12.29.2015

Kita Memang Berbeda, Kenapa Harus Memaksa Untuk Sama?


Fin melambaikan tangan ke arahku, ketika melihatku duduk-duduk di selasar kampus. Laki-laki itu berlari kecil ke arahku dengan buku di tangan kanannya. Tas ranselnya, dan kalung salibnya bergerak seiring irama tubuhnya.
                “Maya,”ia memanggilku. Aku tersenyum, dan menggeser tubuhku untuk memberinya tempat duduk di sampingku. “Nggak ada kelas?”ia bertanya.
                “Lagi kosong,”jawabku. “Bu Melisa lagi sakit. Hanya dikasih tugas,”jelasku. Fin mengangguk. “Kamu sendiri, nggak ada kelas?”tanyaku balik.
                “Nggak ada,”sahutnya.”Ke sini mau ke forum nanti.”
                “Forum Ilmu?”tanyaku. Forum Ilmu merupakan forum yang dibentuk oleh mahasiswa Teknik. Sekadar tempat untuk berkumpul dan berbagi. Biasanya dosen-dosen maupun para ahli dibidangnya, akan berbagi dalam forum tersebut. Acara dilaksanakan setiap dua minggu sekali. Biasanya, aku juga mengikuti acara tersebut. Melalui forum itu juga, aku mengenal Fin.

                Siang itu, Lalit, penanggung jawab hari itu kebingungan. Pasalnya, Reindra, pembicara dari mahasiswa alumni, tidak dapat hadir. Waktunya mendesak sekali. Sekitar satu jam sebelum acara, Reindra jatuh sakit. Entah penyakit apa yang dideritanya kambuh. Lalit, kelimpungan. Masiswa sudah berkumpul di aula. Sudah menunggu kedatangan Reindra. Lalu, Lalit, melihat Fin yang berjalan ke arah aula, hendak mengikuti acara tersebut.
                Singkat cerita, Fin diminta untuk menjadi pembicara. Sangat mendadak. Fin akhirnya menggantikan Reindra. Ia berbicara banyak hal di depan, tentunya tanpa persiapan. Sebelum berbicara, ia mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Kemudian, meneguk teh panas yang disediakan Lalit.
                “Saya nggak tahu harus berbicara apa, karena ini mendadak sekali,”ia membuka suara. “Saya tadi ke sini untuk mendengarkan, tapi tahu-tahu Lalit meminta saya untuk berbicara.”Suaranya terdengar tenang, ia terlihat seperti seseorang yang sudah terbiasa di depan audience. “Ada usul kita bahas apa hari ini?”
                Teman-teman yang lain pun saling bersahutan memberikan usul. Di depan Fin mangangguk-angguk, matanya meniti kami satu persatu, tepat ketika melihatku ia tertegun sebentar, kemudian melanjutkan melihat wajah masiswa lain.
                Aku tidak tahu mengapa, saat itu ada perasaan asing yang diam-diam menyusup ke dalam hatiku.
                Fin akhirnya, bercerita mengenai pengalamannya di alam liar. Nampaknya, dia adalah pecinta alam dan suka naik gunung. Teman-teman memerhatikan dengan penuh minat, dan tak jarang mereka tertawa cekikikan kala Fin melemparkan guyonan.
                Untuk orang yang tak punya persiapan sama sekali, ia teramat ahli.
                “Dadakan lagi?”tanyaku pada Fin. Sejak saat itu, ia teramat sering diminta mengisi acara Forum Ilmu. Seakan dia merupakan pengisi materi yang siap dipanggil kapan saja.
                Fin mengangguk.
                “Sudah punya bahan?”tanyaku kembali.
                Lagi-lagi, Fin menggeleng. “Tapi, aku punya ide.”
                “Apa?”
                “Perbedaan.”
                “Tentang?”
                “Apa pun.”
                Aku tertawa kecil. “Rancu.”
                Fin tertawa. “Menurutmu?”
                “Apa?”
                “Perbedaan itu.”
                Aku berpikir. Diam cukup lama. “Banyak hal yang membuat setiap individu berbeda, karena mereka memang dilahirkan berbeda,”ujarku. “Kamu tahu teman kita, Kaira dan Keira, yang selalu hadir di forum?”Fin mengangguk. “Mereka kembar, tapi tidak identik. Setiap orang tahu, kalau manusia dilahirkan bersama, maka mereka kembar. Manusia selalu berpikir, kembar itu sama. Tidak ada perbedaan. Tapi, pada kenyatannya, Kaira dan Keira tidak sama. Mereka berbeda.”
                “Dalam hal?”
                “Pemikiran,”sahutku. “Boleh saja darah yang mengalir di tubuh mereka sama, bentuk hidung mereka serupa, cara mereka terseyum tak punya beda. Tapi, cara berpikir mereka tidak  sama.”Aku menjelaskan bahwa, bisa saja cara berpikir mereka dipengaruhi oleh diri masing-masing, dari fenomena yang mereka lihat, dari pergaulan mereka. Bahkan, aku sendiri melihat mereka berbeda. Dari cara mereka mengikat rambut, dari cara mereka berpakaian. Mungkin juga, mereka sendiri yang ingin terlihat berbeda.
                “Akan ada saatnya, kita ingin terlihat berbeda, bukan?”lanjutku.
                “Apa kamu setuju, kalau aku bilang perbedaan ada karena kita yang menciptakannya seperti itu?”ujar Fin. Aku menggendikkan bahu. “Misalnya, kita. Aku terbiasa berbicara di depan banyak orang, sedangkan kamu tidak. Kamu lebih memilih menjadi pendengar, orang yang berdiri di belakang panggung.”Dia mengambil jeda. “Perbedaan semacam itu, merupakan perbedaan yang seharusnya seperti itu. Tidak semua orang menjadi pembicara, bukan? Pembicara butuh pendengar. Panggung besar dengan orang-orang hebat pun butuh seseorang yang berdiri di belakang mereka.”
                “Ironinya, kita sendiri yang menentang perbedaan. Perbedaan pendapat, perbedaan dalam memilih sikap, perbedaan dalam politik. Masalahnya di mana? Perbedaan? Jika, kita semua sama, kita nggak akan punya pesaing bukan? Apa menariknya?”
                “Tapi, Fin. Ada perbedaan yang memang tidak bisa kita satukan,”sahutku. Fin menatapku, menautkan kedua alisnya. Aku tersenyum. “Kepercayaan.”
                Fin tersenyum.
                “Perbedaan kepercayaan memang diharuskan untuk hidup bersisihan, tapi bukan di jalan yang sama, apalagi disatukan.”Aku melanjutkan.
                “Ya, memang akan ada-ada hal yang tak bisa kita satukan. Memang perbedaan diciptakan untuk bersisihan bukan disatukan. Bagaimanapun, perbedaan tetaplah perbedaan. Kita nggak bisa mengubah hal itu.”
                Aku tersenyum, kemudian melirik jam di pergelangan tanganku. “Baiklah, sudah waktunya,”kataku, sembari beranjak dari duduk. Fin melirik jam di pergelangan tangannya. Saat ia melakukan hal itu, lagi-lagi mataku tertuju pada kalung salib yang ia kenakan.
                “Ah, iya. Ayo, bareng,”katanya.
                Aku mengangguk dan membetulkan letak jilbabku. Kami berjalan bersisihan ke arah aula yang terletak di sebelah Masjid.
                Seperti yang kami katakan tadi, ada perbedaan yang tidak bisa kami tembus. Kami hanya bisa menjalaninya dengan berjalan besisihan. Bukan saling mendahului, bukan juga dengan berdiri di belakang. Tapi, bersama-sama di jalan kami masing-masing.

-Wulan Kenanga –
Mojokerto, 29 Desember 2015-12-29

10:43 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)