1.18.2016

Begitu Sulit Mengungkapkan Rindu, Hingga Hanya Penyesalan Yang Terasa

"Tulisan ini, saya dedikasikan untuk Foni, kawan dekat saya."

Sabtu pagi, saya mendengar kabar duka. Di salah satu status teman di facebook, mengatakan bahwa teman kami meninggal dunia. Foni Fidiawati. Saya tertegun. Membaca berulang-ulang status kawan saya tersebut. Mungkin dia salah menyebut nama, seperti dia salah menyebut tahun angkatan kami. Sayangnya, dia tidak salah menyebut, karena setelah itu saya membaca komentar-komentar di dalam status tersebut.

Benar. Itu Foni. Kawan terdekat saya kala SMA.

Sebulan yang lalu, saya mengunjunginya, setelah saya tahu dia mengidap penyakit kanker hati. Cerita mengenai kunjungan saya juga sempat saya tulis di blog ini. Esoknya, setelah saya mendengar berita tersebut, saya kembali ke rumah Foni. Yang ternyata, keluarganya sudah menunggu kedatangan saya.

Saya pergi ke rumah Foni bersama Reni, salah satu kawan saya juga di SMA. Kenapa saya tidak pergi sendirian ke rumahnya, seperti sewaktu saya menjenguk Foni sebulan yang lalu? Alasannya, saya tipe orang pendiam yang sulit mencari bahan obrolan, maka saya memerlukan teman untuk membuat suasana lebih nyaman.

Ketika di rumah Foni, Bapak serta Ibunya berjabat tangan dengan saya. Terus terang, melihat ibu Foni ketika melihat saya dengan kedua mata yang berkaca-kaca, membuat saya ingin memeluknya, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Tetapi, saya tak punya keberanian untuk itu, karena saya sendiri ingin menangis saat itu, dan parahnya saya lupa bagaimana cara menangis.

Saat kesedihan terlalu dalam, air mata pun enggan tuk meringankan.

Lalu, satu per satu kakak-kakak Foni berjabat tangan dengan saya. Lantas, saya melihat Dido, anak Foni satu-satunya. Bocah kecil yang baru berumur empat tahun itu berkaca-kaca dalam gendongan salah satu kerabat Foni. Anak sekecil itu tidak menangis atau meraung-raung mencari ibunya. Bahkan, saya mendengar cerita dari kakak Foni, Dido sama sekali tidak nakal. Seakan-akan anak itu tahu, bahwa Ibunya telah pergi jauh.

"Fidia selalu cerita mengenai teman-temannya. Ini loh, Mbak, temenku sudah jadi polisi, perawat,."Cerita kakak Foni pada saya.

"Mbak, Wulan kok nggak pernah ke sini. Mungkin, sibuk kuliah."

Selama satu jam lebih, yang menemaniku berbincang adalah kedua kakak Foni. Kami bercerita, mengenang Foni, mengatakan penyesalan-penyesalan kami. Ibu Foni hanya menemui saya ketika saya datang dan pulang. Tidak mengajak saya berbicara. Mungkin, beliau akan sedih jika terus melihat saya. Perasaan saya kala di rumah Foni terasa biasa saja, tapi ketika malam sampai di rumah, semua tumpah.

Saya merasa begitu tega kepada Foni. Berkali-kali dia mengirim pesan atau BBM kepada saya, saya dengan cuek membiarkannya. Atau sekadar membalas apa adanya. Tidak bersemangat ketika ia mengirim pesan kepada saya. Bahkan, ia bercerita mengenai penyakitnya kepada kawan saya yang lain, bukan saya. Padahal, saya adalah orang yang paling dekat dengannya kala SMA.

Foni pernah mengirimi saya pesan, "Lan, kamu kok beda sekarang? Nggak pernah terbuka sama aku lagi?"

Kala itu, saya pikir, siapa dia? Hilang begitu lama tanpa kabar, kemudian muncul dan menjadi seseorang yang paling mengerti mengenaiku?

Lambat laun, saya mengerti. Saya yang begitu egois, dan marah karena dia tidak pernah memberi kabar atau selalu timbul tenggelam. Penyesalan-penyesalan pun mencongkol dalam hati saya saat ini. Mengenai saya tidak memeluknya dengan erat kala ia masih hidup, dan mengenai saya yang tidak datang kembali ke rumahnya setelah pertemuan saya terakhir waktu itu.

Padahal, saya sudah berjanji untuk kembali ke rumahnya. 

"Lan, ayo ke Sendang Raos, guramenya enak. Murah,"katanya kala itu.

Ketika ia pergi selama-lamanya, yang tersisa hanyalah kenangan kebersamaan kami.

Rasanya begitu sakit, ditinggal dan hanya menyisakan kenangan dan juga penyesalan. Seharusnya, saya sering menemaninya, memberinya semangat. Tapi, saya tidak melakukannya.

Beberapa hari sebelum ia menghembuskan napas terakhir, saya mengiriminya sebuah pesan. "Fon, apa kabar?"

Lama ia tidak membalas, lalu beberapa hari kemudian ia membalas. "Apa, Lan? Sekarang aku nggak mikir apa-apa. Pengobatan terus."

Lama setelah itu, saya kembali mengirim pesan, dan nomornya sudah tidak aktif.

Lalu, saya mendengar kabar duka itu kemarin.

Mungkin, tulisan ini sudah tidak ada artinya lagi, tapi bagi seorang yang sulit mengekspresikan perasaannya, lewat tulisan inilah saya menyampaikannya.

Sungguh saya menyesal. Menyesal karena begitu sulit mengungkapkan rindu, sehingga saya lebih memilih tidak peduli.


Wulan K.

19 Januari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)