6.08.2013

Saksi Bisu Boneka Beruang


Larian kaki kecil Rindu memenuhi ruang tengah ini. Dia berputar mengelilingi meja makan oval dengan tiga kursi diantaranya. Rindu berlari sembari memainkan balon hijau muda yang dibelinya bersama kedua orangtuanya. Sesekali Rindu menghampiriku dan memainkan hidungku, lalu kembali berlari ke tengah ruangan.
            Seorang perempuan berumur 26 tahun keluar dari kamar diseberang ruangan. Dia mengenakan baju piama dengan wajah yang mengantuk dia memanggil putrinya, Rindu.
            “Sayang, ayo cuci tangan dan siap-siap tidur,”panggilnya. Rindu menghampiri mamanya tanpa meninggalkan balon yang masih dia genggam tali putihnya dengan erat.”Duh, keringat anak mama. Habis lari-larian ya?”Dara, mama Rindu, menunduk dan mengusap lembut dahi putrinya. Anak berumur 5 tahun itu mengangguk dan tersenyum memamerkan gigi ompongnya.
            “Balonnya ditaruh dulu, sayang. Sudah malam. Rindu bobo dulu, ya,” perempuan yang memiliki rambut hitam pekat bergelombang; yang diwariskannya kepada Rindu, meraih benang balon yang digenggam putrinya.
            “Jangan maaa… Lindu masih pengen main …”Rindu merengek, menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
            “Eh… eh… nurut sama mama. Mau dipanggilin Papa?”Dara menengok kedalam kamar.”Paaa, anakmu tidak mau nurut sama mama nih!”
            Laki-laki mengenakan piaya berwarna biru muda berdiri diambang pintu. Rambutnya yang sedikit panjang berantakan. Dia menghampiri Rindu dan Dara,”Ayo bobo sayang. Sudah malam. Papa sama mama juga sudah mengantuk. Rindu tidak boleh nakal.”ucap laki-laki itu mengusap lembut rambut Rindu dan mengecup keningnya. “Masih ingat kan, apa yang dikatakan Eyang?”Rindu mengangguk,”kalau Rindu tidak boleh membantah Mama Papa, nanti Rindu jadi anak durhaka.”
            Rindu menyerahkan balon digenggamannya kepada Dara. Dara mengantar Rindu kekamarnya yang bersebelahan dengan kamar miliknya dan Rizal, suaminya.
            Rizal duduk dikursi meja makan, lalu Dara datang dan memeluknya dari belakang.”Rindu sudah tidur?”
            “Sudah.”Dara menarik kursi disebelah Rizal. Dia memandang lelaki yang sudah dinikahinya selama enam tahun terakhir . Dia merasa beruntung memiliki suami seperti Rizal. Lelaki yang penuh kasih sayang, penuh dengan perhatian.
            Lelaki yang memiliki kumis tipis dan berhidung mancung itu, memandang istrinya. Melihat matanya, hidung mancungnya, lalu bibirnya. Didaratkan bibirnya ke bibir istrinya. “Kamu cantik,”ucapnya disela-sela ciumannya. Dara tersenyum manis.
            Pemandangan yang selalu aku lihat selama setahun ini. Mereka masuk kekamar dan menutup pintu.
***
            Sudah sejak pukul 5 pagi tadi Dara berkutat didapur dan bolak-balik ke meja makan meletakan nasi dan beberapa piring berisi lauk dan sayur. Dia melepaskan celemeknya dan pergi kekamar Rindu, untuk membangunkannya. Dia keluar dari kamar Rindu dan masuk kekamar sebelah mempersiapkan baju suaminya.
            Rizal keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Sesekali dia mengusap rambutnya, sehingga menyebabkan air dari rambutnya membasahi lantai. Saat itu Dara keluar dari kamar.
            “Papa, lantainya jadi basah kalau kayak gitu,”protes Dara.
            “Sedikit saja,sayang. Tidak menyebabkan rumah kita banjir juga, kan?”ucap Rizal sembari mencubit pipi Dara. Perempuan itu cemberut manja. Rizal berlalu memasuki kamar.
***
            Rizal terduduk lesu dikursi. Wajah yang biasanya memancarkan optimis kini berubah menjafi wajah yang penuh dengan kekesalan. Dia pulang lebih awal dari jam yang seharusnya. Dia membuka penutup makanan dimeja, dan dia semakin kesal karena tidak ada apapun disana.
            Mungkin Dara saat ini masih di Toko Kue dimana dia bekerja, dan akan pulang jam satu siang nanti setelah menjemput Rindu disekolah.
            Rizal meraih ponsel disaku bajunya,”Kamu dimana?”tanyanya sedikit membentak.”Selesai menjemput Rindu, kamu pulang!”Rizal terlihat gusar.”Nanti saja, kita bicarakan dirumah.”Rizal menaruh ponselnya dimeja, dan mengacak-acak rambutnya.
            Dua jam berlalu…
            Dara belum juga pulang, Rizal mulai terlihat gusar dan beberapa kali menghubungi istrinya. Tetapi tidak ada jawaban disana. Dia menaruh kembali ponselnya secara sembarangan dimeja, sehingga ponsel itu terpelanting kecil dan menabrak tempat sendok hingga membuat isi dari tempat itu tumpah. Tiga buah sendok dan tiga buah garpu berhamburan dimeja.
            Rizal tidak memperdulikan itu.
            Dia sibuk mondar mandir, mulai dari meja makan lalu masuk kedalam kamar, tak selang beberapa lama dia keluar dan kembali duduk kemeja makan.
            “Papaaaaaa…”teriak Rindu. Gadis kecil itu berhambur kepelukan Papanya. Rizal mencium kening putrinya.
            “Kamu masuk kamar dulu ya, sayang,”ucap Rizal. Dibelakang Rindu Dara menyusul dengan menenteng beberapa tas kantong plastik berwarna putih pucat.
            “Duh, Pa. Gila. Di Mall ada diskon gede!” seru Dara dengan wajah berseri.”Untung saja aku baru gajian, Pa.”lanjutnya lagi. Rizal hanya diam menatap istrinya. Dara menaruh barang-barang belanjaannya diatas meja. Lalu, menyadari ada yang tidak beres dengan raut wajah suaminya.”Ada apa, Pa?”
            “Dari mana kamu?!”hardiknya.”Saya tadi kan sudah bilang, seusai kamu menjemput Rindu segera pulang!”
            Dara terdiam,”Saya pergi belanja dulu, Pa. Keperluan kita sudah habis.”
            “Seharusnya kamu patuh kepada suami! Bukannya malah membantah seperti ini! Kalau saya bilang pulang , ya, pulang!!”
            Rizal terduduk lesu dikursi. Dara terlihat syok dengan perubahan sifat suaminya. Dia tidak mengerti apa kesalahan yang ia perbuat. Tidak biasa suaminya marah hanya karena hal sepele seperti ini.
            “Saya di PHK. Kamu tau?” suara Rizal mulai memelan.
            Dara semakin syok, dia menghampiri suaminya, dan mengelus bahunya.” Maafin, Dara , Pa.”
            Rizal menepis tangan Dara dan pergi keluar rumah.
***
            “Kamu seharusnya mengerti diposisi aku seperti apa, Ra!”Rizal memukul meja makan, membuat piring kosong dihadapannya terpelanting pelan.
            “Tetapi kamu juga jangan salahin saya terus, Pa!!”Dara mengkerutkan dahinya. “Sudah dua bulan Papa tidak menafkahi kita! Tapi, Papa masih saja menyalahkan Mama! Mama capek, Pa!”
            “Kamu kan, tau sendiri? Aku belum juga dapat pekerjaan!”
            “Makanya cari, Pa! Cari!!”
            Rizal geram melihat kelakuan istrinya, tanpa sadar tangan kanannya mendarat dipipi kiri Dara.
            Dara memegangi pipi kirinya, sorot matanya tajam. Mereka saling menatap dengan emosi yang memuncak. Tanpa mereka sadari sedari tadi, Rindu putri kecil mereka menyaksikan semua kejadian itu. Rindu memegangi rok sekolahnya hingga lecek. Dia ketakutan melihat orangtuanya bertengkar.
            Dara masuk kedalam kamar, diikuti oleh Rizal. Pertengkaran mereka belum usai, didalam kamar terdengar bentakan-bentakan yang aku dengar selama dua bulan terakhir. Semenjak Rizal di PHK, keharmonisan rumah ini mulai pudar.
            Rindu yang masih diam diambang pintu kamarnya berlari kearahku, dan memelukku. Kurasakan detak jantungnya menderu, bahu kecilnya terguncang. Aku mendengar isak tangis dari gadis kecil ini. Rumah ini telah berubah. Tidak seindah pertama kali aku berada disini.
            Aku merindukan teriakan ceria milik Rindu, saat pertama kali melihatku dipasar malam setahun yang lalu,” Papaaa…. Maamaa… Rindu mau boneka beruang itu,”teriaknya sembari menujuk stan dimana aku dipajang.”Lucuuuu…”
            Sudah seminggu aku melihat orang-orang melewatiku tanpa melihatku dipasar malam, sampai gadis kecil itu menyeret kedua orangtuanya untuk mendekat. Akupun dibawa pulang bersama mereka dan diletakkan diatas rak buku diruang tengah. Dan disinilah aku melihat semua kejadian diruang tengah rumah ini.
            “Aku rindu Papa dan Mama yang dulu,”ucap Rindu terbata. Dia masih memelukku.
            Aku masih berharap bisa melihat keharmonisan rumah ini kembali. Meskipun, aku sendiri takut, akan menjadi saksi bisu kehancuran rumah ini.

Wulan Sari,
Surabaya, 09 Juni 2013
09:51

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)