7.17.2015

Retak

Baru saja aku mengunci pintu Madeira, dan hujan turun. Tak besar. Rintiknya hanya bisa membasahi permukaan rambutmu. Namun, aku benci hujan. Terlebih ketika Madeira masih menempelkan kata Open pada depan pintu. Hujan membuat pelanggan enggan mampir untuk mencicipi kue lumpur buatanku.

Kakiku berjingkat melewati genangan yang diakibatkan hujan semalam. Hujan semalam begitu deras hingga menimbulkan banjir di pelbagai sudut Kota Surabaya. Hal yang paling kubenci dari kota ini. Sedikit saja Tuhan mengguyur kota ini, Surabaya menjadi lautan. Banjir di mana-mana. Aku membencinya. Dan, sepertinya hujan semalam akan berulang lagi malam ini.


Madeira tutup pukul lima sore. Terlalu dini bagiku. Tapi, jika tidak kututup ketika senja, aku tak dapat pulang ke rumah. Kadang, aku ingin tinggal saja di Madeira sehingga tak perlu lagi mencari becak untuk mengantarkanku pulang pergi. Terkadang, aku ingin membeli mobil atau kendaraan lain sehingga aku bisa pulang dan pergi sesuka hati. Sayangnya, semua itu masih jauh dari jangkauan.

Tabungan dan warisan yang kudapat dari kedua orangtuaku habis untuk membangun kembali Madeira. Toko kue milik Almarhum Bunda, yang selama bertahun-tahun mati karena pemiliknya pun pergi. Aku kembali membangun toko kue kecil itu dari nol. Sehingga, aku hanya bisa mengontrak sebuah rumah petak yang cukup kutinggali sendiri. 

Seperti biasa, akan ada satu tukang becak yang menungguku di sudut jalan Ketintang. Seperti sebuah hal yang wajar, lelaki berusia lima puluh tahun itu menungguku di sana. Mengantarkanku pulang. 

Pak Ranu, begitu aku memanggilnya. Mantan buruh kantor, yang tak memiliki keahlian apa pun untuk bertahan hidup ketika kantornya terpaksa memberhentikan karyawan mereka karena perusahaan sedang menurun. Dan, Pak Ranu salah satunya. Ketika semua kemewahan yang ditawarkan hidup saat bekerja di kantor mulai terkikis. Pak Ranu, memilih menjadi tukang becak. Satu-satunya keahlian yang ia miliki.

Aku memberi Pak Ranu selembar uang, beliau berterima kasih dan kembali mengayuh pedal becak miliknya bertolak dari rumah kontrakanku. Kurogoh saku tote bag milikku, mencari sebuah kunci untuk membuka pintu. Ketika, aku baru masuk ke dalam rumah, hujan turun deras. Bukan hanya rintikan.

Menjelang tengah malam, hujan baru berhenti. Saat itu, mataku mulai lelah. Namun, telingaku masih terjaga, karena aku dapat mendengar ketukan pada pintu rumah. Kupikir, aku tengah bermimpi. Namun, kian lama ketukan pada pintu rumah kian jelas, beserta suara yang menyebut namaku.

Secara ragu, aku menghampiri pintu rumah. Ada bayangan seorang lelaki di balik kelambu. Membuatku merinding dan berpikir ulang untuk membuka pintu. 

"Dei,"lelaki itu memanggil lagi. "Ini aku,"tambahnya. Aku mengerutkan kening, merasa tak asing dengan suara lelaki itu. Suara yang benar-benar kukenal. Suara yang seringkali berbisik di telingaku.

Setelah daun pintu terbuka, aku mendapati seorang lelaki yang memiliki senyum miring. Memang benar, dia adalah laki-laki yang kukenal. 

Aku tersenyum, berlari memeluknya. 


Lim tak jauh berbeda dari Lim yang kukenal ketika kami di Bandung. Rambutnya masih acak tak beratur, mencuat ke berbagai arah, dan senyumnya yang khas itu selalu kurindukan. Dan, ah, dia memiliki bulu halus pada dagunya. Lim beranjak dewasa. 

Kami duduk di ruang tamu dengan saling memeluk kehangatan secangkir jeruk hangat pada tangan masing-masing. Lim tak banyak bicara. Ada yang terjadi padanya. Nampak jelas pada kedua matanya. Ekspresi semacam ini, hanya kutemukan ketika Lim mengingat kedua orangtuanya. Mendadak hatiku dilanda ketakutan.

"Aku sedang patah hati,"ungkapnya. Aku terdiam, membiarkan ia melanjutkan cerita. "Hah,"ia tertawa hambar. "Kau tahu. Junior. Lucu, dan membuatku patah hati." 

Aku menelan ludah. Lim selalu mengencani gadis-gadis di sekolah, dan selalu mematahkan hati mereka. Sekarang, ia datang dan berkata sedang patah hati. Hal ini membuatku cemburu.

"Aku sudah tidur dengannya,"ucapnya. Aku tak terkejut. "Aku sudah mendapatkan mahkotanya, tapi ia tetap mencintai kekasihnya. Menyedihkan, bukan?"Lim menyesap air jeruk miliknya. "Aku selalu bisa mendapatkan perempuan yang ingin kukencani, Dei."

"Jadi, ini kali pertama kau patah hati?"

"Kedua kalinya,"sahutnya.

"Yang pertama?"

"Sudah lama. Lupakan saja."

Aku terdiam. Memandang Lim yang tengah melamun. Melihat Lim patah hati, lebih menyakitkan daripada melihatnya bersama perempuan. Melihat Lim menyakiti perempuan membuktikan ia tak serius dengan mereka, sedangkan melihat Lim patah hati, membuktikan ia benar-benar mencintai perempuan itu. Siapa namanya? Apa Lim tadi, sudah menyebutkan siapa nama gadis itu?

"Namanya Nai,"ia menjawab. Seakan bisa membaca pikiranku. Dia kembali diam. Lim menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Aku tak tahan melihat ia seperti itu. Kuhampiri Lim, duduk di sebelahnya.

"Ada aku,"kataku. Lim menoleh. Mata kami bersitatap. "Sudah lama sekali. Tapi, semua masih sama."

"Dei,"lirihnya tertahan. Aku mengigit bibirku. Listrik mati, keadaan gelap gulita. Namun, aku masih bisa melihat Lim dalam kegelapan. Kurasakan tangan Lim menyentuh kulit lenganku. Keadaan benar-benar tak terkontrol, dan parahnya aku menikmatinya. Seharusnya, kami sibuk mencari penerangan dan memisahkan diri. Kenyataannya, kami bergeming. Menikmati hadir masing-masing.

Aku tak tahu bagaimana semua bermula, yang kuingat hanya aku terbangun dengan tubuh telanjang dalam kamarku, dan Lim terbaring dengan keadaan yang sama di sampingku. 

Setelah kejadian malam itu, aku tak pernah mendengar kabar Lim. Hingga, ia muncul kembali di pintu Madeira lima tahun kemudian.

***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)