9.18.2014

#30HariNgeblog: Masih Sama

"Kau pernah mencintai seseorang dengan begitu dalam?"tanyamu waktu itu. 
        Aku meraih cangkir teh yang berada di atas meja. Di antara kami."Entahlah."jawabku.
       Kau menarik sudut bibirmu, merenggangkan badan, dan melihat ke arahku. Parasmu masih sama seperti dulu. Ayu keibuan.
       "Aku pernah."katamu."Sebelum kita berpacaran."kalimat terakhirmu membuatku terkejut. Kupikir kau sudah melupakan bahwa kita pernah bersama. Ternyata tidak. Berpisah selama empat tahun ternyata tidak bisa menghapus ingatanmu tentang kita.
        "Kau belum pernah menceritakannya padaku."
        Kau tertawa lepas. Bibirmu merekah dan deretan gigi berbentuk dadu milikmu terlihat jelas.
        "Untuk apa aku menceritakannya? Toh, aku sudah mendapatkannya!"
  Kutautkan kedua alisku. Kubasahi bibirku sendiri. Mendadak ucapanmu membuatku membeku."Maksudmu?"kataku meminta penjelasan.
         "Ya. Laki-laki itu kau!"jawabmu ceria.
         Aku hanya diam. Terus terang aku terkejut. Lalu, kau tertawa lagi."Aneh ya?"kau menarik napas dan menghembuskannya bersamaan dengan senyummu."Aku sangat mengagumimu. Di mata seorang anak sekolah menengah pertama, kau begitu sempurna. Kupikir setelah aku mendapatkan kekasih, aku akan melupakan rasa kagumku padamu. Nyatanya tidak. Justru karena itu kita semakin dekat."ceritamu mengenang masa lalu kita."Kau tahu bagaimana bahagianya aku ketika kau mengatakan mencintaiku?"kau tertawa."Sangat bahagia!"serumu. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Bukan karena tidak peduli, tetapi aku terkejut kau baru menceritakannya sekarang.
         Kau merenggangkan badanmu lagi."Sayangnya, kita tidak ditakdirkan untuk bersama."desahmu. Kau terlihat kecewa. "Seharusnya aku tidak meninggalkanmu waktu itu. Tapi, bagaimana lagi? Sekuat apapun kita berusaha memungkiri kenyataan, nyatanya kau memang sepupuku."aku tersenyum kecut."Dan, apa kau tahu?"kau menaikkan satu alismu. Bibirmu tersenyum manis."Kepergianmu selama empat tahun tidak bisa mengikis perasaanku padamu."
          Aku menatapku lekat. Aku hendak membuka mulutku, namun seorang lelaki keluar dari dalam rumahmu, memelukmu dari belakang dan mendaratkan kecupan manja di bahumu.
          Aku mendesah. Baru saja aku mau mengatakan padamu, kalau perasaanku tak pernah berubah.
         


Postingan ini untuk meramaikan #30HariNgeblog

1 komentar:

Terima kasih sudah berkomentar :)