6.15.2015

Cinta dapat mengubah segalanya

Cinta dapat mengubah segalanya ~ termasuk cara kita berjalan

Saya memiliki seorang teman. Dia pendengar yang baik, pemberi gagasan yang brilian, dan orang yang selalu berpikir positif. Dari sisi pendiamnya, dia memiliki rasa kepercayaan diri tinggi. Berbeda dengan saya. Jauh.


Setiap kali saya dekat dengannya, perasaan nyaman selalu meliputi. Seakan bersama dia, semua hal akan baik-baik saja. Energi positif yang memancar dari tubuhnya, secara tidak langsung memberi pengaruh pada diri saya juga.

Kami berteman sejak SMA. Hanya saling tahu nama, tanpa tahu secara dekat. Kemudian, kami satu kampus dan satu jurusan yang sama. Karena itu, saya sering merepotkan dia untuk mengerjakan tugas yang tak saya mengerti. Kami sharing mengenai pelbagai macam hal. Dia seseorang yang tebuka dan penuh ide-ide yang membuatnya terlihat menarik.

Dia memiliki cita-cita, dan senang berkarya. Itulah salah satu hal yang membuatnya menarik, karena dari matanya saya melihat diri saya sendiri. Saya tahu, dia mampu melebihi dari apa yang bisa ia lakukan. Namun, ia tak melakukannya.

Berbeda dengan lelaki lain yang terlalu banyak basa basi. Dia selalu mengajak saya berdiskusi melalui pesan pribadi. Saya senang diajak berdiskusi semacam itu. Dan, dia benar-benar tahu cara menghargai orang lain.

Namun, pada satu titik di mana dia telah mengenal cinta, beserta sakitnya. Dia berubah. Saya tak menemukan sahabat yang cerah seperti dulu. Ia berkata, ia telah menemukan hidayah. Menemukan jalan hidupnya. Dan, sakit itu telah menuntunnya ke arah sana. Tapi, aku melihat hal lain.

Sahabat, kau tak secantik dulu.

Ada muram yang bersemayam dalam kedua kelopak matamu. Ada luka yang menyayat setiap kali kau berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Dan, karena sakit itu, kau meninggalkan segala yang pernah kau perjuangkan. Semua hal yang kau cintai, kau biarkan berlalu.

Saya merasa ada jarak di antara kita. Saya merasa, kau bukan lagi teman yang asik diajak berdiskusi. Kau seperti seseorang yang terlalu menggebu meminta orang lain memahamimu. Tapi, maaf. Justru sakit yang kulihat dalam dirimu. Saya memang tak mengerti akan perasaanmu, tapi saya tahu bagaimana rasanya.

Sahabat, percayalah. Ini hanyalah proses menuju kedewasaan.

Terus terang, saya merasa kehilangannya. Kehilangan partner dalam meraih mimpi-mimpi kami. 

Sahabat, kau seperti mayat hidup. Hidupmu seakan hanya untuk menunggu mati. Redup. Tanpa cahaya. Tak lagi kurasakan semangat yang berkilat-kilat seperti dulu.

Mungkin saya terlalu merasa mengenalmu. Mungkin saya yang sok tahu mengenaimu. Bila ini memang jalanmu, maka melangkahlah. Saya masih sahabatmu, meskipun mungkin sekarang prioritas hidup kita sudah tak sejalan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)