12.26.2015

Seperti Mereka Bilang, Perbedaan Itu Indah

Sejak kecil, saya hanya mengenal satu agama, yaitu agama Islam. Bukan berarti di sekolah kami tidak diberitahu mengenai agama lain. Agama yang diakui di Indonesia. Tentu saja saya tahu. Mengenai lima agama yang diakui di Indonesia tercetak jelas di buku-buku pintar. Kami sangat hafal mengenai lima agama tersebut. Tapi, saya sama sekali tak pernah berteman atau bertemu dengan agama lain, selain agama islam.

Karena saya hidup di negara dengan mayoritas penduduknya memeluk agama Islam.

Saya tahu, dan saya sadar membicarakan mengenai agama adalah hal yang riskan. Terlalu banyak hal yang bersimpangan jika membicarakan mengenai kepercayaan. Bukan sekadar mengenai agama, tapi juga kepercayaan mengenai politik atau seks. Tapi, baru-baru ini saya mulai berani untuk berbicara mengenai hal ini. Bukan untuk menggurui, dan bukan untuk menjatuhkan salah satu agama. Saya sekadar ingin berbagi. Menceritakan pengalaman saya.


Saya sekadar mendengar cerita mengenai agama lain, tidak benar-benar mengenalnya. Maka, ketika saya kelas satu SMP, saya merasa "wah" ketika memiliki teman beragama Kristen. Namanya, Cyntia. Kami tak dekat, sehingga saya sama sekali tak mengenalnya. Suatu hari, saya dan beberapa teman dekat saya sedang meributkan mengenai tugas matematika yang belum rampung. Kami kebingungan mengenai cara menyelesaikan soal tersebut. Guru kami, selalu berkata, untuk mengerjakan soal beserta caranya, bukan asal jogja - njoJOG saJa. Lalu, Chyntia menghampiri kami, dia membantu kami menyelesaikan soal Matematika tersebut. Sejak saat itu, saya baru mengenal pemeluk agama lain, selain agama Islam.

Saya pun, menceritakan pada Ibu, "Bu, ternyata agama Kristen itu baik, ya?"Kala itu, saya masih terlalu muda untuk mengerti. Bagi saya, perbedaan itu buruk. Pemeluk agama lain selain agama Islam itu bukan orang baik. Begitulah yang saya tangkap dari ajaran-ajaran yang saya pelajari. Tapi, hari itu saya berpikiran lain. Chyntia anak yang baik, supel, ceria, dan cantik. 

Saya sering mendengar bahwa, orang Kristen selalu melarang orang Islam untuk salat, ketika waktunya tiba. Saya mendengar cerita tersebut dari mulut ke mulut. Dari teman-teman yang mendapatkan cerita dari sanak saudaranya yang bekerja dengan perusahaan pemeluk non-muslim. Saya juga mendengar cerita-cerita mengenai agama non-muslim yang menggunakan berbagai cara agar kami masuk ke dalam agama mereka. Saya pun menelan mentah-mentah cerita tersebut. Karena saya tidak terjun langsung atau mengalami langsung hal itu.

Lagi-lagi, cerita-cerita tersebut terbantahkan. 

Ketika saya masuk kuliah, saya mendapatkan kos di rumah yang pemiliknya memeluk agama Kristen. Saya pun takut ketika nantinya saya dilarang salat, meskipun saat itu saya jarang sekali salat. Dalam kosan tersebut, tak hanya pemiliknya saja yang beragama Kristen, tapi juga ada penghuni kos yang beragama Kristen. Kali pertama saya kos di sana, adalah ketika bulan Ramadhan tiba.

Semua cerita yang pernah saya dengar dan persepsi yang saya ambil ketika SMA terbantahkan. Tante - pemilik kos - membuka katering untuk kami sahur ketika bulan Ramadhan. Bahkan, Tante tidak segan-segan memberi kami takjil berupa kolak secara gratis ketika berbuka puasa. Oma dan Opi, anak Tante, juga sangat baik kepada saya dan anak kos lainnya. 

Dikosan tersebut, saya mengenal Ressa. Pemeluk agama Kristen juga. Asal Ende, Nusa Tenggara Timur. Dia memiliki rambut keriting, kulit coklat, dan hidung mancung. Ressa juga berpostur tinggi dan kurus. Kami sangat dekat. Bahasnya lucu ketika berbincang dengannya. Kami sering memasak bersama di dapur. Patungan untuk membeli makan. Lalu, ketika teman sekamar saya pindah, saya dan Ressa satu kamar. Suatu hari, ketika saya usai salat, Ressa berkata, "Wul, aku seneng deh, lihat kamu salat."

Ressa hapal dengan sifat saya yang jarang salat.

Lambat laun, saya pun mengenal beberapa kenalan yang memeluk agama lain. Tidak ada satupun dari teman saya itu yang seperti dikatakan di cerita-cerita yang pernah saya dengar. Bahkan, salah satu teman saya selalu mengajak kami ke rumahnya ketika tanggal 25 Desember tiba. Bukan, untuk merayakan hari Natal, tapi sekadar makan-makan.

Saya juga mengenal pemeluk agama lain di Jogja. Mereka meberi saya dan teman saya tumpangan di sana. Bahkan, Mas Ciko, menganggap saya adiknya sendiri. Mengantarkan saya dan teman saya keliling Jogja. Dan, membelikan kami tiket untuk pulang.

Terakhir, saya mengenal Kapten. Kami sudah lama saling mengenal lewat dunia maya, dan pernah sekali bertemu di Jogja waktu itu. Dia Cina. Kami sering berkirim pesan lewat BBM. Kami sudah seperti sahabat. Saling berbagi, memberi semangat, curhat. 

Semakin ke sini, saya mengerti bahwa kebaikan seseorang tidak diukur dengan kepercayaan dan agama apa yang mereka peluk dan percayai. Kebaikan manusia dilihat dari siapa diri mereka sendiri.

Sangatlah tidak pantas jika saya membedakan seseorang dari apa yang mereka peluk. Dari apa yang mereka miliki. Seharusnya, kita juga bisa berbaur dengan sesama. Tidak merasa paling benar. Tidak merasa paling suci. Karena pada dasarnya, mereka juga sama dengan kita. Mereka juga memiliki hak yang sama.

Bukankah Tuhan sendiri yang menginginkan kita untuk bersatu dalam perbedaan dan kepercayaan masing-masing? Jika, Tuhan menginginkan kita umat di bumi ini memiliki agama yang sama, bukankah Tuhan bisa dengan mudahnya membasmi segala perbedaan yang ada?

Wulan K.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)