1.27.2015

Sepotong Maaf, Untuk Lelaki Pengantar Undangan

Saya sedang dirajang rindu dan penyesalan. Keduanya bertubi-tubi mengingatkan dengan perasaan duka tak kunjung usai. Sejarah dua tahun silam berputar kembali. Menyesakkan. Sesuatu yang kubiarkan berlalu tanpa niatan tuk saya perbaiki, menuntut untuk diselesaikan. Segera mungkin.

Mimpi-mimpi itulah bukti nyata bahwa ada hal yang belum selesai di antara kami. Sebuah penjelasan tentang, entah apa yang harus dijelaskan. Mungkin, buatnya sudah cukup jelas. Saya perempuan menyebalkan yang menelanjangi dia secara diam-diam. Mengorek informasi di belakangnya seperti seorang pengecut. Dan, ketika di hadapannya, saya menciut. Kedua telapak tangan saya basah dan pandangan mata saya tak fokus. Otak saya terlalu sibuk memikirkan kegaduhan yang terjadi dalam hati.

Oh, Tuhan.


Lelaki itu, lagi-lagi, membuat saya tidak berada pada tempatnya. Secangkir teh manis pun tak ku suguhkan di atas meja untuk melepas dahaganya. Intinya, saya kaku. Saya tidak memiliki tenaga untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan lelaki itu. Bukannya, membuat dia nyaman dekat dengan saya. Saya justru tak acuh padanya dengan sibuk memainkan ponsel. Saya terlalu gugup.

Seharusnya, sepotong kata maaf terlontar dari bibirku. Bibir yang kerap kali ingin dikecap oleh bibirnya. Kata maaf yang mungkin akan mengawali lembaran baru di antara kami, atau justru semakin menjauhkan kami. Sebaris kalimat penjelasan mengenai yang kulakukan di masa silam. Memerbaiki citra diri yang sudah terlanjur negatif di matanya. Namun, saya masih saja seperti seorang pengecut yang hanya bisa berdiam diri, dan membiarkan detak jarum jam dan jantungku memenuhi kesunyian.

Mungkin, penjelasan yang paling pas hanyalah satu. Aku mencintainya. Masih, bahkan. Wajahnya kerap kali muncul dalam mimpi-mimpi saya. Hasrat untuk disentuhnya seringkali masih saya harapkan. Pelukan hangat dari dadanya yang bidang. Genggaman dari jemarinya yang lentik, dan sikap protektifnya. 

Tak ada yang bisa kulakukan, selain membiarkan takdir bekerja pada porsinya. Menunggu hingga, entah kapan, dia akan datang dan menyatakan cintanya untukku, atau justru dia akan mengantarkan surat undangan pernikahannya. Saya benar-benar menyerahkan seluruhnya pada takdir, dan tak berbuat apa-apa. Tidak melakukan sesuatu, paling tidak sedikit tindakan untuk menariknya dalam pelukan saya. Mewujudkan kenyamanan jemarinya dalam tanganku dalam mimpi-mimpiku. 

huft.

Saya menyesal pernah membuatmu membenciku. Sungguh. Maafkan, aku. Tidak ada yang lebih kusesalkan daripada sikapku yang kekanakan dua tahun silam. Dan, sungguh saya hanya ingin kau tahu, saya peduli terhadapmu.

Itu saja.




 photo Ullan2.png

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)