7.26.2015

Berbahagialah



Dahulu, saya menyebut diri saya sendiri "Ratu Galau". Tak pernah sedetik pun saya melepas status itu. Setiap waktu, saya selalu menulis status-status menyedihkan di jejaring sosial. Saya masih teringat benar, betapa menyedihkannya saya waktu itu.

Sore tadi, seorang sahabat membuat status di BBM-nya. Ia berkata, "Kata si Abi: Orang yang suka menggalau di media sosial itu masih alay, masih anak-anak. Aku nyengir kuda." Saya menimpalinya, "Aku dulu parah, sekarang berkurang banyak." Dia menyetujui ungkapan saya tersebut dan bertanya, "Kok bisa?"


Akan ada masanya seseorang berubah. Selalu ada dua opsi dalam perubahan. Pertama, menjadi lebih baik, kedua menjadi lebih buruk. Saya bersyukur, saya dalam golongan opsi pertama, meskipun tak memeluk kebaikan berlebih. Sedikit, tapi tetap berubah.

Perubahan yang saya alami tak luput dari keadaan sekitar. Keluarga, sahabat, lingkungan, dan ... pengalaman hidup. Selalu ada faktor-faktor pendukung dari sebuah kejadian. Selalu ada sebab di balik sebuah akibat. Dan, banyak hal yang terjadi dalam kehidupan saya sebelum saya sampai sejauh ini. Saya benar-benar mensyukuri apa yang terjadi pada masa silam, hingga mendidik saya sampai sekarang ini.

Saya katakan pada sahabat saya tersebut, faktor-faktor yang mengakibatkan perubahan drastis yang saya alami ini. Saya sendiri menyadari, beberapa bulan belakangan saya mulai enggan untuk bermanja-manja dan mengeluh di jejaring sosial. Ada rasa yang tak nyaman lagi ketika saya menulis kalimat-kalimat tersebut di sana. Seakan-akan ada seseorang yang siap memberi saya nilai buruk ketika saya menulis kalimat tersebut. 

Sekitar tahun 2012 silam, saya bertemu seorang perempuan dalam acara kelas menulis di Surabaya. Kami saat itu duduk berdua menunggu waktu di depan sebuah bagunan. Kami sama-sama berbicara malu-malu. Awalnya, saya mengira dia masih kuliah dan seumuran dengan saya. Dari sana persahabatan kami bermula. 

Tak ada yang istimewa dari persahabatan kami. Kami hanyalah dua orang perempuan bermimpi besar, dan pecinta buku. Kami hanyalah dua orang perempuan yang merasa harus memiliki "sesuatu" untuk ditunjukkan pada dunia bahwa kami ada. Lebih dari apa pun, kami ingin membuktikan pada diri sendiri bahwa kami mampu. 

Lambat laun kami saling mengenal dan semakin akrab. Saat-saat itulah curhatan demi curhatan mulai tercurah kepada perempuan itu. Lalu, dia membuat sebuah postingan pada blog pribadinya, mengenai kondisi tubuhnya. Terus terang saya hampir menitikan air mata membaca kisah tersebut. Benar-benar tak mengira, perempuan pemilik aura positif itu mengidap penyakit sejak ia kecil. Dalam tubuhnya ada alat yang membantu dia tetap hidup. Dia bilang, dia adalah robot. Tapi bagiku, dia adalah utusan Tuhan untuk membantuku dalam memaknai hidup.

Perempuan itu selalu berkata padaku, "Kamu masih muda, dan sehat. Masih punya banyak kesempatan untuk menikmati hidup. Berbahagialah."

Sedikit demi sedikit, saya pun mengubah diri saya sendiri. Menahan keinginan untuk memaki, mengontrol emosi, tetap menjadi diri sendiri yang cantik, semangat dalam meraih impian. Demi apa pun, perempuan itu punya andil dalam kehidupan saya. Jika, orang lain lebih "menggurui" mengenai kehidupan. Perempuan itu lebih mendukung apa yang menjadi keputusan saya, memberitahu apa itu kehidupan. 

Tahu-tahu saja, saya mulai sembuh. Tak banyak, tapi sangat terasa. Saya merasa malu jika terus menerus mengeluh sedangkan di sana ada seorang perempuan yang berjuang melawan penyakitnya. Berjuang tak memedulikan orang-orang yang memandangnya dengan sebelah mata. Berjuang untuk tetap ceria dan besyukur dengan kehidupan yang Tuhan berikan.

Apalah arti secuil kemuraman yang saya miliki dibandingkan perjuangan perempuan itu?

Kenapa dia tetap bisa bahagia meskipun menanggung cobaan seberat itu?

Saya menyadari, bahwa hidup adalah pilihan. Seperti yang kita ketahui, pilihan memiliki risiko masing-masing. Setiap orang memiliki prioritas dalam kehidupan masing-masing. Kita tak layak untuk menggurui mereka atau pun merasa lebih baik dari mereka. Setiap waktu untuk belajar menjadi lebih baik.

Dewasa itu pilihan, dan saya memilih untuk belajar menuju ke sana.

Berbahagialah.


1 komentar:

  1. Ah. Kamu membuatku menangis dengan postingan ini.

    Ya..seperti aku bilang padamu

    "Berbahagialah dengan hidupmu, selagi kamu mampu."

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkomentar :)