4.13.2015

Mari Lampaui Diri Sendiri

Pic taken from link

Gue #BeraniLebih untuk berbicara di depan umum, karena dengan begitu gue bakalan melampaui ketakutan diri sendiri.



Yup, salah satu kelemahan saya adalah tidak bisa berbicara di depan umum. Jangankan di depan umum, dengan orang yang baru saya kenal saja sulit sekali membuka obrolan. Mungkin, hal ini lantaran saya kurang percaya diri, entah apa yang membuat saya kurang percaya diri.




Sejak kecil Bapak selalu menanamkan kalinat ‘Kalau tidak salah, jangan pernah takut’. Saya selalu mengingat kalimat tersebut ketika masa kanak-kanak, dan lambat laun kalimat tersebut hanya menjadi bualan saya saja. Pada nyatanya, saya kian dewasa kian takut menghadapi segala macam hal baru dalam hidup. Bukankah, hidup itu mengenai tumbuh berkembang? Dan, untuk tumbuh kita harus menghadapi hal-hal baru untuk memperkokoh akar atau tumpuan hidup ini.

Untuk menantang diri sendiri, sekitar setahun yang lalu saya pergi ke Pare, Kediri, untuk belajar Bahasa Inggris. Tempat kursus yang saya datangi itu adalah tempat kursus yang memfokuskan pada speaking. Nah, loh? Untuk berbicara dalam bahasa ibu saya tidak berani dan kurang percaya diri, apalagi dengan Bahasa yang belum benar-benar saya kuasai?

Awalnya, saya takut, tentu saja. Tangan berkeringat, jantung berdetak melebihi detak jarum jam, berkali-kali membasahi bibir, dan perut penuh mual. Saya akan berada di tempat asing dengan orang-orang asing pula selama satu bulan penuh. Saat itu, rasanya saya ingin mengurungkan niat untuk belajar, namun mengingat kedua orangtua saya sangat antusias dengan keputusan saya ini, saya pun tetap melanjutkan apa yang menjadi pilihan saya.

Saya memperkenalkan diri sebagai Wulansari fresh graduate dari Universitas Negeri Surabaya, jurusan D3 Manajemen Informatika, 23 tahun. Sambutan hangat diberikan oleh teman-teman baru saya, yang datang dari penjuru pelosok Indonesia. Tidak ada masalah yang mesti saya takutkan, namun hari berikutnya kisah saya dimulai. Saya harus berbicara dalam Bahasa Inggris selama 24 jam! Saya takut? Tentu! Kenapa? Karena saya tidak lancar Berbahasa Inggris.


Namun, ketakutan yang saya khawatirkan ternyata tidak terjadi. Justru, saya merasa sangat asyik berada di sana. Terlebih lagi, ketika kelas Speak Up 1, saya benar-benar didongkrak untuk percaya diri dan berbicara. You know what? Ketika mentor mengutarakan sebuah pertanyaan dan kami harus berpendapat, saya mengacungkan tangan tinggi-tinggi sebagai bentuk #BeraniLebih saya untuk melampaui diri sendiri.

Saat itu terjadi, saya merasa bukan diri saya sendiri yang selalu takut mengutarakan pendapat. Dan tak dapat dipercaya yang berbicara di depan umum kala itu adalah Wulansari. Apa yang saya takutkan hanyalah sebuah momok yang muncul dari pikiran saya sendiri.


Dengan begitu saya menjadi lebih bahagia karena #BeraniLebih untuk mengenal orang-orang baru dan memperkenalkan diri sebagai orang yang #BeraniLebih. Bahkan, saya juga bisa pergi ke Gunung Bromo bersama-sama teman baru saya saat itu.

Dan, bulan Maret kemarin saya ikut bedah buku, menjadi pembicara! Wow, kan?

Seandainya saja, saya melewatkan kesempatan untuk #BeraniLebih saat itu, lihat apa saja yang telah saya lewatkan?

Jadi, apa pengalaman kalian untuk #BeraniLebih menantang diri sendiri?

twitter: @wulanskenanga

fb: https://www.facebook.com/woelan.cywol





Postingan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Tulisan Pendek di Blog #BeraniLebih



 photo Ullan2.png

1 komentar:

  1. Wah keren..#beranilebih berbicara di depan umum memang ga mudah mak

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkomentar :)