9.11.2014

#30HariNgeblog : Secangkir Cokelat dan Hujan


Hujan kian membesar di luar sana. Menghantam atap rumah dengan keras. Menimbulkan suara yang kerap kali membuatku menggigil. Aku tidak pernah suka akan hujan. Semua akibat dari perbuatannya membuatku ngilu dan ketakutan. 


Alasan yang kuat kenapa aku tidak menyukai hujan adalah secangkir cokelat di sudut kafe yang bergaya vintage. Kursi-kursi terbuat dari kayu jati, sofa merah menyala, meja memanjang dengan ukiran bunga di permukaannya, dan lampu-lampu bergelantungan di langit-langit. 

Ketika itu, aku menikmati secangkir cokelat hangat sembari menunggu pujaan hatiku datang. Kami sudah berjanji akan bertemu di sini, menikmati secangkir cokelat bersama. Sudah sekian lama aku menanti kesempatan ini. Aku sudah membayangkan kami akan membicarakan mengenai aroma cokelat kesukaannya, musim panas, dan bunga-bunga mawar di taman kota. Atau bahkan kami akan membicarakan mengenai bau tanah sehabis hujan.

Sayangnya, itu semua hanya angan semata. Dia tak kunjung datang, hingga aku memesan secangkir cokelat lebih dulu. Tubuhku mengigil karena menunggunya terlalu lama. Namun, kehangatan dari secangkir cokelat dalam genggamanku membuatku setia menunggu.

Tak selamanya kehangatan itu akan bertahan. Sejalan dengan hujan yang kian membesar, kehangatan dalam secangkir cokelat itu menguar. Tak selang beberapa lama ponsel yang kuletakkan di atas meja berdering. Namanya tertera di layar ponselku. Senyumku mengembang, namun hanya beberapa detik.

"Hujan deras. Aku tidak bisa datang. Maaf."

Kehangatan cokelat di tanganku berpindah pada kelopak mataku. Kemudian pipiku. Segera aku berlari keluar kafe dan menerobos hujan. Kutinggalkan secangkir cokelat yang belum setetes pun aku mengecapnya bersama dengan hujan yang tak kenal waktu.













"Postingan ini untuk meramaikan #30HariNgeblog"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)