11.02.2015

Menciptakan Jalan Kita Sendiri




Karena kita terlalu mengkiblat ucapan orang lain, membuat kita lupa, pada siapa sebenarnya kita harus percaya ~ Wulan Kenanga


Ada sebuah cerita, yang entah siapa si pencerita dan kapan cerita ini saya dengar.

        Sebut saja, namanya Fulan. Dia perempuan berusia 24 tahun, single,  pengangguran, hidupnya bergantung pada nasib dan kedua orangtuanya. Suatu hari, dia ingin mengubah hidupnya. Untuk menjadi lebih baik, demi masa depannya kelak. Ia pun pergi, bersama orang-orang lain yang memilki tujuan yang sama dengannya. Dalam perjalanan, si Fulan dihadapkan dengan jurang. Ia sama sekali tak tahu seberapa dalam jurang itu. Yang ia tahu, jurang itu tak terlihat dasarnya dari tempatnya berdiri. Kemudian, ia memutuskan untuk diam - bahkan diam pun sebuah pilihan. Dia berdiri, kemudian duduk, dan berpikir. Apa yang harus ia lakukan? Untuk kembali pun tak mungkin. Karena jika ia kembali, ia akan mengulang segalanya dari awal.


            Fulan frustasi. Putus asa. Di seberang jurang, teman-temannya melambai ke arahnya, menyuruhnya untuk segera melewati jurang itu. Fulan iri, Fulan semakin terpuruk. Ia berpikir bagaimana teman-temannya itu bisa melewati jurang tersebut? Sedangkan ia sangat tahu, jurang ini tak memiliki jalan lain, selain terjun ke dalamnya. Apa teman-temannya itu, berbuat demikian? Ah, kurasa tidak, pikir Fulan. 
             
             Kemudian, Fulan berpikir. Jika dia tidak menemukan jalan lain, tidak menemukan pertolongan lain. Cara satu-satunya agar ia bisa melewati jurang tersebut adalah dirinya sendiri. Ia harus membuat jalan itu sendiri. Maka, Fulan mulai berpikir membuat jalan itu, bukan mencarinya. Fulan menemukan bebatuan di tepi jurang. Batu-batu itu ia ambil satu per satu, melemparkannya ke dalam jurang. Siang malam, ia melakukan hal itu. Sedikit demi sedikit, sambil berharap apa yang ia lakukan membuahkan hasil.

           Di seberang tebing, teman-teman Fulan mencibir, menertawakan, merasa simpati sekaligus meremehkan. Mana mungkin jurang itu akan terisi penuh oleh bebatuan yang ia lemparkan, dan ia segera bisa melewati jurang tersebut? Kadangkala, Fulan berhenti, meratapi nasib, menyalahkan Tuhan kenapa ia tidak seperti teman-temannya, yang mudah mendapatkan sesuatu. Kemudian, ia kembali berfokus pada tujuan hidupnya. Ia bangkit, dan kembali melempar bebatuan tersebut ke dalam jurang. Ia masih tak tahu, apakah ia akan berhasil atau tidak. Yang jelas, ia tidak berdiam diri. Ia memilih untuk membuat jalan hidupnya sendiri. 

           Suatu hari, di hari kesekian, Fulan mulai bisa melihat dasar jurang tersebut. Masih jauh memang. Paling tidak, ia yakin dengan apa yang ia kerjakan selama ini.

             Teman-teman Fulan melesat jauh, berada di seberang jurang. Bahagia, tersenyum, berfoya. Ia juga ingin seperti mereka, ia juga ingin seperti itu. Teman-temannya, kembali mencibir, memandang sebelah mata, menertawakan. Fulan sakit, tentu saja. Frustasi, pasti. Tapi, ia kembali bangkit, terus memercayai rencana Tuhan. Tetap percaya, segala sesuatunya ada yang mengatur. Ia percaya, Tuhan menginginkan ia membuat jalannya sendiri. 


***


Cerita si Fulan mengajarkan kita, bahwa akan ada masanya orang-orang di sekitar kita memandang rendah karena mereka merasa telah melalui jurang tersebut. Jika kita pikirkan kembali, bagaimana mereka melewatinya? Kita tak pernah tahu bagaimana. Bisa saja, mereka melewatinya dengan menjatuhkan kaumnya sendiri. Dengan cara merebut hak orang lain. Fulan si gerak lambat, tapi ia tetap bergerak. Ia tak secepat teman-temannya, ia juga tak seberani mereka dengan turun ke dalam jurang dan mengambil risiko. Maka dari itu, Fulan memilih jalannya sendiri, membuatnya sendiri.

Ketika kita dalam keadaan buntu. Di dalam ruang yang teramat gelap, tak menemukan jalan keluar. Kenapa kita tidak berpikir untuk mendobrak? Untuk membuat sesuatu yang baru? Menciptakan jalanmu sendiri untuk keluar dari keadaan tersebut. 

Kadangkala, orang lain hanya melihat hasil yang kita capai, tanpa melihat kerja keras, peluh, dan sakit yang kita rasakan untuk meraih kesuksesan sekecil itu. Kita tidak pernah tahu, bagaimana kerasnya ia berusaha. Seberapa kuat keinginan dia untuk menyeberang dan meraih apa yang inginkan.

Mungkin, di luar sana ada orang-orang seperti Fulan. Mungkin teman dekat kita, saudara kita, teman komunitas, orang yang kita temui di jalan ketika membeli secangkir kopi, atau bahkan diri kita sendiri.

Fokuslah pada apa yang kamu inginkan, bukan pada apa yang orang lain inginkan. Sadarkah kita, terkadang kita merasa sulit karena terlalu mendengarkan omongan orang? Terlalu ingin membuat semua orang bahagia? Menjadi seperti yang mereka inginkan?

Saya berharap, kita akan terus berusaha mengumpulkan bebatuan itu sedikit demi sedikit, sehingga kita mampu  melewati jurang tersebut. Atau, kita memiliki jalan lain untuk melewatinya? Siapa tahu?

Dan, cerita Fulan di atas adalah karangan saya sendiri, menggambarkan diri saya saat ini.


Salam,

@NonaKenanga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)