9.15.2015

Kenanga

Hujan tak berarti sendu. Kau saja yang berlebihan dengan mengait-ngaitkannya dengan masa lalu.

Asih masih saja terus berceloteh kepadaku, ketika hujan di luar gedung A5 mulai beradu dengan genting. Seperti yang sudah-sudah, Asih senang ketika hujan turun, itu artinya tidak dosen. Tidak ada dosen berarti tidak ada kuliah dan tugas.
Kenanga, seharusnya kau segera pergi ke kelurahan untuk mengganti akta kelahiranmu. Aku heran, kenapa kedua orangtuamu memberimu nama Kenanga? Bukankah, nama Mawar lebih bagus?


Asih selalu menghubungkan wajah murungku dan kenangan-kenangan yang selalu kubawa itu dengan namaku. Kenanga. Untuk dikenang.
Kau salah, kataku. Semua perasaan ini tak ada hubungannya dengan nama pemberian kedua orangtuaku. Bunga kenanga itu indah.

Indah katamu? Anga, apa kau lupa, kalau bunga kenanga itu selalu ada disetiap pemakaman? Bunga kenanga itu identik dengan kesedihan!

Bukankah, sama halnya dengan bunga mawar? Setiap kelopaknya juga memenuhi rangkaian kematian, balasku.
Paling tidak. Bunga mawar tak mudah rapuh seperti bunga kenanga. Mawar memiliki duri di batang-batangnya. Mereka mampu menjaga diri.

Aku bisa menjaga diri, Asih. Dan, aku bukanlah bunga kenanga. Aku kenanga.

Kenanga, untuk dikenang?



 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)