12.25.2014

Cerita Tentang Hujan (5): Seseorang Dari Masa Lalu

taken from link
Iche menautkan kedua keningnya tatkala melihatku tersenyum sendiri ketika melihat rintik air di luar butik. Aku hanya tersenyum membalas tatapan gadis itu. Entah, kenapa setiap kali melihat hujan mulai turun, aku akan teringat mengenai lelaki tanpa nama itu. Ah, iya. Aku belum menanyakan namanya. Mungkin, lebih baik seperti ini; tetap menjadi dua orang asing.

"Aku pergi dulu,"pamitku sembari menyambar tas cokelat matang milikku. Sudah pukul dua siang. Waktunya untuk pulang.


"Kenapa kamu jadi sering pulang lebih awal? Dan, astaga, kamu menjadi suka berlarian di bawah hujan,"komentar Iche. Aku hanya tertawa renyah menanggapinya. "Tidak biasanya kamu seperti ini."

"Hujan itu magis. Dia bisa merubah seseorang,"seruku. Iche mendekap kedua tangannya di depan dada. "Sudahlah. Aku pergi dulu,"kataku sembari keluar butik. 

Di bawah rinai hujan aku berlari kecil untuk mencapai emperan toko. Sesekali aku menjingkat untuk menghindari genangan air sembari tertawa kecil. Entah kenapa hal semacam itu membuatku tersenyum. Sesampainya di apartemen, aku segera melepas coat cokelat kesayanganku, membersihkan diri, dan membuat secangkir teh, seperti biasa. Lalu, aku akan duduk di tepi jendela. Menunggu.

Kemarin, lelaki itu berjanji padaku akan bertemu kembali di kafe pukul tiga sore. Sekarang, jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga kurag dari lima menit. Aku segera turun dari apartemen dan menunggu lelaki itu di lobi apartemen sembari mengawasi kafe tua itu.

Aku mendekap tubuhku sendiri karena udara selalu dingin. Namun, hatiku hangat ketika mengingat percakapan kami kemarin. Terlebih lagi ketika lelaki itu mengatakan aku cocok menjadi model. Dia menawariku menjadi modelnya. Wajahku bersemu merah kala mengingatnya.

Aku menarik napas dalam-dalam menghalau degub jantungku. Seharusnya, aku tak perlu segugup ini. Tapi, apa daya, jika mengingat wajah lelaki itu mau tak mau aku selalu tersenyum malu. 

Mungkin sebaiknya aku menunggu lelaki itu di dalam kafe, agar aku tak berdiri mematung seperti ini. Aku hendak melangkahkan kakiku, ketika mataku menangkap sosok seseorang. Seorang lelaki yang teramat kukenal meskipun lelaki itu kini sedang mengenakan coat hitam panjang dengan topi berwarna serupa yang menutupi wajahnya. Lelaki itu sedang berjalan dari arah kiri kafe dan berhenti di depan kafe.

Jantungku semakin berdegub. Bukan gugup. Melainkan ketakutan. Aku segera berlari ke atas menuju kamar apartemenku. Segera kukunci kamar apartemen ketika aku sudah sampai. Lalu, aku bergegas menutup jendela apartemen. Sebelum aku menutup jendela, aku melihat lelaki tanpa nama itu berdiri di depan kafe. Lelaki tanpa nama itu berdiri sembari melihat ke arah jendela apartemenku, namun aku tak berani menampakkan diriku lantaran lelaki yang memakai topi itu masih ada di sana. Berdiri tepat di sebelah lelaki tanpa nama.

Selang beberapa saat lelaki tanpa nama itu masuk ke dalam kafe, dan menyisahkan lelaki yang memakai topi. Lelaki itu masih berdiri di sana, entah untuk apa. Dia melihat ke dalam kafe seakan mengamati pengunjung kafe itu sebelum memutuskan untuk masuk.

Aku masih bersembunyi di sebelah jendela dengan tangan gemetar. Keringat dingin membasahi kedua tanganku dan bayangan akan masa lalu itu mencekikku kembali. Kudengar hujan di luar semakin lebat dan ketakutanku pun semakin jadi. Tubuhku merosot. Air mataku berjatuhan seiring dengan derasnya air hujan di luar sana.

Kenapa lelaki itu muncul kembali setelah apa yang ia lakukan padaku?

Aku berdoa semoga saja lelaki itu tak mengetahui di mana aku tinggal. Aku sudah berusaha keras untuk melupakan masa laluku dan kini aku harus menghadapinya kembali sebelum aku siap. Tak ada yang bisa kulakukan saat ini selain bersembunyi.

Sampai malam tiba, aku tetap berada di posisiku. Air mataku pun sudah mengering dan ternggorokanku terasa serak. Aku tidak tahu apakah lelaki yang memakai topi itu masih berada di dalam kafe atau kah sudah pergi. Namun, yang kupikirkan saat ini adalah apakah lelaki tanpa nama itu masih di sana untuk menungguku? Atau kah dia sudah pergi karena bosan.

Aku tidak tahu. Semoga saja kami bisa bertemu kembali esok.


Cerita Tentang Hujan 4


 photo Ullan2.png

2 komentar:

Terima kasih sudah berkomentar :)