12.20.2014

Cerita Tentang Hujan (2): Payung Merah



taken from link

Akan selalu ada tangan-tangan yang terulur ketika hujan turun. Mencoba memahami pesan dalam setiap tetes air surga itu. Dan, akan selalu ada tangis yang mengalir, bersamaan dengan setiap bulir tetesan hujan membasahi pucuk-pucuk daun akasia.

Hujan selalu membawa cerita sendu di setiap tetesnya. Di sana, awan hitam menggelantung dengan muram siap menumpahkan isinya. Hujan memiliki peran mengenai arti kesendirian, pengkhianatan, terabaikan, dan setiap tetes air mata. 

Muram.


Itulah hal yang selalu kutangkap melalui tetesan hujan di luar jendela apartemenku. Menatapnya membuatku mendesah pelan. Mengingatkan akan hujan pada tahun-tahun sebelumnya. Aku selalu membenci hujan, namun tak kuasa menahan diri untuk tidak menikmatinya. 

Payung berwarna merah tomat itu tergeletak di sisi pintu. Menawarkan diri sebagai perlindungan paling mutlak ketika hujan turun. Awalnya, aku hanya ingin menikmati hari liburku dengan secangkir cokelat panas dan duduk di tepi jendela. Tepat di bawah sana, ada sebuah kafe mungil yang terkesan tua. Setiap harinya aku bisa melihat orang-orang keluar masuk dari dahan pintu berwarna cokelat muda itu. Selalu ada denting ketika dahan pintu itu terbuka maupun tertutup. Kemudian hujan turun membuatku ingin menjajah jalan setapak di depan apartemen. Menikmati hujan di bawah payung merah.

Sebelum payung merah itu berada di sana, aku membenci hujan seperti aku membenci masa laluku. Ketika hujan datang, ia selalu membawa cerita masa lalu. Seakan menjadi pengingat malam itu. Hujan tak ingin membuatku lupa akan jasanya. Kemudian payung merah itu hadir. Tepat di depan pintu apartemenku. Tanpa nama pengirim. Hanya ada sebuah pesan yang ditulis di atas kertas yang terlipat. 


Dia bisa menjagamu

Seketika itu aku tahu. Sudah waktunya aku berhenti menunggu hujan mereda. Sudah waktunya untukku berhenti takut berjalan di bawah hujan. Payung merah itu bisa menjagaku. Bisa melindungiku. Maka, sejak itu aku akan selalu berada di bawah naungan warna merahnya ketika hujan turun.

Seperti sekarang. 

Aku hanya berdiri di bawah hujan sembari memegang erat tangkai payung dengan kedua tanganku. Merasakan setiap tetes hujan yang menghujani payungku. Seakan aku berkata pada hujan, dia tak bisa menyakitiku ketika aku memiliki payung ini. 

Beberapa menit kemudian, aku menyerah pada dinginnya hujan. Alih-alih kembali ke dalam apartemen, aku justru berlari menyeberang jalan untuk sampai di depan sebuah toko alat tulis yang kini tertutup rapat. Berdiri di bawah naungan kanopi toko itu. 

Kuulurkan tanganku untuk merasakan kembali setiap tetesan air hujan. Seakan-akan aku adalah gadis yang terjebak dalam hujan dan menunggu hujan reda. Namun, mereka tidak tahu, bahwa aku adalah gadis pembenci hujan sekaligus penikmatnya. 

Ketika aku merasakan ada seseorang di sebelahku, aku menurunkan tanganku. Menoleh ke arah kiri. Kudapati seorang lelaki dengan tas punggung yang terlihat basah, begitu juga dengan helaian rambut dan wajahnya. 

"Terjebak hujan?"tanyaku. Lelaki itu terkesiap dan membalas pertanyaanku dengan gugup.

"Ha? Iya,"dia tersenyum. "Cuaca sedang tidak stabil."

Aku tersenyum kecil. Berjalan menghampirinya. "Aku suka hujan turun,"kataku setelah sampai di sebelahnya. 

"Hujan bikin suasana muram,"ucapnya. Aku setuju, tetapi tidak membenarkan.

"Kamu salah. Hujan itu mengantarkan kerinduan dari langit,"balasku. Dia menautkan kedua alisnya.

Kerinduan akan masa lalu.


"Rindu?"

Aku mengangguk."Suatu hari, saat hujan turun. Kamu akan mengingat pertemuan pertama kita."

Aku berdiri di depan lelaki itu mengulurkan tangkai payung ke arahnya. "Kurasa hujan masih akan turun lama. Bagaimana kalau aku mengantarmu sampai depan sana."

Awalnya, dia terlihat ragu, namun kemudian mengangguk. Aku tersenyum. Kami menerobos hujan bersama payung merah milikku. Entah untuk apa, hanya saja aku ingin berbagi perlindungan melalui payung ini. Untuk lelaki tanpa nama itu.




 photo Ullan2.png

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)