11.28.2010

Arti Kesuksesan



Semua mata tertuju padaku. Sorot kamera , sorakkan, tepuk tangan, hanya untukku. Aku Rissa Marianka, novelis terkenal diusia belia. Novelku pertamaku “Merangkai kehidupan” menjadi best seller!
            “Rissa……….Rissa………….” itu adalah suara penggemarku. Disini aku sekarang berdiri didepan semua penggemarku, didepan seluruh masyarakat Indonesia.
            Inilah aku sekarang!! Aku bisa membuktikan pada dunia siapa aku. Pentingnya akan hadirku. Aku bukan Rissa yang bisa dihina dan dipandang sebelah mata lagi. Inilah hidupku!!! Sekarang siapa yang sampah?? Semua ini aku dapatkan dengan usahaku sendiri. Aku tersenyum kepada semua penggemarku. Mereka berebut minta tanda tanganku, ada kepuasan tersendiri dalam diriku. Sekarang banyak orang yang mengagumi aku dan karya-karyaku.
            Sekarang disekolah, aku salah satu murid yang diperhitungkan keberadaannya. Aku bukan lagi Rissa, yang datang dan pergi tanpa seorangpun yang peduli. Ada tidaknya aku siapa mau tau. Dan kini?? Setiap aku menggerakkan tubuhku, setiap aku mengeluarkan suara, semua mata tertuju padaku.
            “Rissa.. minta tanda tangannya….” Salah seorang temanku, ehm, mungkin sekarang sebutannya lain. Salah seorang penggemarku ( Ya, sekarang dia penggemarku) menyodorkan novel karyaku.
            Tanpa senyum dibibirku, aku mengambil novel itu, dan menggoreskan penaku. Aku tersenyum pada diriku sendiri. Aku punya segalanya. Lalu novel itu kutaruh begitu saja dimeja dan penggemarku itu mengambilnya.
            “Terima kasih, Rissa…”ucapnya dengan wajah yang berbinar-binar.
            “Aku mau kekantin,” kataku sambil berdiri.
            “Aku ikut ya , Riss??” Tanya penggemarku tadi.
            Aku hanya mengangkat bahuku. Dan dia mengikuti dibelakangku.
Aku berjalan menuju kantin dengan penuh kebanggaan. Disetiap langkahku aku mendengar bisik-bisik.
            “Eh, itu ya, Rissa…” itulah yang aku dengar .” hebat sekali dia..”
            Aku tersenyum dalam hati. Aku yakin semua orang yang ada disekolah ini tau siapa aku, tanpa terkecuali para guru disekolah ini, yang dulu tidak tau sama sekali siapa Rissa.
***
Sepulang sekolah aku bertemu dengan Riko. Riko laki-laki yang aku kagumi sejak aku menginjak SMA ini. Riko yang tidak pernah tau akan keberadaan Rissa. Namun, aku yakin sekarang Riko tau siapa aku. Ini memudahkanku untuk mendekati Riko.
            “Hai, Rik…” sapaku. Aku yakin dia akan senang dengan sapaanku.
            Dia tersenyum.”Iya…Maaf kamu siapa?”
            Apa?? Dia tidak mengenaliku.
            “Aku Rissa, masa sih, kamu tidak tau aku??”tanyaku tidak percaya.”Aku penulis novel Merangkai Kehidupan …”
            “Oh ya? Aku tidak menyangka di SMA ini ada seorang penulis, maklumlah aku tidak suka baca novel. Jadi kurang tau,” jelasnya sambil tersenyum.” Eh, aku duluan ya?” pamitnya.
            Jadi, disekolah ini masih ada yang belum mengetahui siapa aku?
            “Eh, Rissa… wah, temanku ini sekarang jadi penulis terkenal ya….” Kata Mike. Hah. Mike, wanita sombong. Kenapa dia sekarang sok akrab begini. Tidak ingatkah dulu? Waktu kamu terang-terangan mengataiku bodoh? Tidak punya kelebihan yang bisa dibanggakan?
            “Iyalah. Aku bukan orang yang bodoh dan tidak punya kelebihan selamanya. Kalau cuma pintar dan kaya, tapi tidak ada orang yang tau sih, biasa!! Itu bukan salah satu kunci kesuksesan!!! “ sindirku habis-habisan dan aku berharap dia benar-benar tersindir.
            “Maksud kamu?”
            “Bahkan untuk mengerti bahasa manusia saja tidak tau,”kataku lagi tanpa perasaan dan pergi dari hadapannya. Hahahaha. Aku puas!!!
***
            “Riss, ini ada kue dari ibu,” kata penggemarku saat aku duduk sendirian didepan kelas. Dia menyodorkan sebuah kardus kepadaku. Dengan  enggan aku menerimanya.
            “Ibuku senang sekali dengan cerita dinovel kamu. Penuh dengan semangat kehidupan. Apalagi kalimat saat Mey menasehati temannya yang putus asa.”
            Malas banget sih!
            “Dicoba ya, Ris, kuenya. Ibuku yang buat sendiri.”
            Aku cuma tersenyum malas.
            “Eh, aku masuk kelas dulu ya,” katanya ceria dan masuk kedalam kelasnya.
            Aku membuka kardus itu. Ada kue lemper yang dibungkus dengan daun pisang.
            “Kue lemper??”
            Aku melempar kardus ditanganku beserta isinya kedalam tong sampah. Memangnnya aku dikira apa, dikasih kue lemper murahan seperti itu.
***
            “Brukk!!”
aku mendengar ada yang terjatuh. Seorang bapak tua pencari barang rongsokkan terjatuh. Sepedanya troboh dan rongsokkan yang dia kumpulkan  tumpah dipinggir jalan. Tidak ada yang menolong. Hatiku tergerak untuk membantunya.
            Tapi kuurungkan niatku. Jijik. Mungkin sebelum aku jadi novelis terkenal aku akan membantunya. Kalau sekarang aku membantunya apa kata penggemarku?? Toh sekarang bapak tua itu sudah ada yang menolong.
            Kuamati saja kejadian itu. Seorang pemuda berseragam  sama dengan yang aku kenakan membopong bapak tua itu kepinggir jalan, dan mulai memungguti barang rongsokkan yang berserakkan.
            Kuperhatikan baik-baik. Sepertinya aku kenal pemuda itu. Seperti, Riko. Ya , itu Riko. Dan aku semakin yakin saat Riko melihat kearahku. Bukan sekedar melihat, tapi dia berjalan kearahku. Ya ampun, kenapa jantungku jadi berdegub seperti ini. semakin Riko mendekat semakin jantungku berdegub dengan kencangnnya.
            “Hei kamu!!”
            “Ya, Rik,”jawabku dengan senyum terindahku.
            “Aku tau kamu dari tadi berdiri disini. Dan aku juga tau kamu hanya menonton Ayahku  terjatuh dan hatimu sama sekali tidak tergerak untuk menolong. Dimana hatimu???”
            Ayah?
            Riko pergi dari hadapanku. Dengan wajah penuh kemarahan. Aku hanya diam terpaku. Badanku lemas. Bapak tua itu adalah Ayah dari orang yang selama ini aku kagumi dan dengan begitu teganya aku membiarkan bapak tua itu merintih kesakitan saat ia tertimpah sepedanya. Aku hanya menonton semua kejadian itu. Aku hanya diam!!!
            Kata-kata Riko masih terngiang-ngiang dikepalaku. Lebih parah lagi ada sesuatu dihatiku yang tidak membuatku tenang. Aku berjalan pulang sambil meneteskan air mata. Mungkin air mataku ini tidak bisa menghapus semua kesalahanku. Aku terus berjalan tanpa arah. Aku tidak peduli dengan mata orang-orang yang memperhatikanku. Aku benci diriku!! Aku benci kesuksesanku!! Seandainya aku tidak sukses menjadi novelis , kejadiannya pasti tidak seperti ini. aku pasti sudah menolong bapak tua itu tanpa malu dan Riko tidak akan memarahiku.
            “Rissa. ”ada seseorang yang memanggilku. Aku menoleh. “Kamu kenapa?” dari wajahnya tersirat rasa kekawatiran. Dia Rossa.
            “Ayo mampir dulu kerumahku.”ajaknya. Aku hanya menurut. Aku memasuki rumah yang sederhana tapi nyaman.
Aku melihat sekeliling kamar Rossa, aku melihat ada beberapa piagam dan piala menghiasi dinding kamarnya. Aku tercekat melihat nama yang tertulis dipiagam itu Rossa Melani Sasmita, aku tidak asing dengan nama itu.
                        Rossa Melani Sasmita  penulis novel Cintaku , novel yang menjadi inspirasiku untuk berkarya waktu SMP dulu. Dan bukan hanya itu, sejak SD dia sudah menulis dan tak jarang karyanya dimuat dimajalah ibu kota. Ada keberanianku untuk menulis karena penulis novel ini , sebaya denganku. Dan ternyata dia adalah Rossa. Orang yang tadi siang memberiku kue dan aku melemparkannya ketempat sampah tanpa menyentuhnya. Orang yang selalu kusebut ‘penggemarku’. Rossa yang sudah menjadi novelis dan mencapai kesuksesan jauh lebih baik dariku. Rossa tidak pernah menunjukkan keberhasilannya kehalayak umum.
            Aku meneteskan air mata. Lagi dan lagi. Hatiku tidak karuan. Aku malu. Aku menyesal. Apa yang kudapatkan telah membutakan mata hatiku.
            “Maafkan aku , Sa…”kataku disela tangisku. Aku terisak.
            “Untuk apa??”Rossa masih dengan kerendahan hatinya.
            “Atas perlakuanku kepadamu selama ini dan Kue yang kamu berikan padaku tadi siang….”
            “Aku tau. Tidak apa-apa,”potong Rossa. Aku tercengang. Jadi, Rossa tau? Dan dia masih berbaik hati padaku.
            “kesuksesan ini membuatku sombong. Aku….”aku tidak bisa melanjutkan kalimatku.
            Rossa tersenyum. Dengan lembut dia berbicara,”Itu cobaan buat kamu. Yang penting sekarang kamu menyadarinya. ‘hidupmu tak akan ada artinya sebelum kamu mengalami kegagalan, dan kegagalan. Cobalah lagi dan lagi, sebelum kamu mendapatkan kesuksesan yang sebenarnya’ .”
            Aku ingat kalimat itu. Itu adalah kata-kata yang aku buat sendiri, dan kini ada orang lain yang mengucapkanya kepadaku. Aku sedang gagal. aku belum mendapatkan kesuksesan yang sebenarnya.
            “Sekarang kita salat ashar dulu. Kamu belum salat kan?”Tanya Rossa.
            Aku mengangguk. Aku baru menyadari semenjak novelku jadi best seller aku belum pernah mengambil air wudlu lagi.
            Aku bersujud pada Sang  Maha Kuasa. Aku memohon ampun atas semua yang aku perbuat.
            “Riss, kita baca ayat suci Al-qur’an dulu ya?”kata Rossa seusai salat dan memberiku Al-qur’an.
Aku mendengar suara merdu Rossa membaca Al-qur’an. Aku menangis. Ada ketenangan dalam hatiku yang tidak pernah aku dapatkan selama ini. Rossa memelukku. Aku menangis, dipelukkan sahabatku.
            Inilah kesuksesan yang sebenarnya.
***
“..Kesuksesan itu, mencapai setingkat lebih baik tanpa melupakan siapa dirimu ..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)