12.14.2015

Takkan Pernah Menyesal

Riuh rendah kendaraan terdengar sampai di tempat di mana aku duduk. Suara klakson mobil dan motor saling bersautan dengan suara bajaj beserta suara para kenek bus. Resto ini tepat di sebelah jalan raya ibu kota. Ramai, berisik, dan penuh.

Resto ini bukanlah tempat yang tepat untuk menyendiri, menjauhkan diri dari kepenatan ibu kota yang setiap hari semakin menjadi momok bagi semua para pencari kepuasan. Sebuah kepuasan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari orang lain. Kepuasan untuk menurut mereka bisa membuat hidup lebih berarti. Pada dasarnya mereka hanya sedang bersandiwara. Membohongi diri sendiri dan orang lain kalau mereka hidup bahagia.


Seperti diriku.

Aku menyukai tempat ini. Duduk di tepi jendela melihat orang-orang berlalu lalang dengan rutinitas mereka. Seorang pria di balik kemudi dengan dahi berkerut dan telepon di telinga. Seorang tukang becak yang berkali-kali mengelap keringat yang bercucuran bersamaan dengan ibu-ibu gendut yang duduk di kursi penumpang. Bahkan, aku menyukai suara pengamen yang bernyanyi asal-asalan di perempatan lampu merah. Aku bisa menyaksikan itu semua dari sini. Seperti sebuah hiburan buatku.

Kuambil sebatang rokok di depanku dan menyulutnya hingga menimbulkan asap-asap yang memenuhi rongga mulut dan hidung. Sudah sejak dua bulan terakhir aku menyentuh benda ini. Benda yang dulu kujauhi dan kubenci. Benda yang berkali-kali membuatku marah karena Gilang selalu menghisapnya.

Kuhembuskan napasku lagi dan lagi.

Ya. Gilang. Mantan kekasihku. Dia resmi menjadi mantan kekasihku sejak enam bulan lalu. Sepertinya aku tidak perlu lagi membicarakannya, karena dia sudah menjadi masa laluku.

Mendadak mataku menangkap sesuatu yang membuatku tertarik. Seorang pria sedang memegang tangan seorang perempuan di hadapannya. Mereka duduk tidak jauh dariku, tetapi tetap saja aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan sang pria hingga membuat sang perempuan tersipu. Meskipun begitu aku bisa menebak apa yang dikatakan sang pria.

Pria itu mengeluarkan sebuah cincin perak dari kotak dilapisi kain bludru berwarna merah darah dan menyelipkan ke jari manis sang perempuan. Perempuan itu sedang dilamar.

Aku mengerti bagaimana rasanya jadi perempuan itu. Hati yang meletup-letup, seperti pertama kali mendengarkan pernyataan cinta sang pria meskipun sudah lima tahun berpacaran. Ya. Aku pernah berada di posisi perempuan itu. Tempat yang sama, dan posisi duduk yang sama. Namun, berbeda ending.

***

Saat itu, cuaca di luar resto mendung dengan titik-titik hujan yang membuat genangan air di mana-mana. Beberapa pengendara motor berteduh di emperan toko dan beberapa lagi berteduh di dalam resto. Memesan secangkir teh panas dan menikmati alunan musik jazz yang selalu terdengar saat memasuki resto.

Gilang menatapku tepat di kedua bola mataku. Dia terlihat rikuh dan gelisah. Namun, kedua bola matanya yang sayu tak melepaskan pandangannya dariku.

“Kau kenapa?”tanyaku. “Kedinginan?”

Dia tersenyum, lalu menyeruput kopi hitamnya. “Apa menurutmu sekarang ini waktu yang romantis?”

Kukerutkan dahiku. Melihat sekeliling kami. Resto penuh dengan orang-orang yang basah kuyup, beberapa pelayan hilir mudik di sebelah meja kami, dan seorang nenek-nenek terbatuk-batuk di sudut ruangan.

“Cukup romantis.”jawabku. “Bukankah hujan selalu membawa suasana romantis?”tambahku.

Dia tersenyum lagi. Kupikir dia sedang gugup. Entah, kenapa dia seperti itu.

Gilang menarik napas dan merogoh saku jaketnya,”Kalau menurutmu sekarang waktu yang romantis, mungkin sekaranglah saatnya.”dia meraih tanganku dan menyelipkan sebuah cincin perak di jari manisku.

“Ini…?”kalimatku terputus.

“Menikahlah denganku,”katanya.

Aku tersenyum. Perutku terasa penuh hingga membuat jantungku berdegub. Kurasakan wajahku memanas. Aku bahagia dan kemudian aku kebingungan.

“Menikah?”tanyaku. Dia mengangguk. Aku terdiam. Menatap lurus ke arah cincin yang masih berada di jari manisku.

“Kenapa? Sudah saatnya, bukan?”

“Aku belum siap,”kataku. Gilang terlihat kecewa. Dia menyandarkan tubuhnya. Lalu, menatapku kembali menuntut penjelasan. “Kau tahu aku masih punya impian yang belum kuraih.”

Gilang mengerutkan keningnya.” Jadi, yang kau maksud aku menghalangi impianmu?”

“Tidak. Bukan seperti itu.”

“Lalu?  Kita sudah saling mengenal sejak bangku SMU! Kau tahu aku selalu mendukung semua impian-impian yang kau inginkan!”urat leher Gilang tercetak jelas. Rahangnya terkatup keras. “Kau sudah menjadi penulis! Dan sekarang apa lagi impianmu?”

“Kemarin Pak Suryana menawariku menulis skenario untuk filmnya. Dan, aku menerimanya.”

“Kau bisa mewujudkan impianmu itu dan sekaligus menjadi istriku. Ibu dari anak-anakku,”mohonnya.

Aku menggeleng kuat-kuat,”Aku takut, Lang. Aku takut konsentrasiku akan terbagi. Aku belum siap.” kulepas cincin yang tersemat di jari manisku dan kuletakkan di telapak tangan Gilang.”Maaf.”

Gilang kecewa. Dia menunduk tanpa melihat ke arahku. Sedangkan aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa.

Aku menginginkan Gilang. Bahkan sebuah pesta pernikahan sudah kuimpikan sejak kami resmi berpacaran beberapa tahun yang lalu. Saat kami masih mengenakan seragam putih abu-abu, saat semua terlihat mudah, dan saat Gilang adalah impianku satu-satunya. Kini sudah berbeda. Memiliki Gilang dan menikah dengannya masih menjadi impianku, tetapi keinginan itu tidak sebesar dulu. Aku ingin menikah sama seperti keinginan perempuan lainnya, tetapi tidak sekarang. Tidak saat ini. Saat aku memiliki puncak popularitas.

Gilang berdiri dari tempat duduknya. Matanya membulat melihat ke arahku. Kulihat kemarahan berkumpul di kedua bola mata itu.”Raihlah mimpimu tanpa aku, Ndis.”dia berbalik tanpa melihat ke arahku lagi. Itu adalah hari terakhir pertemuan kami.

Gilang tidak pernah tahu bagaimana aku meneteskan air mata. Menyalahkan diri sendiri karena terlalu egois. Tapi, aku tidak pernah menyesali keputusanku sampai saat ini.

Bahkan, saat aku melihat dia melamar perempuan lain di depanku, di tempat yang sama seperti dia melamarku dahulu. Aku tidak menyesali keputusanku.

-Wulan Kenanga-

Surabaya, 17 Februari 2014

21:46


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)