12.26.2015

Kenapa Harus Kenanga?

Hal yang paling menyakitkan adalah dilupakan - Wulan Kenanga


Pada bulan Ramadhan beberapa tahun yang lalu, saya mendapatkan undangan reuni SMP. Tentu, saya mengikuti acara tersebut. Acara reuni dilaksanakan di sekolah kami dahulu. Di sana, kami sekadar berkumpul, makan-makan, salat tarawih berjamaah. Lalu, ketika saya dan dua teman perempuan saya duduk-duduk, teman laki-laki kami datang.

"Ayo-ayo, masih kenal aku nggak?"seru salah seorang teman perempuan saya. 

"Kenal, dong!"sahut teman laki-laki saya tersebut. Lalu, ia menyebutkan nama satu persatu kedua teman saya. Saat tiba waktu menebak nama saya, dia terdiam. Berpikir keras. Sampai-sampai kedua matanya memejam dan bibirnya mendesis pelan. Dahinya juga menunjukkan kerutan yang sangat jelas. Meskipun, dia berusaha mengingat, dia sama sekali tidak mengingat saya.


Hal itu sangatlah wajar. Selama ini, saya hanya sebuah bayangan yang hidup di antara dalam bayangan lainnya. Keberadaan saya terlupakan. Ada atau tidaknya saya bukanlah hal yang perlu dipusingkan.

Saya ada, hanya jika mereka membutuhkan saya saja. Semacam ruang kebutuhan di serial Harry Potter.

Saya merupakan salah seorang murid yang suka cari aman. Nilai pun tidak pernah mencolok - terlalu bagus pun tidak, terlalu jelek pernah. Saya juga merupakan murid yang pendiam, lebih suka menjadi pendengar, orang dibalik layar, dan menjadi suportter dalam hati. Yang jelas, saya tidak suka terlihat. Saya lebih suka dengan diri saya sendiri, beserta orang-orang yang membuat saya nyaman pula.

Lambat laun, ada sesuatu dari dalam diri saya yang memberontak. Semacam sesuatu yang selama ini saya tahan untuk tidak menimbulkan masalah. Tanpa saya sadari, saya pun ingin dikenal. Ingin disapa ketika saya lewat, ingin menjadi orang pertama yang diingat dan dilihat. Saya pun, mulai memperkanalkan diri saya dengan sebutan lain. Sebutan yang nantinya akan mereka kenang dan ingat. 

Suatu hari, ketika saya dan Mbak Swastikha membicarakan mengenai nama, saya merasa nama saya teramat pasaran. Akun-akun di sosial media, nama situs pun sudah banyak yang memakai nama panjang saya. Akhirnya, saya mencari-cari nama pena yang cocok untuk menggambarkan diri saya.

Kenanga.

Awalnya, Mbak Swastikha nyeletuk dengan nama Wulan Kenangan. Lalu, saya membenarkan dengan Wulan Kenanga. Bukan tanpa sebab saya memilih nama itu. Sebelumnya, saya menyebut diri saya Perempuan Pemeluk Kenangan (yang akhirnya saya buat untuk judul naskah Welan). Saya menyebut diri saya seperti itu, karena saya tipe perempuan yang terikat dengan masa lalu. Sebuah kisah klasik. Selain itu, Kenanga juga nama dari bunga. Tergabung dalam bunga-bunga yang dipakai untuk orang meninggal dunia. Sekarang, saya mengerti kenapa Bunga Kenanga termasuk di dalamnya.

Bunga Kenanga, berarti dikenang. Orang-orang meninggal itu disekar dengan Bunga Kenanga itu untuk dikenang. Untuk selalu diingat, dan tak akan terlupakan. Mungkin, saya juga ingin seperti itu. Tapi, ketika kelak saya tiada, saya tidak hanya ingin dikenang sebagai Wulan Kenanga yang menghabiskan hidup di media sosial. Tapi, juga dikenang sebagai seorang penulis. 

Jangan mati hanya meninggalkan nama, tapi juga meninggalkan karya - Wulan Kenanga


Akhirnya, saya pun memutuskan untuk memakai nama tersebut untuk membranding diri saya sendiri. Untuk karir yang akan saya nikmati hasilnya kelak. Saya memang perempuan penuh dengan imajinasi dan mimpi. Saya berharap, jalan yang saya tempuh merupakan pilihan yang tak akan saya sesali kelak.




Wulan K. 

3 komentar:

  1. Untung sy belum pernah mengalami kejadian seperti mba kenanga. Kalo lupa nama orang sih iya. Tapi kalo ada yang tidak ingat nama sy, yah tidak apa-apalah, doaakan saja dia :D

    BalasHapus
  2. Kenanga untuk dikenang... btw ada makanan juga yang namanya pake kenanga... mungkin itu salahsatu maksudnya

    BalasHapus
  3. Menulis adalah bekerja untuk keabadian, begitulah janji Mbah Pram dalam tetralogi buru-nya. Good luck dengan dunia literasinya, mba. Kenangan tak hanya sekadar kenangan, kenangan juga bisa diartikan kena di angan, semoga tiap tulisan mba Wulan bisa kena di angan setiap pembacanya. :D

    Salam kenal,
    http://penjajakata.com/

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkomentar :)