12.22.2014

Pemimpi Tanpa Batas

Perkenalkan, namaku Dwi Arumi. Mereka terbiasa memanggilku Arum. Yang kusebut 'mereka' itu adalah ibuku, kakakku, teman-temanku. Namun, Arum bukan lagi menjadi Arum ketika aku bertemu dengan Nandika Yudistira. Lelaki dengan dahi berkerut, tatapan nyalang, dan senyuman sinis.

Lelaki itu memanggilku, Aru. 


Aku mengenalnya di semester pertama pada tahun 2009. Kami satu kelas di Jurusan Teknik Elektro, prodi D3 Manajemen Informatika. Awalnya, aku hanya melihat Nandika Yudistira sebagai teman lelaki biasa, namun ketika pemilihan kelas dia menjadi sainganku. Sebagian besar mahasiswa perempuan lebih pro kepadaku dari pada dengan Nandika. Aku yakin menang dalam pemilihan ketua kelas ini, lantaran mahasiswa perempuan lebih banyak daripada lelaki. Namun, siapa sangka, jika ada beberapa mahasiswa perempuan yang lebih memilih lelaki belagu semacam Nandika Yudistira?

Aku kalah. Secara otomatis, aku sebagai wali ketua kelas. Sejak saat itu, hubungan kami bukan lagi sekedar teman melainkan sebagai rival.

Waktu terus bergulir, kerjasama kami sebagai pengurus kelas tak berlangsung baik. Ada saja perselisihan antara kami yang membuatku semakin tidak menyukai sosok Nandika. Mulai dari sifat jam karet-nya itu, sikap acuh tak acuh-nya, dan bahkan terkadang tidak peduli dengan tanggung jawab yang ia emban. Aku tidak mengerti, kenapa dulu ia harus menyalonkan diri menjadi ketua kelas? 

Aku semakin tidak menyukai lelaki itu tatkala nilai IP-nya tertinggi di kelas bahkan tertinggi satu prodi angkatan kami. Dan, aku harus rela menjadi nomor kedua. Aku harus rela menjadi bayang-bayang Nandika Yudistira. 

Namun, pandanganku mengenai lelaki itu sedikit berubah, ketika pada semester dua kami diwajibkan untuk ikut meramaikan kontes robot di Malang. Kami -- aku dan Nandika -- diharuskan berangkat dalam satu motor yang sama dengan alasan karena kami pengurus kelas. Awalnya, aku menolak. Tapi, atas desakan teman-temanku, aku pun pasrah. Sialnya, dalam perjalanan kami terpisah dari rombongan lantaran kami harus mengawasi teman-teman sekelas, memastikan tidak ada yang tertinggal dalam rombongan justru kami yang kehilangan arah. 

Kami saling menyalahkan karena teledor dan tidak memerhatikan ketika teman-teman yang lain berbelok. Dan, akhirnya kami tersesat begitu jauh dari tempat acara. Dalam perjalanan kembali ke tempat acara, seorang pria sedang mengebut di jalanan menyerempet motor kami. Motor kami oleng dan membuat kami terjatuh. Beruntung kami hanya lecet-lecet. Namun, celanaku sobek di bagian lutut dan darah segar merembes dari sana. 

"Maaf,"katanya. Nandika berwajah pucat, terlihat begitu khawatir. "Maafkan aku,"ulangnya. Ia terlihat begitu bersalah seakan semua kecelakaan ini ia sengaja untuk mencelakakanku. 

Orang-orang mulai berdatangan untuk menolong kami. Nandika, menggendongku hingga menepi ke rumah warga. Kami mendapatkan beberapa pengobatan medis untuk lututku, dan Nandika sendiri yang membersihkan lukaku. Akhirnya, kami beristirahat di rumah salah satu warga di situ. Menunggu hingga aku sedikit lebih tenang.

Di sana, aku melihat sosok lain dari Nandika Yudistira. Bukan lelaki dengan dahi berkerut atau pun sebagai lelaki dengan senyum sinis. Di sana, aku mengenal Nandika Yudistira sebagai lelaki yang memiliki mimpi. Hal yang juga kuimpikan. Sejak saat itu, aku merasa Nandika seperti bentuk lain dari seorang Dwi Arumi.




 photo Ullan2.png

2 komentar:

  1. Malah mirip kaya cerita antara rangga dan cinta di AADC ya, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya malah sama sekali tidak ada kepikiran ke sana :D inspirasinya kisah nyata soalnya :)

      Hapus

Terima kasih sudah berkomentar :)