1.01.2015

Cerita Tentang Hujan (7): Namanya Rama

taken from link

Kala itu hujan turun begitu deras, menghantam atap rumah dengan begitu keras. Aku yang sedang duduk di ruang makan dengan secangkir cokelat hangat di tanganku, hanya bisa menunggu waktu. Namun, kian waktu kutunggu, waktu semakin berjalan lambat. 


Hujan sudah mengguyur sejak sore tadi, hingga menjelang tengah malam belum reda juga. Mungkin, jika sekarang aku tidak sedang menunggu, aku akan menikmatinya sembari menekan earphone ke telingaku. Tapi, kali ini aku sedang gelisah. Ada sesuatu yang belum terselesaikan dan belum terjawab. Seharusnya, aku tidak memiliki perasaan seperti ini. Seharusnya, aku memercayai calon suamiku. Tapi, hujan di luar sana memperburuk keadaan.


Dia berjanji akan datang ke rumah hari ini, namun sampai sekarang tak ada kabar sama sekali. Ketika aku menghubungi ponselnya hanya terdengar suara operator. Tidak biasanya dia seperti ini dan seharusnya dia tidak seperti ini.

Kuputuskan untuk mencarinya, entah ke mana. Mungkin ke kantor tempatnya bekerja. Tapi, mana mungkin dia masih di sana tengah malam begini? Akhirnya, aku memutuskan untuk ke rumah Evelyn, sahabatku. Aku tidak tahu untuk apa, hanya saja aku ingin bertemu dengannya.

Di luar masih hujan ketika aku mengendarai mobil ke apartemen Evelyn. Keadaan jalan sungguh gelap dan jarak pandang hanya mencapai tiga meter. Lampu-lampu jalan tak mampu menerangi malam yang sepi dan gelap gulita. 

Namun, belum juga aku sampai di depan apartemen Evelyn, aku melihat mobil calon suamiku di sana. Terparkir di depan apartemen Evelyn. Pikiran buruk pun menyerangku. Aku berusaha keras agar kekhawatiranku tidak terbukti. Namun, semuanya sirna ketika melihat calon suamiku di sana. Berdiri di lobi apartemen dengan sahabat baikku. Saling berhadapan. Aku tak bisa melihat dengan jelas ekspresi dari kedua orang terpenting dalam hidupku itu, tetapi aku tahu ada sesuatu yang tak kuketahui. Dan, ciuman yang mereka lakukan sudah memberiku penjelasan apa yang sedang terjadi.

Aku tidak datang menghampiri mereka, tetapi sejak kejadian malam itu aku menghilang. Pergi menjauh dari kehidupan mereka dan meninggalkan calon suamiku itu begitu saja. Sejak itu aku membenci hujan.

Sudah tiga tahun lamanya kami tidak bertemu. Tidak calon suamiku atau pun Evelyn. Namun, sore itu aku melihat mantan tunanganku itu di depan kafe. Dan, aku pun memutuskan untuk pindah apartemen ke pinggiran kota. Meskipun, aku harus menggunakan dua kali kendaraan umum untuk mencapai butik, aku merasa lebih aman ketimbang tetap di apartemen di depan kafe. 

Otomatis aku pun tidak pernah berkunjung ke kafe tua itu lagi. Dan, aku juga tak lagi bertemu dengan lelaki tanpa nama itu. Meskipun ada sejumput kerinduan yang menyeruak dalam hatiku, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak mungkin lagi datang ke kafe itu. Aku takut mantan tunanganku berada di sana.

Sejak tiga minggu aku pindah apartemen, sore tadi ketika aku pergi ke toko kue untuk membeli kue ulang tahun untuk Iche, aku bertemu barista kafe tua. Dia berkata ada seorang lelaki yang memberinya secarik kertas dan memintanya untuk disampaikan kepadaku.

"Lelaki itu masih sering datang ke kafe untuk menanyakan keberadaan Mbak. Sayangnya, saya tidak tahu siapa nama, Mbak. Jadi, saya tidak bisa berbuat banyak,"kata barista itu padaku. Dia menyerahkan secarik kertas yang sudah lecek itu padaku. 

"Terima kasih,"kataku.

Aku memandang kertas di tanganku. Tulisan cakar ayam dengan huruf-huruf yang rapi tergores di sana. Sebuah nomor ponsel.

Setelah menyerahkan kue ulang tahun yang kubeli kepada Iche, aku segera meraih gangang telepon milik butik. Awalnya, aku ragu namun aku segera menekan angka-angka yang tertera di atas kertas itu. 

Telepon tersambung. Pada nada kedua aku mendengar suara berat di ujung telepon. Aku masih diam ketika dia menyapa.

"Hallo?"ulangnya. Aku menelan ludah.

"Rama?"

"Iya?"

"Ini aku, perempuan pemilik payung merah. Besok jam tiga sore bisa bertemu di kafe batavia?"

Dia tidak langsung menjawab. Dadaku berdebar pelan. Aku menelan ludah untuk kesekian kalinya.

"Jangan sampai terlambat,"Rama akhirnya bersuara. Aku tersenyum kecil. Ada kehangatan yang mendekap hatiku.

"Tentu."



 photo Ullan2.png

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)