4.22.2015

Sepotong Maaf Untuk Kesalahan di Masa Silam

Pic taken from link


"Apa hal yang bisa menyatukan kembali sesuatu yang telah retak? ~ Permintaan Maaf"- Wulan Kenanga


Bukan menjadi suatu rahasia lagi, bahwa saya pernah melakukan kesalahan di masa silam. Bahkan, dari kesalahan tersebut saya memiliki kesempatan untuk memiliki buku pertama. Ya, kisah yang saya tulis dalam buku tersebut adalah benar adanya. Bukan sebuah karangan biasa. Dan, saya bersyukur telah melewatinya, dan kini mencoba memperbaikinya tanpa menyisakan rasa penyesalan sedikit pun. 


Adalah saya yang memulai, maka sayalah yang harus mengakhiri. Memang, pada awalnya keberanian itu menyusut sedemikian rupa. Melupakan yang telah terjadi, dan menganggap tak pernah terjadi apa-apa di antara kami, bahkan saya sempat lupa pernah memiliki teman yang bernama -secret-. Sampai pada akhirnya, dia datang mengantarkan titipan temannya kepadaku. Saya terkejut, dan tentu saya dibuat salah tingkah olehnya - lagi dan lagi

Seakan dia sudah menganggap semuanya telah berakhir dan yang lalu biarlah berlalu. Dia kembali mulai menjalin pertemanan yang sempat putus, tanpa ada sepatah kata pun untuk dibahas mengenai yang telah terjadi. Awalnya, saya mencoba bersikap demikian, namun dengan dia mencoba "kembali menjalin pertemanan" membuat saya tak enak hati jika membiarkan masalah yang belum terselesaikan itu berlarut-larut, dan mengusik saya. 

Ada hal-hal yang mesti disampaikan ketika dahulu begitu sulit untuk disampaikan

Seharusnya ini mudah karena kejadian itu telah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Bukankah mudah untuk membahas suatu masalah, ketika masalah itu telah menjadi masa silam? Seperti membahas sejarah di sekolah? Namun, nyatanya tidak. Saya orang yang sulit untuk mengungkapkan perasaan. Sangat sulit. Sekalinya saya mengutarakan perasaan saya, sudah dipastikan air mata akan menyertainya. 

Untuk berkata,"Hai." saja sulit apalagi sepotong kata maaf, dan rentetan penjelasan di baliknya?

Hari Senin yang lalu, saya memanggilnya melalui Blackberry Messenger, berniat untuk mengutarakan maksud saya. Namun, tiba-tiba saja keberanian saya menyusut. Seperti air kolam yang penyumpalnya telah dibuka. Maka, saya biarkan sapaan itu berlalu. Kemudian, dia mempertanyakannya kemarin malam. Ada apa gerangan saya memanggil dia kemudian saya diam saja?

Apa saya langsung menjawab dan mengutarakan niat saya? Tidak. Saya berkata tidak apa-apa, hanya mengetes. Kemudian, saya berpikir kalau tidak sekarang kapan lagi? Dan, apa nantinya saya akan menarik ulur niatan saya ini dan tidak akan ada penyelesaian yang berarti? Maka, saya pun mengatakannya, sepotong maaf untuk kesalahan di masa silam

Cerita pun bergulir ke masa itu, masa di mana saya begitu kekanakan, dan egois memikirkan perasaan diri sendiri. Tak mau tahu bagaimana jadi dia yang juga tidak nyaman dengan sikap saya. Dan, kejujuran-kejujuran pun kami ungkap satu per satu, kami saling meminta maaf dan saling memaafkan. Ternyata, memang saya yang salah selama ini, dan memang saya yang sepatutnya datang untuk memperbaiki pertemanan kami yang pernah retak. 

Lalu bagaimana?

Saya tidak pernah menyangka saya akan seberani ini, mengutarakan perasaan yang saya biarkan tumbuh begitu saja, dan saya pun tak menyangka bahwa dahulunya dia sempat memiliki rasa yang sama. Saya tak pernah tahu, bahwa meminta maaf bisa semudah ini, dan dia juga menyambut niatan baik saya. Bahkan, respon yang dia berikan sama sekali jauh dari pandangan saya. Saya pikir, dia begitu membenci saya hingga sejauh ini dan tak bisa memaafkan. 

Saya salah, dan selalu begitu.

Bukankah manusia tempatnya salah?

Saya akan terus belajar memperbaiki diri, mungkin sedikit terlambat tetapi saya benar-benar serius ingin memperbaiki diri. Bukankah, manusia seharusnya memang berkembang untuk menjadi sekuat akar pohon?

Apa kesimpulan dari kisah ini?

Kami kembali berteman,dan saya masih belajar mencoba menerima apa pun yang akan terjadi kelak. Saya tak berharap lebih untuk pertemanan kami. Mungkin, ini menjadi awal dari segalanya atau mungkin ini memang takdir yang dijatuhkan untuk kami.

Saya hanya merasa bahagia, bagian-bagian dari masa silam yang tak sempat terjawab, kini terungkap sudah.




 photo Ullan2.png

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)