8.14.2010

Penantian Yang Sia-Sia


Bukan hartamu yang kumau. Bukan seluruh hidupmu yang kuingin. Bukan. Bukan. Bukan pengabdianmu yang kuminta. Hanya belaian kasihmu yang kuharap. Kalaupun kamu tak bisa memberikannya untukku, aku ingin kamu tahu aku mencintaimu lebih dari aku mencintai harga diriku. Dan kuingin kamu menghargainya. Bukan mencaci dan menertawakan aku, karena aku mencintai orang yang mencampakkanku.

Tak ingatkah kamu akan janjimu kepadaku? Kamu akan menjemputku disini dan membawaku kesurgamu. Ingatkah kamu saat kamu berkata padaku untuk tetap bertahan disini untuk menunggumu? Setiap detik aku menunggumu, menanti pelukanmu. Pelukan?? Aku hampir lupa. Kamu tak pernah memelukku. Aku lupa aku tak pernah memilikimu sepenuhnya. Yang kuingat kuhanya mencintaimu. Mencintai setiap inci dari hidupmu, setiap jengkal dari keburukanmu.
            Kamu salah menilaiku. Kamu tak pernah tau aku. Kamu belum mengenalku, tapi kamu sudah meninggalkanku. Kamu belum tau aslinya cintaku. Kamu belum tau aku bagaimana dan seberapa berartinya kamu untukku. Kulakukan semua apa yang kamu inginkan. Kubuang seluruh rasa malu dan harga diriku, hanya untukmu. Kuabaikan semua omongan orang lain bahkan keluargaku hanya untuk mempercayaimu.
            “Aku juga sayang kamu, Mas!” isakku saat menerima telfon darinya. Aku berusaha keras agar isakkanku tak terdengar oleh keluargaku, seperti biasanya kamu menelfonku.
            “Tapi aku sayang Ria, Mit! Dia mengikuti apa yang aku minta!” pengakuannya membuatku benar-benar sakit.
            “Tapi aku juga, mas Rakaaaa…. Mas aja yang tak pernah pulang, lalu bagaimana caranya aku mengikuti apa yang mas mau…” apa Cuma nafsu yang mas Raka inginkan dari seorang wanita? Aku berikan segalanya mas. Hanya untukkmu, seperti yang aku janjikan.
            “Kalau saja kamu disini Mit, aku ga bakalan kayak gini….”aku diam. Aku tak tau harus bicara apa lagi. Keadaan ini yang mengharuskan semuanya terjadi. Kami hubungan jarak jauh, terlebih lagi orang tuaku tidak merestui kami.
Selama setahun kita menjalin hubungan hanya lewat dunia maya, tapi itu belum cukup mas, mengingat penantianku jauh sebelum kita menjalin hubungan. Aku mencintaimu sejak kamu masih disini, didesa kita.
Aku terima kamu menghianatiku berkali-kali. Dan berkali-kali juga aku memaafkanmu, karena aku mengerti kamu disana juga butuh belaian kasih sayang. Tapi aku siap menerimamu apa adanya. Aku masih menantimu dan mengharapkanmu.
            Dasar perek! Aq pacarnya kak Raka. Jng ganggu lg. kita udh mau merit.
Aku sudah berbaik hati dengan pacarmu itu. Aku tak pernah mengatainya. Tapi apa yang diperbuat cewek itu? Dia sms aku cewek perebut, perek!!! Apa salahku mas? Dengan kesal aku mengirim sms balik pada cewek itu.
            Mas Raka blg, seandainya kta ga jauh dia ga bklan hianatiku. Dia bkal kembli sma aku!!!
            Aku tak akan berbuat seperti ini kalau saja dia tidak memulainya. Aku benci dia!!
            Mas Raka menelfonku.
            “Kenapa bilang sama Ria seperti itu??” dari nadanya aku tau Mas Raka marah. Pernahkah kamu marah saat aku dihina orang disini saat menunggumu?? Pernahkah kamu tau aku mati-matian membela semua kesalahanmu? Kenapa kamu tak memarahi Ria, saat kamu tau dia mengataiku perek?? Kenapa kamu lebih memilih dia daripada aku yang sudah lama kamu kenal dan rela menunggumu dan hanya untuk kamu?
Terjaga setiap malam hanya untuk menunggu Handphone-ku berdering dan berharap itu sms atau telfon dari kamu. Mengikuti semua kemauanmu, meskipun kamu jauh di pulau sebrang. Hanya harapan yang aku punya untuk bertahan. Dan kini hancur karena pembelaanmu terhadap cewek itu. Belum tentu cewek itu, bisa menunggumu seperti aku menunggumu. Belum tentu dia sabar setiap kali kamu marah saat kamu mabuk. Belum tentu dia kuat untuk mendengar kamu tak jadi pulang ke Jawa, dan kamu hanya membohingku dan memberikan harapan palsu. Aku sudah yakin akan masa depanku denganmu.
Aku akan melupakanmu. Aku tak akan lagi menghubungimu, meskipun jiwa dan raga ini selalu inginkanmu. Selalu harapkanmu. Dan percaya akan ucapan semua orang aku akan mendapatkan yang lebih baik darimu. Aku menunggu lagi dan lagi.
Setahun berlalu. Kini kumulai melupakan rasa sakit yang kau tanamkan kepadaku. Kamu mulai menghubungiku lagi. Aku tetap menjaga hubungan baik yang kita jalin sebelum kita menjalani hubungan itu.
Kini yang kuingin hanya menjadi adikmu. Yang selalu ada buatmu. Tapi hatiku tak bisa berbohong. Aku masih mencintaimu. Dan kan selalu mencintaimu. Kini kamu sudah meraih kesuksesanmu. Mendapatkan apa yang kamu inginkan selama ini.
Aku dengar dari dia kalau dia sudah tidak bersama Ria lagi. Lalu untuk apa aku mengalah dulu?? Tau gitu, aku tak akan pernah mengalah.
hai Mita. Nih, kak Rakamu ada dirumahku”
Aku mendapatkan chat dari teman mas Raka di Sangatta. Dan aku mendapat sms dari mas Raka. Sudah lama dia tak menghubungiku lagi. Entah kenapa setelah lama smsan dan aku Tanya dia kerumah Redi dengan siapa, dia tak membalasnya.
Mas Raka kerumahmu sama siapa?
Dia kesini sama istrinya.
Istri??? Dia sudah menikah?? Aku sudah menduga ini akan terjadi. Tapi tak begini caranya. Aku sms mas Raka untuk memastikan. Dan semua ini benar. Atau mas Raka membohongiku?? Seperti yang dia lakukan dulu? Tapi apa temannya juga membohongiku?? Untuk apa??
Pikiranku kacau lagi. Semua penghianatan yang ia berikan padaku dulu terlintas lagi dipikiranku. Rasa sakit yang tak pernah bias aku hapus dari memori hatiku, rasa benci yang bercampur kasih sayangku padanya meletup-letup disetiap sela tangisku. Aku benci dia menghianatiku, aku benci istrinya!!
Taukah kamu disetiap sms yang dating padaku kuharap itu kamu. Kuharap masih ada harapan untukku. Semua kata-kata manis yang kamu ucapkan padaku masih kuingat dengan jelas. Dan begitu bodohnya aku mempercayainya.
Kenapa aku malah mengetahui ini dari orang lain mas? Apa kamu benar-benar tak menganggap keberadaanku? Orang yang selalu mencintaimu, menunggumu, dan orang yang masih menggantungkan harapannya kepadamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)