8.14.2010

CINTA YANG TERSIRAT



“Kapan kamu bisa becus??”
            Aku benci dimarahi.
            “Kamu layaknya anak kecil. CEROBOH!!!!”
            Dia masih memarahiku. Aku hanya diam. Aku tidak mengerti dengan sikapnya itu.
            “TEREE!!! Kamu dengar aku tidak???”
            “Dengar,”jawabku. Suaraku mulai serak. Aku tidak sadar kalau aku sudah mulai ingin menangis.

            “Apa sih salahku?? Inikan Cuma masalah sepele.”aku mendorongnya dan pergi dari tempat itu.
            Aku tak pernah mengerti. Mungkin tak akan pernah megerti dengan sikap-sikapnya. Aku hanya menyenggol gelas yang berisi air putih dan tumpahan air itu mengenai kertas tugasnya. Cuma hal seperti itu dia marah, mengataiku layaknya anak kecil. Oke, kalau tugasnya sudah rampung ia kerjakan. Toh diatas kertas itu Cuma ada separoh tulisannya.  Kamu masih bias menyalinnya, Mik!!!
@@@
            Dia mengulurkan gantungan kunci itu kepadaku. Aku menerimanya. Belum sempat aku bertanya untuk apa gantungan kunci ini, dia pergi tanpa berbicara sepatah kata pun. aku tertegun melihat kepergiaanya. Malam-malam dia datang ke-kos-ku hanya untuk memberikan ini?? Aku mengamati gantungan kunci ini. disitu ada ukiran bertuliskan “MAAF”.  
            Lagi-lagi dia menyakitiku. Menyiksa batinku. Memberikan pertanyaan bertubi-tubi atas hubungan ini. Bukan sekali ini, dia memberikan aku sesuatu. Berkali-kali sampai tak terhitung. Tak ada penjelasan yang logis atas pemberiannya. Ini lebih dari sekedar wajar bagi seorang teman.
@@@
            “Eh, bagaimana?”saat dikampus Rena tiba-tiba bertanya seperti itu. Aku tidak mengerti apa yang dia maksud.
            “Bagaimana apanya?”
            “Itu, sih Miko udah menyatakan cintanya sama kamu belum??”tanyanya berbisik. Sembari melihat kearah Miko yang sedang sibuk dengan laptopnya, duduk tak jauh dari kami.
            Aku tersenyum,” Aku sama Miko itu teman. Tidak ada itu acara ‘menyatakan cinta’ segala!!!”
            “Sudahlah, masih ngeles saja kamu itu. Aku tahu jelas-jelas kalian itu saling suka. Sudah terlihat dari sikap kalian!!!”
            “Sudahlah!!”
            “Lagi buat apa disini???”Tanya Miko sambil duduk disebelahku.
            “Duduk,”jawabku singkat.
            “Aku kira lagi B-A-B,”kata Miko cuek. Dia menatapku. Aku risih dan mengalihkan pandanganku kearah Rena.
            “Mik, kapan menyatakan cintamu sama, Tere??”
            Sial! Apa-apaan Rena ini. membuat orang malu saja.
            “Menyatakan cinta? Sama wanita jelek seperti dia?”
            Rena diam. Aku juga. Aku benar-benar tidak menyangka Miko akan sampai hati bicara seperti itu.
            Jangan menangis Tere.
            “Itu kenyataannya. Buktinya dia sampai sekarang belum juga punya pacar. Iya kan??”
            Hatiku sakit. Menghadapi sikap Miko, yang tidak pernah bias aku mengartikannya.
            “Kamu itu tidak akan punya pacar”ejeknya terus.
            “Biarkan saja!! Tidak ada urusannya sama kamu!!!”jawabku dongkol.
            “Habis ini ada kuliah?”
            “Ada.”jawabku jutek.
            “Bolos saja. Ayo, ikut aku!” ajaknya dan menarik tanganku.
            “Eh, mau kemana??” tanyaku kaget.
            “Ikut aja!”
            Aku melihat kearah Rena yang diam terpaku. “Ren, absenin ya??” pintaku. Meskipun perkataan Miko tadi menyakitkan, lagi-lagi aku bias memaafkannya dan tidak bias menolak permintaannya.
@@@
            Miko mengajakku ke Taman Bungkul.
            “Kenapa kita  kesini?”
            Miko sama sekali tidak menghiraukanku. Dia terus berjalan. Aku pasrah mengikutinya. Lalu dia berhenti didepan penjual sosis.
            “Aku ingin makan sosis. Kamu mau apa??”tanyanya padaku sembari mengambil beberapa tempura dan duduk dipinggiran taman. Aku mengikutinya.
            “Kamu nggatidak  ambil??”
            “Tidak.” Jawabku jutek.
            “Re…”panggilnya. Aku menoleh. Dia menatapku. Kali ini aku tidak berpaling.
            “Apa?”
            “Aku…”dia tidak melanjutkan kalimatnya. Dia memandangku. Menatap mataku.
            “Apa?” tanyaku lagi, tapi dia masih saja diam. Jantungku berdetak. Apa dia akan menyatakan cintanya kepadaku?? Seperti yang aku harapkan selama ini?? dia hanya diam dan terus menatapku. Kami sama-sama diam.
            “Aku mau tambah tempuranya lagi. Kamu mau??”katanya sambil berdiri.
Aku  menggeleng.
@@@
            “Re, aku suka sama kamu. Aku ingin menjadi salah satu penghias dalam hidupmu,” pernyataan Yogi, membuatku tercengang. Yogi teman sekelasku. Meskipun kami sekelas, tapi baru akhir-akhir ini, kami dekat, itupun karena kami satu kelompok. Dan sekarang dia berada di kos-ku dan menyatakan perasaannya.
            “Re.” panggilnya. Aku bangun dari lamunanku.
            “Ya?”
            “Bagaimana? Kamu mau?”
            Aku harus jawab apa. Kenapa saat seperti ini aku malah malah wajah Miko yang berkeliaran dipikiranku. Miko? Apa ini saatnya aku berhenti berharap akan kehadiran cinta Miko dihidupku? Membunuh semua harapan ini?
            “Aku butuh waktu,”jawabku. Karna aku belum tahu harus jawab apa.
            “Baiklah aku tunggu.” Yogi pun pamit pulang. Aku mengantarnya sampai depan.
            Belum jauh Yogi pergi, aku melihat motor Miko berhenti tepat dihadapanku.
            “Siapa?”tanyanya langsung kepadaku.
            “Temanku.”
            “Ada urusan apa dia?”
            “Tidak ada urusan apa-apa!”
            “Jadi seperti ini pekerjaanmu setiap hari? Mengundang teman laki-lakimu main ke kos-mu??”
            “Maksud kamu apa?” aku kaget dengan pertanyaan Miko. Kesannya aku ini bukan wanita baik-baik. Ucapannya benar-benar menyakitiku.
            “Aku tidak suka dengan perkataanmu barusan,”kataku jujur.
            “Buat kamu!” Miko mengulurkan setangkai bunga mawar merah yang mekar dengan sempurna. Indah sekali. Dan lagi-lagi dia pergi. Meninggalkan luka dihatiku. Tak ada penjelasan atas semua ini. kudekap erat bunga itu, berharap kan ada jawaban dari perasaanku. Hatiku mengatakan kamu juga memiliki rasa yang sama terhadapku. Tapi semua sikapmu membuatku sulit untuk meyakininya. Aku tidak bisa menerka-nerka lagi. aku butuh kepastian. Dan perkataan Miko tadi sama sekali tidak menunjukkan dia ada rasa sama aku. Mungkin aku benar-benar harus mengubur dalam harapanku terhadap Miko, dan memulai dengan harapan baru.
@@@
           

Sisi lain…
            Aku mengambil kertas yang aku selipkan diantara buku milikku. Kertas putih bergaris hitam itu, sudah terlihat lusuh. Tidak putih seperti pertama kali aku menulisnya beberapa bulan yang lalu. Seharusnya kertas itu sudah tidak berada disini. Seharusnya kertas itu sudah mengubah segalanya. Belum sempat keberanianku muncul, kertas ini sudah tidak ada gunanya. Pemilik yang sebenarnya dari kertas ini, sudah memilih jalan yang lain. Aku membuka lipatan kertas itu, dan membaca tulisan tanganku sendiri…
@@@
Maaf. Maaf. Maaf.
Maaf.
Aku pengecut.
Aku terlalu takut untuk mengakui rasa ini.
Aku slalu ingin memberitahumu tentang rasa ini. Tapi setiap kali aku menatap matamu aku tak berdaya.
Maaf.
Aku sering  membuatmu menangis, karna aku tak tahu cara untuk membuatmu tersenyum.
Maaf.
Aku menyakitimu.
Karna aku mencintaimu.

Miko.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)