12.13.2015

Penyakit Tak Akan Mengubah Siapa Dirimu



Saya punya seorang kawan, kami berteman sejak kelas satu SMA. Ia memiliki rambut hitam ikal, kulitnya coklat, hidungnya kecil, begitu juga dengan bibirnya. Yang paling kentara dari wajahnya adalah dagunya lancip dan ada setitik tahi lalat di sana. Namanya Foni Fidiawati.

Semasa SMA kami satu kelas selama tiga tahun. Bahkan, ketika mulai kelas dua SMA, kami duduk bersisihan. Dia perempuan yang ceria dan terkesan lugu. Saya sering bertandang ke rumahnya dan lumayan akrab dengan kedua orangtuanya. Untuk mencapai rumahnya, saya harus melewati jalanan yang berbatu, kemudian melewati sungai besar, dan undakan tajam. Iya, rumahnya terbilang pelosok. Daerah pegunungan. Rumah Foni tepat di puncak undakan. Dulu, seringkali saya meminta Foni untuk membonceng saya saat melewati jalan berbatu itu. Saya takut. 


Bukan hanya saya yang sering main ke rumah Foni. Dia pun begitu. Saya masih ingat betul ketika ia datang ke rumah. Di rumah Foni menyapu, mengepel lantai. Bukan saya ataupun keluarga saya yang menyuruh, tapi itu atas dasar keinginannya sendiri. 

Menginjak kelas tiga, Foni mulai meluruskan rambutnya. Seragam putih abu-abunya mulai dipersempit. Kami mulai tumbuh dewasa. Main lirik lawan jenis. Berpacaran. Terkadang, kami juga sering berselisih paham, tapi kami tetap berteman. Sampai akhirnya, kami harus meninggalkan masa sekolah. 

Lulus SMA Foni menikah, saya datang ke pernikahannya sehari sebelum acara, karena saya harus kuliah esok harinya. Setelah pernikahannya, saya dan Foni tidak pernah saling berkomunikasi. Ia mengganti nomor ponselnya, saya tak tahu cara menghubunginya atau memang saya membiarkannya begitu. 

Setelah lama tak ada kabar, Foni kembali muncul. Kami berkomunikasi kembali. Saya datang ke rumahnya, saat itu anaknya Dido masih kecil, belum bisa berjalan. Kami saling bercerita, mengenang masa lalu. Lalu, Foni kembali menghilang dan lagi-lagi saya tidak ambil pusing. Mungkin dia sedang berada di rumah suaminya. Mungkin ia sibuk dengan rumah tangganya.

Bulan puasa lalu, ia kembali muncul. Kali ini bukan lewat sms, tapi lewat BBM. Dia kembali mengirimi saya pesan, bertanya kabar, bagaimana kehidupan saya. Saya ingat betul ia pernah mengirim saya pesan, "Wulan kamu kok cuek sekarang? Nggak seperti dulu, yang selalu terbuka denganku."Waktu itu, saya berpikir, siapa dia? Sekian lama menghilang, kemudian datang dan merasa menjadi seorang yang paling mengerti saya?

Memang, saya sudah tak bisa sebebas dulu bercerita padanya. Terlalu banyak bagian yang hilang di antara kami. Jika saya menceritakan sedikit hal pada masa sekarang, maka saya harus menceritakan segalanya padanya. Agar dia mengerti, agar dia paham. Maka, daripada saya harus memulai segalanya sejak awal, saya memilih untuk diam. Untuk tak bercerita apa-apa.

Lagi-lagi, Foni menghilang padahal sebelumnya saya berjanji akan main ke rumahnya. Saya tidak tahu, kenapa perempuan itu suka sekali timbul tenggelam seperti itu. Meskipun saya begitu cuek padanya, di sisi lain saya juga merindukannya. Tapi, terkadang saya benci menjadi melankolis di saat-saat tertentu. Seperti ketika saya mengingat teman-teman semasa SMA atau masa kuliah. Mengingatnya membuat hati saya pilu, maka saya memilih untuk melupakan.

Sekuat apa pun saya merindukan masa lalu, ia akan tetap menjadi masa lalu.
Beberapa minggu yang lalu, BBM Foni kembali aktif. Ia mulai kembali bertanya kabar atau sekadar basa basi. Saya pun kembali berjanji akan main ke rumahnya. Kemudian, di chat grup seorang teman berkata bahwa Foni sakit. Saya terkejut. Saya yang teman dekatnya sama sekali tak mengetahui hal tersebut. Akhirnya, saya mengirimi dia pesan, bertanya lebih lanjut.

"Fon, beneran kamu sakit?"tanyaku.
"Iya, Lan. Tenang saja, temenmu ini kuat kok,"balasnya.

Terus terang, saya mulai menyesal. Menyesal telah sering mengabaikan pesannya. Menyesal karena sudah tak peduli dengan keadaanya. Saya pun tak banyak berkata, karena saya memang tak tahu harus bekata apalagi. Di hari Sabtu siang itu, akhirnya saya ke rumahnya. Bertemu dengannya secara langsung.

Kini, jalan bebatuan ke arah rumah Foni sudah halus. Beraspal. Jauh berbeda dengan dulu. Rumah keluarga Foni masih tetap di ujung undakan. Kala itu, keluarga besarnya kumpul. Bapak, Ibu, Mbaknya semua lengkap. Foni menyambut saya. Lekuk senyumnya masih sama, tahi lalat di dagunya pun masih ada. Tapi, dia begitu kurus.

"Iyalah, Lan. Punya penyakit begini,"ujarnya, ketika saya bilang ia kurusan.

Saya dipersilakan masuk ke dalam rumah, disuguhi teh panas. Kemudian, cerita mengalir. 

Foni terkena penyakit kanker hati. Stadium 4. Ia baru mengetahuinya bulan puasa lalu. Saat ia muncul kembali di BBM waktu itu, ia belum tahu. Tapi, sudah sejak lama ada benjolan pada perutnya. Ia cuek saja, karena tidak sakit. Kemudian, ia mulai rasa sakit waktu itu dan dokter menyatakan ia terkena hepatoma, atau kanker hati.

Ia bercerita dengan mata berkaca-kaca, tak melihat ke arah saya, tapi matanya menatap lurus ke arah luar jendela. Seakan-akan di luar sana ada hal yang menarik.  Saya terus menerus melihat tubuhnya yang kurus, perutnya yang buncit, pergelangan tangan dan kakinya kecil. Saya mati-matian untuk tidak ikutan menangis dan mendekat memeluknya. Sekuat tenaga saya menahan keinginan itu. 

"Aku capek ngerasain tubuhku, Lan,"keluhnya. 

Saat itu, memori ketika kami ujian olahraga bersama, senam bersama, tidur di bawah satu atap, belajar bersama, memenuhi otak saya. Rasanya ngilu sekali. Saya benar-benar ingin mengulang waktu, agar dia kembali sehat. Agar dia tetap menjadi Foni kawan saya.

Saya pun ingin tahu, apa sebabnya sehingga ia terkena penyakit tersebut. Segala sesuatu yang terjadi pada kita tentu ada sebabnya, bukan? Tentu, selain dari kehendak-NYA.

"Obat pelangsing, Lan,"ia berkata. "Sebelum ada Dido, aku sudah konsumsi. Setelah Dido lahir, aku konsumsi lagi,"lanjutnya. "Mungkin, yang terakhir kemarin dosisnya terlalu kuat. Dua ratus ribu. Beli di dokter."

"Aku nyesel, Lan. Capek ngerasin tubuhku,"ia kembali berkaca-kaca. "Jalan jauh sedikit pun aku sudah nggak kuat."

Saya tidak lama-lama berada di rumah Foni. Rasanya, hati saya terlalu rapuh untuk terus melihat dia. Foni sendiri terlihat lelah. Biar dia istirahat siang itu. Saya berharap ia akan kembali pulih seperti sedia kala. Sebelum pulang, saya memberinya satu pelukan. 

"Yang kuat, ya."

Sampai di rumah, saya sulit tidur. Di dalam otak saya terpikirkan masa SMA kami yang lugu. Saat itu, kami sama sekali tidak tahu, jika di luar sana masih banyak masalah yang lebih sulit daripada remidi Matematika. Saya masih belum percaya, ada semacam penyakit yang menggerogoti tubu kawan saya. Rasanya sedih, takut, dan entahlah.


Salam,

Wulan Kenanga




6 komentar:

  1. Ayahku pernah kena kanker hati. Biasanya gak berupa benjolan gitu sih. Tapi air seninya yang coklat tua bahkan sepenuhnya darah kehitaman gitu. Bisa sembuh ayahku dg suntikan kemo 72 kali..cuma biayanya emang banyak banget sih

    BalasHapus
  2. Ayahku pernah kena kanker hati. Biasanya gak berupa benjolan gitu sih. Tapi air seninya yang coklat tua bahkan sepenuhnya darah kehitaman gitu. Bisa sembuh ayahku dg suntikan kemo 72 kali..cuma biayanya emang banyak banget sih

    BalasHapus
  3. obat pelangsing... ga jaminan juga walopun itu dari dokter ya... makanya aku lbh percaya puasa dan olahraga obat paling manjur utk langsingin bdn :(...

    BalasHapus
  4. NGilu ngebacanya, tfs ya Lan....jd pelajaran buat kita semua.

    BalasHapus
  5. Ini yang kamu ceritain kmrin yo lan.. sumpah terharu q bacanya. Ikutsedih

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkomentar :)