5.20.2015

Melepasmu


Dedaunan berwarna kuning tua berjatuhan, melebur bersama tanah basah pada taman sore itu. Masih tercetak jelas dalam ingatanku, bagaimana pertemuan kita. Saat itu jejak hujan masih bersemayam bersama senja yang baru saja menampakkan diri. Bersama itu pula kau datang, membawa mendung yang beberapa menit lalu telah pergi.
   
Kita duduk pada bangku yang sama, di bawah pohon yang dedaunnya masih meneteskan air dan terjatuh pada gaun merah yang kukenakan. 
             
"Aku tak pernah mengerti, kenapa cinta harus ada jika kesakitan  juga menyertainya,"lirihmu. Saat itu aku tak mengerti dengan kalimatmu, terlebih lagi kau memandang langit di atas sana yang mulai menggelap. Kalimat itu entah kau tujukan padaku ataukah pada senja yang bergegas pergi.

"Pernahkah kau sakit hati di saat kau sedang jatuh cinta sedalam-dalamnya?"kali ini kau melihat ke arahku, tepat pada kedua bola mataku. Saat itu aku tak tahu harus menjawab apa, maka aku hanya mengangkat bahu.

Kau terus bercerita mengenai perempuanmu. Perempuan yang baru saja meninggalkanmu dengan segenggam cinta. Cinta yang baru saja tumbuh, dan dia telah mematahkan batangnya begitu saja.

 "Kami sudah menjalin hubungan selama dua tahun,"katamu. "Tak ada cinta yang tumbuh ketika aku memutuskan untuk bersamanya. Aku percaya cinta akan datang suatu hari untuknya,"kau mendesah. Jemarimu yang lentik saling bertautan seakan ada gelisah di sana. "Dan, ketika cinta itu datang, cintanya untukku pergi. Begitu saja, dan kami berpisah."

 "Kenapa cinta selalu datang terlambat?"

"Karena memang ditakdirkan demikian?"akhirnya aku bersuara. Kau menoleh ke arahku, menarik sudut-sudut bibirmu. Aku membalas senyummu.

"Kenapa takdir harus berjalan seperti itu?"kau bertanya lagi. Kedua matamu ekspresif, namun aku tahu kau sedang bersedih. Ada luka yang menganga di sana.

"Aku sendiri juga tidak tahu, hanya saja aku percaya semua sudah diatur pada tempatnya,"aku kembali tersenyum. Kau mengangguk menyetujui pendapatku. Lalu, kau mendesah, mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkannya.

Kau mengulurkan tangan, memperkenalkan diri sebagai, "Kendra Pradipta."Freelance, 27 tahun, anak tunggal.

"Sonya,"kataku. "Sonya Leraria,"tambahku. Dan, kukatakan aku pemilik toko kue di ujung jalan bernama Madeira, yang berarti manis. Bernuansa merah muda dengan ribuan kue macarons di balik etalase.

"Dia sering mengajakku ke sana,"katamu. Aku hanya tersenyum, kemudian membisu. Mengingat kembali apakah aku pernah melihatmu di sana, menerka-nerka bagaimana wajah kekasihmu.

Angin malam mulai tercium, ketika itulah kau meminta tuk mengantarkanku pulang. Aku tak menolak. Dan, begitu saja kau sudah hadir dalam hidupku, yang selamanya tak akan pernah kusesali.

Karena takdir telah mengaturnya demikian.

***

Beberapa kali kau datang kala senja tiba di depan Madeira dengan kedua tanganmu bersembunyi di dalam saku. Saat kau melihatku keluar dari Madeira, kau mengeluarkan satu tanganmu dan melambai ke arahku lalu tersenyum. Aku membalas senyummu dan berlari kecil menghampirimu setelah mengunci pintu toko.

"Bagaimana kabar kekasihmu?"tanyaku. Kita berjalan pada trotoar di bawah kerlipan lampu temaram kuning. Aku selalu mencuri pandang ke arahmu, hanya untuk melihat alis tebalmu yang tegas.

"Mantan,"koreksimu. Aku tersenyum. Bagiku, dia tetap kekasihmu karena sampai saat itu kau belum bisa melupakannya. Bahkan, kau sering salah menyebut namaku dengan namanya. "Kudengar dia sudah mempunyai kekasih,"kau mulai bercerita. 

"Ternyata kau masih mencari tahu tentangnya,"gumanku tanpa sadar.

"Apa?"tanyamu. Aku menggeleng. "Aku belum bisa melupakannya, Sonya."

"Ya, aku tahu."

Hening. Hanya suara kendaraan di jalan yang mengisi kekosongan di antara kita. Kemudian, kau berhenti. Memerhatikan etalase sebuah toko perhiasan. Pada toko tersebut ada sebuah kalung perak berliontin hati yang indah. Mendadak wajahmu muram.

"Aku pernah berjanji akan membelikannya kalung itu,"ceritamu. "Saat itu kami baru satu bulan bersama. Dan, aku melupakannya. Sekarang aku baru mengingatnya."

Aku menatap wajahmu dari samping ketika kau masih saja memandangi kalung perak pada etelase toko tersebut. Ada sedikit rasa cemburu yang terkandung dalam tatapanku. Berharap suatu saat akan ada seseorang yang mencintaiku begitu dalam seperti kau mencintai kekasihmu. Dan, aku berharap orang itu adalah kau.

Keesokan harinya, pada hari berbeda, kau datang lagi di depan Madeira. Kau kembali menawarkan diri untuk mengantarkanku pulang, dan lagi-lagi kau berhenti di depan toko perhiasan waktu itu. Namun, kini wajahmu berubah kecewa.

"Aku terlambat. Seseorang telah membeli kalung itu,"katamu, saat kalung perak berliontin hati itu tak lagi ada di etelase toko.

"Mungkin, itu artinya kau harus merelakannya,"sahutku.

Kau berguman, berdiam diri cukup lama seakan memikirkan apa yang telah kukatakan. "Sepertinya memang harus begitu."

***
Lain hari, kau mengirimiku sebuah lagu. Aku tahu, lagu itu berisi isi hatimu. Kegundahan yang kau alami tertuang dalam lagu bernada minor tersebut. Kehilangan, patah hati, dan rapuh. Itulah yang kau tunjukkan dalam lirik-lirik lagu itu.

Beberapa kali, aku membalas lagu serupa, kemudian hal itu menjadi kebiasaan baru kita selain berjalan pada trotoar kala senja menyapa. Terkadang, kau memintaku untuk mendengarkan siaran radio dan kau mendedikasikan lagu untukku. Bukan mengenai hatimu, melainkan untukku. Mengenaiku, dan itu membuatku berbunga.

Namun, itu tak berarti apa-apa. Kau masih mencintai kekasihmu.

"Aku tak sanggup lagi!"Kau berteriak. Saat itu para pegawaiku telah pergi, hanya tinggal kau dan aku dalam Madeira. "Aku ingin bertemu dengannya!"

"Tenanglah,"hatiku runtuh. "Tenangkan dirimu,"aku mendekatinya, membimbingnya untuk duduk di sofa. Aku pergi ke dapur dan mengambilkanmu segelas air putih. "Minumlah dulu,"kusodorkan segelas air mineral itu padamu. Kau menerimanya dan meneguknya hingga tandas.

"Aku ingin menemuinya, Sonya. Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintainya. Selalu!"ucapmu dengan emosi. Pagi tadi, saat kau hendak menemui klienmu, kau bertemu dengan kekasihmu. Perempuan itu terlihat muram ketika menatapmu. Kemudian, kau menyimpulkan bahwa dia,"masih mencintaiku. Aku tahu itu. Pasti ada sesuatu yang membuatnya pergi meninggalkanku."

Aku menelan ludah. Mencoba menelan rasa sesak dalam dada, berkali-kali. 

"Apa kau yakin?"

"Ya, tentu saja!"

"Kalau begitu temui dia,"kataku akhirnya. "Temui dia, dan katakan kau mencintainya."

"Menurutmu begitu?"

Aku mengangguk. Kau memelukku, mengucapkan terima kasih padaku. 

***

Kau kembali mengirimkan sepotong lagu padaku, mengetik lirik-liriknya dalam pesan, dan aku tahu, kau tak berhasil mendapatkan kekasihmu kembali. Kemudian aku mengirimkan lagu Passenger-Let Her Go. Dan, lagi-lagi kau datang ke Madeira dan tersenyum dengan kedua tangan bersembunyi dalam saku jaket.

"Aku akan melupakannya,"katamu. "Aku berjanji padamu, aku akan melupakan dia tak akan membicarakannya lagi."

"Benarkah begitu?"

"Ya. Aku mengatakan ini, karena aku merasa ada sesuatu di antara kita,"katamu. Aku menautkan kedua alisku. Kau menghentikan langkah, tersenyum, menyentuh daguku, dan mencium bibirku. Sentuhan singkat itu telah menyalurkan getaran aneh pada hatiku. Namun, saat itu aku percaya akan ada sesuatu yang indah akan terjadi.

Kita berjalan beriringan dengan jemari tangan saling bertaut, dengan pipi bersemu merah menghiasi wajah kita.

Kita melewati hari-hari itu dengan menonton film, melihat konser, dan berbagi gulali. Madeira menjadi saksi betapa manisnya kebersamaan kita, dan menjadi saksi ketika kita diam-diam mencuri cium di tengah keramaian. 

Kemudian, pada malam Natal seorang perempuan dengan tubuh tinggi semampai. Rambutnya yang cokelat bersinar di bawah sinar lampu dan bibir tipis berwarna peach itu tak akan pernah kulupakan, datang ke Madeira. Perempuan itu terpaku ketika kau membantuku menata kue-kue pada etalase. Tercengang, ketika kau mencium keningku. Begitu juga denganmu. Kau membeku, membiarkan senyumku memudar.

Setelah malam itu, aku tak lagi melihatmu  di Madeira. Pesan-pesan darimu pun jarang kuterima, kemudian pada suatu malam kau mengirimiku sebuah lagu. Lirik yang menjelaskan sesuatu. 

Semakin ku menyayangimu, semakin ku harus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama

Drive-Melepasmu


Aku tersenyum, kemudian mengambil kalung perak berliontin hati dari dalam almari, dan kukirim benda itu kepadamu. Dan bersama itu, kutulis sebuah pesan pada selembar kertas.

Berbahagialah.



Mojokerto, 20 Mei 2015
15:12



3 komentar:

Terima kasih sudah berkomentar :)