12.22.2014

Cerita Tentang Hujan (3) : Lelaki Tanpa Nama

taken from link



Awan Nimbostratus masih menghiasi langit , ketika aku berlari kecil dari  butik ke apartemen. Langit sedang tidak bersahabat akhir-akhir ini. Selalu saja ada alasan untuk memberi kami sapaan sendu dari setiap rinai hujan atau sekedar langit pucat. Mungkin, karena bulan Desember atau mungkin karena terlalu banyak orang mengeluh akan teriknya sinar matahari.


Jarak butik dengan apartemenku bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama lima belas menit. Begitulah untungnya memiliki apartemen di pusat kota. Kau tak harus bersusah payah menunggu angkutan umum atau terjebak macet. Aku suka berjalan kaki, maka aku memilih tempat ini sebagai tempat tinggalku.


Meskipun jarak antara butik dan apartemen tidak terlalu jauh, tatkala demikian rintik hujan tetap saja membasahi coat cokelat muda milikku dan sepatu bot yang baru saja kudapatkan dari seorang teman di Malaysia. 

Hari ini aku bertekad menerobos hujan tanpa payung untuk sampai di apartemen. Iche, rekan kerjaku sempat menawarkan payungnya, namun aku menolak. Ia tahu aku tidak suka hujan turun karena akan membuatku berwajah muram. Aku berkata padanya bahwa aku akan baik-baik saja. Di luar hanya gerimis, tidak akan menyakitiku. Dia mendesah, kemudian mengangguk memaklumi.

Aku sampai di apartemen tepat pukul dua siang. Awan putih gelap di luar sana masih pada tempatnya. Tidak bergeming. Kulepaskan coat milikku dan kuletakkan di belakang pintu dan segera membersihkan diri ke kamar mandi. 

Aku masih mengenakan jubah mandi ketika selesai membuat secangkir teh hangat. Segera aku menuju tepi jendela dan duduk di atas kusen jendela. Kupandangi kaca jendela yang memburam karena embun yang diakibatkan oleh air hujan. Kupandangi kafe tua yang berdiri tepat di bawah sana, di depan apartemenku. Mencari sosok lelaki tanpa nama yang membawa payung berwarna merah. Ya, setelah pertemuan kami yang kemarin, aku meminjaminya payung merah milikku karena hujan turun begitu deras dan tak ada tanda-tanda akan berhenti. Lelaki itu berjanji akan mengembalikan payung itu hari ini, pukul tiga sore di kafe itu.

Maka, aku menunggu dia muncul.

Kehangatan dalam cangkir tehku berkurang ketika jam dinding menunjukkan pukul tiga tepat. Namun, aku belum juga melihat sosok lelaki tanpa nama itu. Hanya ada satu dua orang yang keluar masuk kafe. Rata-rata umur mereka sudah terlalu tua terkadang justru seorang remaja SMU. Lelaki tanpa nama itu belum terlihat. 

Apa aku harus menunggunya di dalam kafe saja?


Mungkin sebaiknya seperti itu. 

Aku segera mengganti jubah mandiku dengan gaun selutut berwarna kuning cerah dan meraih coat yang kugantung di belakang pintu tadi. Kakiku berlari kecil menuruni anak tangga dan dalam waktu sekejap aku sudah sampai di lobi apartemen. Dan, di sana aku sudah mendapati lelaki tanpa nama itu. Berdiri di depan kafe dengan satu tangan memegang payung merah dan tangan lainnya dimasukkan ke dalam salah satu saku celananya. Kepalanya mengarah ke atas menatap kamar apartemenku.

Detik berikutnya, lelaki itu menyadari kehadiranku. Aku tersenyum, begitu juga dengan dirinya. 

Dia berlari kecil menyeberangi jalan, namun lelaki itu tak menyadari ada sebuah taksi dari arah kiri melaju kencang. Aku hampir saja berteriak kalau saja supir taksi itu tidak sigap menginjak rem. Supir taksi itu mengumpat pada lelaki tanpa nama itu. Lelaki itu menunduk sedikit sebagai permintaan maaf. 

"Kamu bisa saja celaka tadi,"kataku, setelah ia berada di depanku.

Dia mengusap belakang kepalanya, tersenyum kecil, "Untung saja, tidak."

Aku mengulas senyum. Lelaki itu tidak terlihat syok atau pun takut. Justru jantungku yang masih melompat-lompat karena kejadian barusan. 

"Sepertinya, kamu perlu minum,"kata lelaki tanpa nama itu setelah memerhatikan wajahku yang mendadak pucat. Aku tersenyum dan mengangguk.

Lelaki itu menaungkan payung di tangannya ke arahku. Kami menerobos hujan bersama menuju kafe tua itu. Pintu kayu kafe itu berdenting tatkala lelaki tanpa nama itu membukanya. Dia tersenyum sembari mempersilakan aku masuk terlebih dahulu.

Pengunjung kafe yang lain lebih memilih berada di tengah-tengah ruangan agar lebih hangat sedangkan kami duduk di tepi jendela. Jendela kafe itu terbuat dari kayu berbentuk setengah lingkaran di bagian atas dan persegi di bagian bawah. Bagian atas jendela tanpa kaca sehingga udara luar bisa masuk dan membuat ruangan semakin dingin. Meskipun begitu, kami lebih menyukai posisi ini. Kami bisa melihat rintik hujan di luar sana dengan kendaraan yang berlalu lalang.

"Aku heran, setiap kali kita bertemu hujan selalu turun,"lelaki itu membuka mulut ketika pramuniaga sudah mengantarkan pesanan kami. 

"Kita baru dua kali bertemu,"selaku. "Belum tentu pada pertemuan kita selanjutnya hujan akan turun."Aku mengambil segelas cokelat panas milikku. Aroma cokelat menguar dari cangkir di tanganku. Segera kutiup pelan kemudian kusesap sedikit. "Lagi pula,"aku meletakkan cangkirku ke atas meja,"ini Bulan Desember. Wajar hujan turun setiap hari."

Lelaki di depanku itu tersenyum. Menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Aku hanya merasa, kita sudah sering bertemu."

"Mungkin, di masa sebelumnya kita sudah saling mengenal. Dan, hujan membawa cerita mengenai kita di masa itu,"sahutku. Kami tertawa tanpa suara. Udara semakin dingin, aku segera merapatkan coat yang kukenakan dan menyesap kembali cokelat panas di depanku, sebelum cokelat itu membeku.

"Atau mungkin kita sudah saling mengenal sebelumnya,"dia mengambil jeda, "memiliki sejarah di masa lalu dan memutuskan untuk saling melupakan."

"Lalu, bagaimana cara kamu menjelaskan mengenai, aku sama sekali tidak mengingat kapan kita bertemu sebelum kemarin?"aku mengangkat satu alisku.

"Mungkin, kita menghapus memori otak kita mengenai sejarah kita itu."

Aku tertawa,"Kamu pikir kita sedang dalam adegan film Eternal Sunshine of the Spotless Mind?" Itu adalah sebuah judul film Amerika yang dirilis tanggal 19 Maret 2004 silam. Menceritakan mengenai Joel Barish dan Clementine yang menghapus ingatan mereka.

Dia mengangguk sembari tertawa kecil,"Ya, kamu Clementine."

"Baiklah, Joel Barish. Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang di saat kita sama-sama tahu bahwa kita dulu pernah memiliki kisah?"tanyaku sembari terkekeh.

Lelaki itu tersenyum,"Menceritakan tentang diri masing-masing. Mungkin saja dengan demikian ingatan kita akan kembali secara perlahan."

Aku tertawa. Awalnya, kupikir dia hanya bercanda mengenai hal itu. Namun, lelaki tanpa nama itu (atau sebut saja dia Joel) memulai ceritanya mengenai kecintaannya akan fotografi. 

Percakapan kami bergulir hingga memakan waktu. Cangkir-cangkir kami telah terisi ulang hingga tiga kali dan piring-piring yang tadinya berisi kentang goreng telah tandas. Di sana, pada sudut ruangan kafe terdapat jam dinding berukuran besar yang menunjukkan pukul sembilan malam. Kami belum juga beranjak dari kursi masing-masing sampai mendengar suara hujan yang tadinya hanya rintik-tintik kini menjadi begitu deras. 

Kami pun memutuskan untuk menyudahi percakapan kami. Lelaki itu mengantarku sampai di loby apartemen. Payung merah yang awalnya akan dia kembalikan, kini ia kenakan lagi lantaran hujan tidak juga reda. Lelaki itu berjanji besok akan mengembalikan payung merah milikku itu.

"Waktu dan tempat yang sama,"katanya sembelum berjalan menjauhi apartemenku. 

Aku belum beranjak dari tempatku berdiri sebelum benar-benar melihat lelaki itu menghilang di tengah-tengah hujan.





 photo Ullan2.png

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)