12.05.2010

Daun Talas jatuh Di Pangkuanmu



Butiran air itu jatuh menimpa rerumputan. Membasahi setiap lembar daun talas, dan jatuh ketanah. Aku tak pernah membayangkan akan mengalami hal yang sama dengan daun talas dan air itu. Tak pernah akur, meski air selalu memberi daun talas itu kehidupan.
Aku masih teringat dengan jelas kejadian tadi siang. Aku pulang kuliah dengan keadaan yang sangat lelah. Aku berbaring disofa tanpa mengganti pakaianku.
“Ine, pulang kuliah ganti baju kamu dulu, jangan langsung tidur,”kata Ibu.
“Aku capek,” jawabku singkat.
“Capek opo toh nduk…. “
“Capek apa?? Ibu bilang capek apa?? Bu, aku kuliah harus ganti angkot sampai tiga kali. Belum lagi harus jalan kaki. Aku capek, bu,”ucapku dengan nada tinggi.
“Hidup itu harus disukuri. Harus menerima apa adanya,”tutur Ibuku halus.
“Jadi menurut Ibu aku harus menerima ejekan teman-temanku dikampus, karena bajuku lusuh dan wajahku kucel??!!!”
“Sabar nduk… Sabar… Jalani dengan ikhlas.”
“Aku ingin seperti teman-temanku, bu. Hidup berkecukupan. Bukan setiap hari aku harus bantuin ibu tandur di sawah, makan lauk tempe setiap hari. Tempe dan hanya tempe!!!”aku semakin emosi.
Aku lelah dengan kehidupanku yang hanya seperti ini saja. Aku rindu dengan Ayah. Ayah selalu bisa member apa yang aku inginkan. Sepeda baru, baju baru. Tapi semua itu harus sirna karena penyakit kankernya. Ayahku meninggal dua tahun lalu. Meninggalkan aku dan kedua adikku.
 “Sabar…”
“Semua ini tidak akan terselesaikan dengan hanya sabar!!!!” bentakku. Ibuku hanya diam. Aku melihat kesedihan yang mendalam dimatanya.
Aku pergi dari rumah dan sampai disinilah aku, dipematangan sawah milik keluargaku dulu, yang biasanya aku dan ibuku menanam padi. Sekarang semua kadaan berbalik. Keluargaku tak sekaya dulu.
Ayah pekerja keras hingga mampu untuk membeli segalanya yang kami mau. Tapi kini semua habis karena aku dan adik-adikku tidak bisa mengubah gaya hidup kami, terutama aku.
Aku capek harus pulang pergi kekampus yang jaraknya tidak bisa dibilang dekat. Aku harus rela berkeringat sampai kampus dengan wajah kucel, karena harus jalan kaki untuk menuju kampus demi mendapatkan uang saku lebih. Dan aku juga sering menerima ejekkan dari teman-temanku karena hal itu. Aku sering telat dan ujung-ujungnya aku tidak diperbolehkan masuk kelas. Dan ibuku dengan mudahnya bilang sabar!! SABAR??!!
Dulu Ibu sempat menyuruhku untuk kuliah di-Mojokerto yang dekat dengan rumah. Karena aku malu dengan teman-temanku yang lain , aku tidak menghiraukan ibuku. Dan akhirnya aku kuliah diluar kota.
Aku menghela nafas panjang. Mencoba untuk mengurangi beban dihatiku. Aku masih mencerna setiap kata yang kuucapkan kepada ibuku. Orang yang sangat aku benci saat ini. Benci?? Pantaskah aku bilang seperti itu. Pada orang yang melahirkanku.
Kuedarkan pandangan kehamparan sawah dihadapanku. Menghirup udara sore ini, memasuki rongga hidungku sampai jantungku. Cukup untuk memberikan kehangatan dalam hidupku yang dingin  ini. Dunia yang dingin terhadap kehidupanku, terhadap keinginanku. Semua pura-pura buta , saat melihat penderitaanku. Tak ada yang mendengar detak kehidupan dalam jantungku.
“Aku ingin bertemu Ayah….”ucapku lirih.
“Bagaimana kabar Ayah disana? Ine, sedih disini…”
Kubuka lebar tanganku untuk menerima angin yang datang kearahku. Menerima setiap hembusan angin yang menerpa wajahku. Kututup mataku untuk lebih menikmatinya. Saat kubuka mataku, aku melihat kejadian yang menarik hatiku.
“Ibu….Ibu….gendong….”kumelihat seorang bocah yang merengek minta gendong pada ibunya.
“Iya, sayang… sini Ibu gendong…”dengan lembut Ibu itu menggendong buah hatinya dan membelai lembut rambutnya.
Kejadian itupun membuatku ingat akan masa lalu. Dulu aku juga seperti bocah itu. Merengek minta gendong. Dan sekarang aku tak pernah merasakannya lagi, setiap hari ibu menjadi buruh disawah dan aku selalu menolak saat ibuku membelai rambutku, karena tangan ibuku tak sebersih dulu, tak sewangi dulu.
Aku teringat wajah ibuku, saat aku bentak tadi siang. Tanpa terasa butiran air mataku menetes membasahi pipiku. Aku kangen Ibu. Aku ingin dipeluk dan dimanja seperti dulu.
Aku berjalan menyusuri pematang sawah. Kulangkahkan kakiku sedikit cepat. Aku ingin pulang. Pulang kepangkuan Ibuku. Kepangkuan orang yang bekerja keras untukku. Kepada orang yang selalu ada buatku.
Nak, Ine…,”
Ada yang memanggilku. Kuarahkan pandanganku ke sumber suara, Bu Martini.
“Ya,Bu. Ada apa?”
“Tolong ya bilang sama ibumu, suruh cepat-cepat lunasin hutangnya.”
            “Kalau saya boleh tahu, hutang ibu berapa ya,Bu?”
            “Dua ratus ribu.”
            Dua ratus?? Untuk apa Ibuku hutang uang sebanyak itu? Meskipun keluarga kami kurang mencukupi, tapi ibuku tak pernah hutang kecuali keadaan mendesak seperti waktu adik bungsuku sakit.
            “Lho, nak Ine ndak tau toh.. bukannya ibu nak Ine pinjam uang ke saya buat beliin nak Ine sepatu baru?”
            Sepatu? Aku ingat dua minggu yang lalu aku minta uang kepada ibuku untuk beli sepatu, dan ibuku memberiku uang lima puluh ribu. Aku menepis uang itu, hingga jatuh ketanah. Karena aku tahu uang sebanyak itu, tak akan bisa untuk membeli sepatu yang kuinginkan. Sepatu yang kugunakan sekarang.
            Tanpa berpamitan kepada Bu Martini, aku berjalan lagi. Aku benar-benar merasa bersalah pada ibu. Ibu yang rela hutang demi untuk membelikanku sepatu, yang sebenarnya aku tak terlalu membutuhkannya.
            Kulihat pintu rumahku, yang bedindingkan bambu. Aku segera membuka pintu itu. Kuarahkan pandanganku ke segala arah mencari sosok ibuku. Kulihat ibuku sedang membelai lembut rambut kedua adikku yang masih kecil-kecil itu, secara bergantian, menidurkan mereka.
            “Ibu…”saat kupanggil, ibuku menoleh. Kulihat wajahnya yang lelah, matanya yang lembut bagai malaikat pelindungku waktu kecil. Yang selalu membelaku saat aku dimarahi Ayah karena kenakalanku. Selalu selalu tersenyum saat aku takut karena mati lampu. Selalu menjadi orang pertama yang mengecup keningku saat aku bangun dipagi hari.
            Aku berlari dan kubenamkan wajahku dipangkuannya.
            “Ada apa toh nduk?”Tanya ibuku lembut sembari membelai setiap helai rambutku.
            “Ma..ma.afin…aku buuu….”ucapku disela tangisku. Aku terisak sejadi-jadinya. Tak peduli adikku yang terbangun karena mendengar tangisanku.
            “Iya…iya…. Anak Ibu tidak boleh cengeng. Ssstttsss….”ibu mencoba menenangkanku. Tapi rasa bersalahku, membuat tangisku tak bisa berhenti. Kumenangis dipangkuan malaikat pelindungku.
                        Ibu mengusap air mataku. “Sekarang kamu makan dulu, ibu sudah masakan ayam goring kesukaan kamu,”ucap ibuku sembari tersenyum.
            Aku mengadahkan kepalaku, dan kutatap wajah ibuku dengan terisak.
            Ayam goreng? Darimana ibu mendapatkan uang untuk membeli ayam goreng? Aku melihat tangan Ibu. Mencari sesuatu yang melingkar dijari manisnya. Tak ada. Cincin perkawinan Ibu. Satu-satunya kenangan dari Ayah untuk Ibu. Ibu menjual cincin yang tak pernah beliau lepaskan sebelumnya. Ibu melakukan ini hanya demi memberikan rasa nikmat sesaat untuk lidahku. Untuk anak durhakanya ini!!!
            Aku semakin merasa bersalah. Apa yang aku cari lagi? Padahal aku sudah memiliki harta paling berharga di dunia ini.
            Seharusnya bukan Ibu yang membahagiakan aku, melainkan aku.
           
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)