12.27.2015

Prolog : After Wedding


Kamar milik seorang pemilik perusahaan cokelat terbesar di Indonesia itu teramat luas. Bahkan, tiga kali lebih luas daripada kamar milik Keira Widia. Tempat tidurnya berukuran double bed, dilapisi seprai putih bersih, dan bantal berkelir senada. Di kanan kiri tempat tidur tersebut terdapat kabinet dengan lampu kamar di atasnya, almari selebar dinding, dan kamar mandi dalam.
                Keira yakin, kamar mandi tersebut pastilah seindah selayaknya kamar mandi hotel bintang lima.
                Betapa beruntungnya Keira, bisa menginjakkan kaki di dalam kamar seindah ini. Bermimpi pun ia tak pernah. Sekarang Keira justru tengah duduk di tepi ranjang berseprei putih tersebut. Kedua tangannya saling bertaut dengan gelisah. Sesekali ia membetulkan anak rambutnya yang terjatuh berkali-kali ketika ia menunduk.

                Aneh rasanya berada di dalam kamar seluas ini. Bagi Keira, kamar kecilnya lebih dari cukup untuk membuatnya nyaman. Lebih jauh menenangkan. Tapi, apa boleh buat? Mulai sekarang ia harus tidur di kamar ini.  Karena ini merupakan keputusannya. Tidak ada yang memaksanya untuk tinggal di sini. Tidak Ibunya, apalagi almarhum ayahnya.
                Terdengar suara helaan napasnya sendiri. Kali ini, Keira menggigit bibir, mencoba merendam kecemasan yang seakan tak berujung.
                “Seharusnya, aku menolak saja,”lirihnya. “Ah, tidak. Ini sudah benar. Aku akan terbiasa,”ia kembali berucap. Jelas, saat ini ia sedang berusaha untuk menghipnotis dirinya sendiri dengan energi positif. Ya, karena itu satu-satunya cara yang bisa membuatnya tetap tenang.
                “Tapi, bagaimana sekarang?”Kali ini ia merisaukan hal lainnya. “Ini pertama kalinya buatku.”Banyak sekali alasan yang membuat Keira begitu panik. Mengenai pesta kemarin malam, dan berlanjut tadi pagi di sebuah gedung mewah. Dan, sekarang mengenai dirinya sendiri.
                Kali ini, Keira mendengar suara pintu terbuka. Sontak hal tersebut membuatnya spontan berdiri, dan degub jantungnya kian menari. Ia menghela napas sekali lagi, kemudian laki-laki yang membuka pintu tersebut melangkahkan kaki ke dalam kamar.
                Laki-laki itu adalah Aldric Raharjo, pemilik pabrik cokelat terbesar di Indonesia.
                Sejak kemarin malam, laki-laki itu resmi menjadi suami Keira.
                Aldric melangkah melewati Keira yang berdiri mematung di sisi ranjang. Laki-laki itu sama sekali tidak peduli dengan keberadaan Keira yang masih mengenakan terusan gaun berwarna hitam tersebut. Keira menunggu. Menunggu Aldric mendekatinya, mengecup keningnya, atau sekadar senyuman. Tapi, laki-laki itu justru sibuk melepaskan jas, kemudian melonggarkan dasi.
                Melihat hal itu, membuat tubuh Keira menegang. Ingat. Ini malam pertama mereka dan ini kali pertama bagi Keira. Karena Aldric pasti sudah teramat sering melakukan hal ini, ia laki-laki.
                Pikiran Keira jauh melayang, apa yang akan dilakukan Aldric padanya nantinya. Bagaimana rasanya? Apa seindah seperti yang diceritakan Meira, sahabatnya yang telah menikah empat tahun yang lalu? Atau justru teramat sakit karena ini pertama kalinya?
                Memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu, membuat perut Keira penuh. Dan, pipinya memanas.
                Astaga, ini akan terjadi juga.
                Tepat ketika Aldric tengah sibuk melepas kancing pergelangan kemejanya, laki-laki itu menoleh ke arah Keira. Pandangan mata keduanya bertemu. Keira yakin, jantungnya sempat berhenti. Lalu, Aldric berjalan ke arahnya, dan itu justru membuatnya semakin tak tenang. Keira semakin gelisah. Astaga, ia begitu gugup.
                Sekarang, jarak mereka tidak lebih dari lima puluh centi. Keira bisa merasakan hangat kehadiran Aldric di depannya.
                “Apa kau tidak akan melepas baju itu?”tanya Aldric. Keira baru saja akan membalas, tapi laki-laki itu berkata, “Terserah kau, mau melepasnya atau tidak.”Sontak kalimat Aldric membuat mata Keira menatap lurus ke arahnya.
                Aldric menarik sudut bibirnya, meletakkan kedua tangannya di bahu Keira, kemudian mendekatkan wajahnya.
                Keira menahan napas, menelan ludah, dan memejamkan mata. Lalu, Aldric berbisik di telinganya. “Kita memang sudah menikah, tapi tidak akan pernah ada malam pertama ataupun malam-malam selanjutnya.”Suara Aldric begitu lirih, tapi Keira mampu mendengarnya dengan jelas. Tentu saja, kalimat tersebut membuat Keira membuka mata, dan tubuhnya semakin memanas.
                “Malam ini, kuijinkan kau tidur di kamarku. Selanjutnya, kau tidur di kamar tamu.”
                Keira tahu, pernikahannya tidak akan pernah mudah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)