melihat kertas yang kuselipkan kemarin. Hari ini banyak orang di danau itu, karena ini hari libur.
Kubuka kertas itu. Aku tersenyum. Ada balasan. Aku segera duduk di pinggir danau itu, dan mmembacanya.

Dear Pyu_pyu…
Aku anggap beruang yang kamu maksud bernama pyu_pyu. So, kita sama-sama beruang. Dan jangan membayangkan kamu beruang yang putih bersih, sedang tersenyum lucu. Salah.
Kamu adalah beruang cokelat, yang semakin cokelat karena tidak pernah mandi. Dan kamu beruang yang menyeringai marah, menyeramkan.
Kamu sudah tau sendiri kenapa Tuhan membiarkan Dino, mantan kamu itu, berpaling darimu. Tuhan ingin mengingatkan dirimu.
Dan anggaplah Dino bukan yang terbaik untukmu, hinggah dia harus meninggalkanmu. Bersyukurlah! Bersyukurlah karena kamu tidak kehilangan Dino sepenuhnya. Kamu masih bisa melihatnya, memandangnya, meskipun kamu tidak memilikinya. Dan yang pasti kamu bisa memukulnya kalau kamu mau. J
Jika hatimu gundah cobalah untuk salat. Kamu sudah terlalu jauh meninggalkannya. Dan cobalah untuk mengiklaskannya. Suatu hari nanti kamu juga bakalan nemuin pria bukan cowok yang bisa mngerti semua keinginanmu. Jadi bersabarlah……
Kamu manis juga!

From; Bear boy



Aku mngeryitkan dahi. Manis? Dia tau aku? dan apa ini, ngatain aku beruang cokelat. Di bilang nggak pernah mandi lagi. Oke.
Aku mngambil kertas yang baru dan menulis balasannya.


Dear bear boy……
Siapa kamu ngatain aku beruang cokelat jelek? Oke. Makasih udah mau balas surat ini. Bilang untuk mengikhlaskan itu mudah sobat. Tapi aku tidak yakin aku bisa. Dan salat? Oke, jika menurutmu salat akan membuatku lebih tenang.
Siapa kamu? Bisa-bisanya bilang aku ini manis?kamu tau aku? jangan sotoy deh!
From: pyu_pyu (bukan beruang cokelat)





Sampai dirumah aku mengambil air wudlu. Oke. Aku akan mencobanya. Dan saat aku mulai mengucapkan niat salat, aku langsung mngeluarkan air mataku. Seusai salat aku berdoa. Aku berdua sambil menangis sejadi-jadinya. Aku sudah terlalu lama meninggalkan kewajibanku ini.
Esoknya aku lebih fresh untuk berangkat ke sekolah.
“Wey, lebih kelihatan seger nich! Baru dapet lotre ya?” Tanya Tia padaku, saat aku baru duduk di sebelahnya.
“Emangnya dapat lotre aja, kelihatan seger?”tanyaku balik.
“Trus, tumben senyum-senyum sendiri gitu?”
“Mau tau aja!”ucapku girang.
Sepulang sekolah aku melihat Dino, ia berjalan kearahku.
“Hai, apa kabar?” ucapnya ramah. Inilah yang membuatku tidak bisa melupakannya. Aku tersenyum. Dan dia pergi. Hanya itu saja? Oh, Tuhan apa yang engkau maksudkan dengan semua ini.

Aku kembali ke danau itu lagi sepulang sekolah. Aku melihat kertas yang kuselipkan itu, dan membacanya.

Dear Pyu_Pyu => bukan beruang cokelat?
Aku yakin kamu sudah mencoba untuk kembali salat. Dan gimana hasilnya? Kamu bahagia? Pasti kan?
Dan soal kenapa aku bilang kamu manis. Karena kamu memang manis. Lihat amplop di selipan batu besar belakang kamu. Kamu manis kan?

From: Bear Boy


Aku segera mencari amplop yang ia maksud. Dan menemukannya di balik batu besar belakangku. Dan membukanya. Di dalamnya terdapat foto-fotoku, saat aku menangis tempo hari. Dan ada foto yang berukuran paling besar, yang mirip dengan beruang yang marah. Aku tersenyum. Tapi sesaat kemudian, aku penasaran. Siapakah cowok ini?
“Siapa sih kamu?”tanyaku entah kepada siapa.
“Aku Bear boy,” ucap seseorang di sebelahku. Cowok yang membawa camera dan mulai memotret pemandangan danau. Aku sendiri heran melihatnya.
“Kenapa ?” tanyanya sembari menoleh kepadaku.”Pyu_pyu, beruang cokelat jelek!!!”
Aku masih melongo. Aku baru ngeh dia adlah cowok yang selalu balas surat-suratku itu.
“Dunia ini indah. Jangan disia-siakan hanya dengan bersedih ria.”ucapnya lagi.
“Lalu apa maksud Tuhan,”aku mulai berkata.
Dia menatapku.
“Aku sudah salat. Oke, tadi Dino memang menyapaku. Tapi hanya itu. Tidak lebih.”
“Lalu apa yang kamu inginkan?”
“aku berdoa kepada Tuhan agar Dino kembali kepadaku.”
Cowok itu tersenyum,” Tuhan tidak menginginkan kamu kembali kepadanya.”
“Kenapa? Kenapa seperti itu? Apa karena aku tidak sempurna?”tanyaku marah.
“Semua orang tidak ada yang sempurna,”ucapnya santai, sembari sesekali memotret pemandangan danau.
“Salah. Winda sempurna. Dia bisa membuat Dino jatuh cinta kepadanya tanpa harus menunggu Dino, karena dia cantik. Sedangkan aku? Aku harus menunggu Dino lama, tapi apa yang kudapatkan? Kekecewaan.”
“Kamu cantik,”ucapnya sembari memandangku. Oh, dasar cowok.” Tuhan kasihan kepadamu. Tuhan tidak mau kamu menunggu Dino lebih lama lagi. Tuhan saying sama kamu. Kamu bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik daripada Dino. Tuhan tidak mau kamu dikecewakan.”
“Kenapa Tuhan tidak menciptakan aku seperti Winda? Atau lebih cantik daripada Winda? Agar Dino tetap saying sama aku.”
“ Jangan mengharapkan sesuatu dari manusia. Manusia hanya ciptaan Allah. Berharaplah kepada yang yang menciptakan!”
“Aku benci Tuhan. Apa Tuhan itu adil?”
“Jangan pernah lagi kamu bilang, kamu benci Tuhan. Dan Tuhan itu adil. Tuhan masih saying sama kamu. Kamu masih beruntung daripada aku.”
Aku menatapnya tidak mengerti.
“Dulu aku sama seperti kamu. Tidak percaya dengan Tuhan. Menganggap Tuhan tidak adil padaku.”
Aku masih mendengarkan dia berbicara. Kulihat raut mukanya menjadi muram.
“Dia selalu menemaniku. Dia tidak cantik. Dia baik. Kami selalu bersama. Dia sangat menyayangiku begitupun aku. aku mengira kami akan selalu bersama. Kami sudah merencanakan untuk kuliah di kampus yang sama.”dia menghela nafas.”Dan suatu hari dia bilang dia tidak ingin aku selalu bersamanya. Entah mengapa dia bilang sperti itu. Dan esoknya….”dia berhenti berbicara.
“Esoknya… dia kecelakaan. Dan meninggalkan aku.”
Aku kaget. Tanpa terasa air mataku mengalir. Badanku bergetar hebat.
“Awalnya aku benar-benar marah. Kecewa. Takut. Benci. Aku marah entah pada siapa. Aku kehilangan semangat. Bahkan aku sempat mencoba untuk bunuh diri, tapi aku ingat dalam mimpiku, dia dating dengan tersenyum. Aku tau dia bahagia disana. Jadi aku juga harus bahagia,”dia melihat kearahku.”kenapa kamu menangis?”
“Ah, tidak.”
“kamu masih beruntung. Masih bisa melihat Dino tertawa. Masih bisa memarahinya. Jadi bersyukurlah!”dia mengambil sapu tangan di dalam sakunya dan memberikanya kepadaku.”Tak ada gunanya kamu menagis. Nikmatilah semua yang kau akan hadapi di dunia ini. Yakinlah Tuhan akan memberimu jawaban apa yang akan engaku tempuh nanti. Dan ingatlah Tuhan saying kepadamu!”

Aku malu. Aku malu sudah menganggap diriku wanita yang paling tidak beruntung di dunia ini. Aku mengulurkan tangan kepadanya.” Aku Bulan.Bukan beruang cokelat”
Dia tersenyum dan menjabat tanganku.” Aku Bintang. Bukan beruang juga!” kami terkekeh berbarengan.
“ Kamu tau. Sekarang aku kuliah sambil bekerja di redaksi majalah. Kamu bisa mngirim karyamu ke redaksi dimana aku bekerja, kurasa tulisanmu cukup bagus.”
Aku tersenyum.”Oke. aku coba!”
Tidak harus Dino yang menemani Bulan. Di langit sana masih ada Bintang yang menerangi Bulan agar dia selalu bersinar. Yang semua ciptaan dari Allah.


04 april 2009




2 komentar:

Terima kasih sudah berkomentar :)