8.22.2013

Mungkin



Aku duduk di sudut sebuah kafe. Kafe yang memiliki Desain Interior Modern, dengan berbagai menu pilihan kopi dalam berbagai jenis.
     Sepulang dari kantor aku selalu berada di sini. Di sudut yang sama, menu yang sama – espresso dengan meminta dua gula merah dan seporsi kentang goreng dengan ekstra mayones keju­­­- dan sebatang rokok terselip di antara jari-jari kiriku. Sedangkan, jari kananku sibuk memainkan Blackberry. Entah Facebook atau hanya mengecek timeline Twitter. Tidak ada sms atau pun telepon. Aku bukan orang terkenal apalagi, orang sibuk.
     Aku duduk di sini menunggu seseorang. Bukan teman atau kenalan lama. Tetapi, seseorang yang sedang sendirian-sama sepertiku- dan rela membagi waktunya untuk berbincang denganku. Dan tentunya, melewatkan malam bersama.
     Tristan, pacarku, sedang melanjutkan pendidikan S2-nya di Jepang, dua bulan lalu. Sejak saat itu, aku mulai melakukan ini; berhubungan intim dengan orang yang sama sekali tak kukenal.
     Bukan uang alasan mengapa aku melakukan ini. Pekerjaanku sudah cukup membuat perutku buncit. Bahkan, tanpa aku minta saldo tabunganku akan bertambah setiap bulannya. Hanya saja, hasrat itu muncul begitu saja, saat ada lelaki memandangiku dan tentunya kami sama-sama menginginkannya.
     Kami akan berbincang hingga larut, dan terbangun di hotel atau apartemen esoknya. Setelah itu, kami akan berpisah tanpa mengenal satu sama lain.
     Bahkan, jika salah satu dari mereka berpapasan saat kami kebetulan bertemu. Kita akan lewat begitu saja seperti layaknya orang yang tak pernah saling bertemu. Mungkin, aku memang tak dikenalinya atau memang mereka benar-benar sudah melupakanku. Aku tidak peduli akan hal itu.
     “Boleh aku duduk di sini?”
     Seorang lelaki dengan rambut tersisir rapi, kemeja biru tua yang lengannya terlipat hingga ke siku, dan celana jins hitam, berdiri tepat di depanku. Dia memamerkan gigi gingsulnya.
     “Aku tahu banyak kursi kosong di sini. Tetapi, kulihat kamu sedang sendirian,”dia berkata kembali saat aku tak kunjung membuka mulut.”Kamu tidak sedang menunggu seseorang, kan?”
     Kutekan putung rokokku di asbak, dan berkata,”Ya. Aku menunggu seseorang. Dan orang itu kamu.”Kataku, jujur. “Duduklah.”
     Lelaki itu tersenyum. Sekarang aku bisa melihat lesung pipi di pipi kanannya dan sedikit bulu di dagunya. Dia duduk di kursi kosong tepat di depanku.
     Tidak ada yang memulai perkenalan. Aku pun enggan menanyakan namanya. Aku tidak sedang mencari pasangan atau berkeinginan menggantikan posisi, Tristan, di hatiku. Aku hanya butuh teman, yang berkeinginan sama denganku.
     Lelaki itu, seorang seniman. Pelukis tepatnya. Dia baru saja mengadakan pameran tunggal di galeri tepat di depan kafe ini. Beberapa lukisannya terjual dengan harga fantastis. Tetapi, itu tidak membuatnya puas.
     “Bukan uang yang aku cari. Aku hanya ingin orang lain merasa bahagia saat melihat lukisanku.”
     Aku tersenyum. Obrolan kami pun bergulir ke arah makanan kesukaan kami. Aku menyukai kue lumpur dan dia tertawa terbahak.
     “Kenapa?”tanyaku.
     “Aku punya toko kue langganan dekat rumahku,”dia menyebutkan alamat toko kue tersebut.”Toko itu menyediakan berbagai roti dan ada kue lumpur juga,”dia menyeringai. Kuambil rokok milikku dan kusodorkan kepadanya. Dia menggeleng.”Aku tidak merokok.”aku meminta maaf.”Aku masih bisa membayangkan rasa kue lumpur yang melumer di lidahku. Manis dan lembut. Aku juga menyukainya.”
     “Aku harus mencoba ke sana.”
     “Harus.”

***
     Entah, pukul berapa kami beranjak dari kafe itu. aku tidak terlalu mengingatnya. Yang kuingat tadi malam hanya, kami berbincang hingga pengunjung kafe mulai pergi satu-satu dan kami menginap di hotel dekat kafe tersebut.
     Hotel yang sama. Yang sering aku kunjungi saat malam.
     Dia menggeliat di sampingku, bau keringat tercium kental. Entah, keringat siapa- aku atau dia. Dia terbangun dan tersenyum. Lalu, memunguti pakaiannya yang berserakan, pergi ke kamar mandi, dan kembali dengan wajah yang segar.
     “Kita belum berkenalan,”ucapnya. Dia duduk di tepi ranjang, satu kakinya disila di atas, dan satunya menjuntai ke bawah. Aku masih berusaha menutup sebagian tubuhku dengan selimut.
     “Tidak perlu.”
     Dia menautkan kedua alis tebalnya.”Kenapa? Apa kamu tidak memiliki sebuah nama?”
     “Aku benci perkenalan,”jawabku. Aku mengingat beberapa lelaki yang bersama denganku. Mereka akan memunguti pakaian dan pergi begitu saja. Tidak ada yang ingin tahu namaku. Aku pun juga tidak.”Karena setiap ada perkenalan. Akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Dan pada akhirnya, saat kita sudah bosan satu sama lain. Salah satu dari kita akan membuat alasan untuk putus kontak.”aku menghela napas.”Dan akhirnya, kita seperti orang yang tidak pernah mengenal sama sekali. Bukankah, ini akan menjadi endingyang sama?”
     Dia tersenyum. Mengusap-usap rambut basahnya. Kemeja biru tua miliknya sedikit basah. Aku bisa melihat dada bidangnya, karena dua kancing kemejanya tidak ditautkan. Aku jadi teringat tentang malam tadi.
     “Aku ingin bertemu lagi,”ucapnya. Aku tersenyum getir.”Dan, jika saat itu tiba, aku ingin tahu namamu.”
     Kuputar bola mataku. Kuraih sebatang rokok di meja dekat ranjang. Dia meraih pergelangan tangannku.”Rokok itu bisa membunuhmu secara perlahan, cobalah untuk berhenti.”
     Aku terbahak. Selama aku merokok tidak pernah ada yang melarang. Bahkan, orangtuaku tidak pernah peduli. Mereka hanya memikirkan klien-klien penting mereka, atau berkunjung keluar negeri hanya untuk menengok perkembangan bisnis mereka.
     Aku tetap menyalakan ujung rokok di tanganku. Tanpa mempedulikan dia. Lalu, menciptakan kepulan asap putih tepat di depan wajahnya. Dia sedikit mengenduskan hidungnya. Aku menyeringai.
     “Boleh aku mencium keningmu?”ucapnya lagi. Dia menatapku tepat di kedua bola mataku. Kami semalaman melakukan hubungan intim, tetapi dia tidak meminta ijin terlebih dahulu. Dan sekarang, untuk mencium keningku dia meminta ijin?
     “Boleh.”Jawabku datar. Kepalanya mendekat. Menyibakkan poniku, dan mendaratkan bibirnya di sana. Mataku terpejam. Dan, ini ciuman terhangat yang pernah kurasakan. 
     Dia melepaskan ciumannya. Aku tergelak. Seakan tidak menginginkan dia melepaskannya. Namun, aku sadar, kami tetaplah dua orang asing. Dia tersenyum, lalu pergi dan menghilang di balik pintu kamar hotel.
     Selama aku bermain dengan lelaki, mereka akan memberiku setumpuk uang atau pun selembar cek. Aku selalu menolak. Tetapi, pria ini berbeda. Dia memberiku sebuah ciuman hangat tepat di keningku. Aku tahu, dia bukan orang pelit. Karena apa yang ia cari bukan  hanya untuk uang - sama sepertiku.
     Selama berminggu-minggu sesudah itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Bahkan, saat aku berada di kafe, aku tidak menemukannya. Aku tahu, dia bukan pelanggan tetap kafe ini.
***
     Sejak pertemuanku dengannya, aku berhenti bermain-main dengan lelaki. Bahkan, aku mulai mengurangi asupan rokokku. Entahlah, untuk apa kulakukan ini. Hanya saja, aku merasa bosan dengan semua ini. Semua terlihat sama.
     Tristan, menghubungiku, berkata tidak mencintaiku lagi. Kami putus. Aku kecewa? Iya. Sedih? Entahlah. Semua seperti hal biasa bagiku. Tristan, lelaki sama seperti kebanyakan lelaki di dunia ini. Aku memakluminya, jika dia mendapatkan gadis jepang yang lebih putih dan bersinar dari pada aku. Gadis dengan badan kurus dan berkulit pucat. Mataku yang selalu redup dan sayu, berbeda dengan gadis jepang yang selalu memamerkan senyum lebarnya dengan mata berbinar-binar.
     Kuhentikan mobilku di sebuah toko kue. Tidak besar. Hanya saja, toko ini ramai. Jadi, kupikir toko ini memiliki rasa kue yang enak. Aku jadi ingin makan kue lumpur, kuharap toko ini memilikinya.
     Pramuniaga tersenyum ramah kepadaku, bertanya apa yang kuperlukan. Setelah kusebutkan apa yang kubutuhkan, pramuniaga itu membungkus beberpa kue lumpur pesananku. Ternyata, toko kue kecil ini, menyediakan kue kesukaanku itu.
     “Terima kasih,”kataku setelah membayar pesananku.
     “Hai… Apa kabar!!”teriak salah seorang pramuniaga. Teriakannya mengalihkan perhatianku. Mataku membulat saat tahu siapa yang dipanggil pramuniaga itu.”Pesan kue lumpur lagi? Ahh, kenapa kamu jadi suka kue lumpur seperti ini?”lanjut pramuniaga itu. “Bukankah, biasanya kamu hanya membeli kue kering untuk, Ibumu?”
     Lelaki itu tersenyum. Memamerkan gigi gingsulnya, dan lengsung pipinya. Dia melihat ke arahku. Mata kami saling bertemu. Wajahku memanas, perutku terasa penuh.
     “Hai…”sapanya. “Kamu membeli kue lumpur di sini. Akhirnya…”
     Akhirnya??
     Oh, mungkin ini toko kue yang dia ceritakan waktu itu.”Aku tidak sengaja lewat sini.”Ucapku.
     “Di dekat sini, ada sebuah kedai kopi. Mereka mempunyai espresso yang tidak kalah enak dengan kafe langgananmu. Bagaimana kalau secangkir dengan kue lumpurmu itu?”
     Aku tersenyum. Mungkin, pria ini bukan termasuk pria yang hanya memunguti pakaiannya, dan pergi begitu saja dengan meninggalkan setumpuk uang, dan tanpa menginginkan aku lagi. Mungkin, pria ini, bukan pria yang hanya berjanji akan menghubungiku secara berkala dan menghilang tanpa kabar. Dan, mungkin pria ini adalah pria yang kucari setelah, Tristan, tidak mencintaiku lagi.
     Mungkin, pria ini yang akan mencintaiku kelak.
     Mungkin.
     “Zey.”
     “Ael.”


Surabaya, 22 Agustus 2013
Wulan Sari


1 komentar:

Terima kasih sudah berkomentar :)