11.21.2014

Di Balik Secangkir Kopi


             Persahabatan kami sudah terjalin selama dua tahun terakhir. Sejak kami sama-sama memutuskan untuk menetap di sebuah indekos  di kawasan  kampus. Untuk mempermudah mengerjakan tugas-tugas kuliah yang mulai menumpuk, kata mereka.
            Sebelum pergi ke kampus kami akan menyantap setangkup roti isi dan secangkir kopi. Aku-lah orang yang mencetus kebiasan dengan mengkonsumsi secangkir kopi setiap pagi, sebelum pergi ke kampus.
            Retno, teman kami yang berasal dari Yogyakarta menyukai seduhan kopi Nescafe 3 in 1 Creamy. Rasa yang lembut, manis, dan sedikit pahit. Sesuai dengan kepribadiannya yang kalem dalam bertutur kata dan anggun dalam bertindak.

            Ella, temanku yang berasal dari Surabaya lebih menyukai aroma kopi Nescafe 3 in 1 dengan rasa yang original. Menggambarkan dirinya yang berperilaku apa adanya dan selalu berpikir realistis.
            Yuli, teman kami yang berasal dari Jakarta, perempuan yang tak menyukai basa basi, berpendirian teguh, dan tutur katanya yang tegas. Lebih menyukai kopi Nescafe 3 in 1 dengan rasa yang strong.
            Sedangkan, aku sendiri lebih menyukai Nescafe Classic. Sesuai dengan kepribadianku yang sederhana, serasi, dan tidak berlebihan.
            Rasa dalam pilihan kami masing-masing membawa kami dalam kehidupan dalam satu atap. Rasa manis, pahit, gurih, dan lembut yang terkandung dalam kehidupan kopi kami berbaur menjadi satu yang mengikat kami menjadi sahabat.
            Seperti halnya pilihan mereka terhadap seduhan secangkir kopi setiap pagi, mereka memiliki kehidupan masing-masing ketika studi kami telah usai. Ella mendahului kami semua untuk menikah. Yuli kembali ke Jakarta untuk memulai bisnisnya. Dan, Retno menetap di Malang bersama suaminya.
            “Apa, pilihanmu, Lan?”tanya Ella suatu ketika kami sedang berbincang melalui pesawat telepon.
            “Nescafe classic tanpa gula.”jawabku sekenannya sembari menggenggam secangkir kopi Nescafe classic yang masih hangat.
            “Aku tahu.”kata Ella di ujung telepon. “Apa kau mau tetap pada pilihan rasa itu? Tidak mau berubah?”
            “Tidak.”jawabku. Singkat dan sederhana.
            Kudengar Ella mendesah. “Sampai kapan?”
            “Jika kau di posisiku, apa kau mau mengubah pilihan rasamu yang sudah mendarah daging dalam hidupmu?”tanyaku balik.
            “Kami berbeda denganmu.”ucap Ella. “Kami memilih rasa dengan gabungan antara manis, pahit, lembut dalam satu kesatuan. Dan, kau hanya pahit. Hanya rasa pahit yang kau kecap.”Ella mengambil jeda. “Tak selamanya kau harus mengecap perasaan pahit itu. Lepaskan yang sudah pergi. Relakan yang sudah tiada.”
            Aku merenung. Mengingat kenangan sebelum aku bertemu sahabat-sahabatku. Sebelum kedatangan mereka, setiap sore aku akan menikmati secangkir kopi Nescafe classic bersama, Lim, kekasihku. Namun, lelaki itu pergi. Membiarkan aku menikmati secangkir demi secangkir kopi pahit ini sendirian.
            “Pikirkan kembali.” Suara Ella di ujung telepon menyetakku. “Kami mencintaimu. Seperti kami mencintai pilihan rasa kami.”
            Ella mengakhiri sambungan telepon. Aku masih menggenggam secangkir kopi Necafe Classic yang mulai membeku. Aku mendesah. Mereka tidak pernah tahu, jika aku tetap pada pilihanku karena itulah cara satu-satunya mengenang kenangan manis yang tersisa.
            Mereka tidak tahu, di balik secangkir kopi Nescafe Classic ini, terselip rasa manis yang memikat. Dan, dengan rasa pahit yang terkandung dalam kopi itulah, yang membuatku tetap merasa hidup. Tak seorang pun akan mengerti, kecuali diriku sendiri.


 ***

Tulisan ini diikutsertakan dalam 
Kompetisi Tulisan Pendek Cerita #DiBalikSecangkirKopi yang diadakan oleh NESCAFE Indonesia

Twitter : @woelancywol
Facebook : Wulansari



4 komentar:

Terima kasih sudah berkomentar :)