1.31.2015

Cerita Tentang Hujan (9) : Menemukan Cinta Kembali Pada Rintik Hujan


taken from link

          Di luar kafe Batavia tidak sedang diguyur hujan atau pun gerimis, namun di atas langit sana awan hitam bergelayut manja menciptakan sendu. Tidak lama lagi akan hujan. Aku sudah berada di dalam kafe ini selama sepuluh menit. Aku datang tiga puluh menit lebih cepat dari jam temu kami. Aku tidak mau datang terlambat. Seperti yang kujanjikan pada Rama.



          Seorang barista mengantarkan secangkir kopi hitam dengan dua bungkus gula merah ke mejaku. Aku tersenyum basa basi pada barista perempuan itu dan segera mencampur kopiku dengan satu bungkus gula. Ini kali pertama aku datang ke kafe Batavia. Aku tahu mengenai tempat ini dari Bu Mila, pemilik Butik tempatku bekerja. Bu Mila berkata, bahwa tempat ini nyaman dan memiliki menu makanan dan minuman yang enak. Maka, aku meminta Rama menemuiku di tempat ini. Bukan, di kafe tua depan Apartemen lamaku.

        Sejujurnya, aku gelisah sedari tadi. Takut lelaki yang memiliki nama Rama itu tidak mengetahui tempat ini. Aku hanya berkata padanya untuk menemuiku di kafe Batavia, tanpa memberikan alamat yang jelas. Kupikir dia tahu seluk beluk kota kecil ini atau dia bisa mencari lewat Google Map. Tapi, tetap saja aku cemas dia tidak tahu tempat ini.
          
         Seorang lelaki berdiri di samping mejaku, ketika kudengar gemuruh hujan mulai turun di luar sana. Rama tersenyum padaku dengan wajah yang kuyuh beserta rambut basah. Ia meletakkan tas ranselnya di samping kaki kursi dan duduk di depanku.

          "Aku tidak terlambat, kan?"tanyanya sembari melepas jaket biru donker miliknya. Ia memanggil barista kafe dan memesan secangkir kopi hitam sama sepertiku. "Tanpa gula,"tambahnya. "Kenapa kamu diam saja?"Aku menghembuskan napas lega. Tanpa sadar sedari tadi aku menahan napas karena terbius oleh kedatangan Rama. Entah kenapa aku merasa dia semakin menarik atau ini hanya efek karena kami sudah lama tidak bertemu?

            "Ah, maaf. Aku hanya terkejut,"akuku. "Rambutmu semakin panjang. Aku sedikit tidak mengenalimu, tadi."
           
             Rama tersenyum. "Apa ini tidak apa-apa?" ia menunjuk ke arah kepalanya. Aku menautkan kedua alisku, tidak mengerti. "Ini, rambutku panjang begini. Apa cocok denganku?"
       
             Aku tertawa kecil. "Y-ya. Kamu tetap terlihat menarik."

             "Baguslah."Kami sama-sama diam. Jemari Rama mengetuk-ngetuk permukaan meja, sedangkan aku memegang erat cangkir dengan kedua tanganku. Sesekali mata kami bertemu dan saling melemparkan senyum. Kemudian barista kafe datang mengantarkan pesanan Rama. Lelaki itu tidak langsung mengambil cangkir kopinya, melainkan mendorong cangkir itu hingga ke sisi meja.

            Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku dengan kedua siku berada di atas meja. Dia berkata,"Kamu sudah tahu namaku. Sekarang giliranmu mengatakan siapa namamu."dia menghela napas. Dengan posisi semacam ini, aku bisa melihat wajah Rama. Alis lurus tebal dengan pandangan mata yang tajam, namun lembut. "Sulit sekali menemukan seseorang tanpa tahu namanya."dia menarik sudut bibirnya. Ah, bibir itu tipis dan kemerahan.

             "Keira,"jawabku. "Namaku, Keira Ratmanu."

              Rama diam. Matanya masih melihat ke arahku. Bibirnya bergerak ragu-ragu,"Kira?"Dia salah mengeja namaku. Aku tersenyum tipis. Terkahir kali laki-laki yang salah mengeja namaku dengan sebutan Kira adalah satu-satunya laki-laki yang memberiku sakit begitu dalam.

            "Bukan,"selaku. "Kei,"ucapku lebih pelan. "Keira."

            "Key, kunci?"dia menaikkan satu alisnya.

             "Ya. Tapi, pakai 'i' bukan 'y',"koreksiku.

            "Baiklah, Kei. Jadi, ke mana saja kamu selama ini? Kamu tahu, aku mencarimu seperti orang gila,"ucap Rama. Mimik wajahnya terlihat lucu ketika dia memajukan sedikit bibirnya. "Dan, kamu pindah apartemen. Aku menunggumu seharian di depan kafe, kali-kali saja kamu muncul."

            Aku tertegun. Mencoba mencari tahu, apakah Rama sedang menggodaku atau mengatakan sebenarnya. Untuk seseorang yang baru saling mengenal, perbuatan Rama terlalu berlebihan jika mengingat keperluannya hanya untuk mengembalikan payungku. Ah, tapi pada kenyataannya, aku merindukan laki-laki itu dan hampir saja bertekad menemuinya di kafe tua.

             "Maaf, tidak memberi kabar waktu itu. Memang kepindahanku tidak terencana dan mendadak sekali,"jelasku.

              "Begitukah? Kupikir kamu tidak ingin menemuiku lagi,"dia menghela napas. "Sukurlah, kalau bukan itu alasan kamu tidak datang. Dan, apa kamu baik-baik saja?"

          Aku mengangguk. "Bagaimana kabarmu? Apa kamu juga baik-baik saja?"tanyaku.

          "Aku baik-baik saja,"jawabnya. "Oh, iya, aku bawa payungmu,"Rama mengambil payung merah milikku dari samping tas ranselnya. Aku tidak menyadari keberadaan payung tersebut tadi. Mungkin terhalang oleh ranselnya yang cukup besar.

             Aku meraih payung tersebut dari tangan Rama. Payung merah itu terlihat sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Terlihat terawat.
 
            "Aku membersihkannya setiap hari,"Rama menyahut seakan dia bisa membaca pikiranku." Terlebih lagi, sehabis aku memakainya,"dia tersenyum. "Maaf, aku sering memakainya tanpa seijinmu."

               "Tidak masalah,"jawabku. "Aku justru senang kamu masih mau memakainya."

               "Tentu saja. Payung itu telah banyak membantuku,"

               Kami diam kembali. Kemudian, kudengar ponsel Rama berdering. Dia tersenyum ke arahku, meminta ijin untuk mengangkat telepon. Aku mengangguk meng-iyakan. Dia berdiri dari kursinya dan berjalan menjauhiku menuju tempat yang sepi. Kulihat dia menepuk dahinya dengan kesal, kemudian melihat jam tangan di tangan kananya. 

              "Kei, maafkan aku,"ucapnya ketika dia sudah kembali ke depanku. "Aku lupa kalau hari ini ada pemotretan. Rekan kerjaku sudah menunggu di lokasi."Jelas Rama dengan wajah penuh penyesalan. Terlihat dengan jelas bahwa dia tidak ingin mengakhiri pertemuan kami. 

                 "Baiklah. Tidak masalah,"jawabku. Aku tersenyum. Kulihat Rama meraih tas ranselnya dan mengulurkan tangannya ke arahku.

                  "Senang berjumpa denganmu, lagi,"ujarnya. Aku mengangguk. Rama berbalik dan berjalan menjauhiku.

                  "Rama,"panggilku. Rama menoleh di tempatnya ia berhenti. Aku menghampirinya sembari membawa payung merah. "Pakailah,"kataku sembari menyerahkan payung itu pada Rama. "Di luar hujan."

                 Rama buru-buru melihat ke luar kafe. Dia mengumpat pelan. "Lalu, bagaimana denganmu?"

                Aku tersenyum,"Aku masih ingin berada di sini,"aku menyerahkan payung merah pada Rama. Dia terlihat ingin menolak lagi. Aku buru-buru berkata, "Kamu membutuhkan payung ini. Teman-temanmu sudah menunggu,"aku mengambil jeda. Ragu. "Lagi pula, kita bisa bertemu kembali jika kamu mengembalikan payung ini besok."

              Rama tersenyum, begitu juga denganku. Kurasakan pipiku memanas. Rama mengangguk dan mengambil payung merah dari tanganku. Dia melambaikan tangannya dan berjalan keluar dari kafe. Sebelum dia menutup pintu kafe, Rama berteriak,"Sampai ketemu besok!"

             Aku menarik napas dalam-dalam. Sepertinya, aku jatuh cinta kembali pada tirai hujan di luar sana.


 photo Ullan2.png

4 komentar:

  1. Bersambung ini ya? jadi penasaran kelanjutannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, iya, Mbak :) cerita sebelumnya bisa dilihat di blog ini dan juga di sini www.kotakwarna.com :) soalnya cerbung duet hehe

      Hapus
  2. Salam, mak wulan... senang bisa mampir ke blogmu dan langsung disuguhi cerita begini. Hihi. Suka fiksi ya mak? Sama. Kapan ya, saya bisa posting fiksi kece kayak gini?
    Sukses ya maak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam :) Iya nih, suka mengkhayal-khayal hehe. Ayo semangat, Mak! ^^

      Hapus

Terima kasih sudah berkomentar :)