1.04.2016

Jangan Pernah Bermimpi, Nak

Kelak, ketika saya mempunyai seorang anak, saya akan berkata, "Jangan bermimpi kalau kau takut untuk bangun dan menerima kenyataan."


Saya ingat betul, apa cita-cita saya kala itu. Duduk di sekolah dasar, saya hanya mengenal beberapa saja macam pekerjaan. Dokter. Guru. Polisi. Pilot. Saya - mungkin juga kalian - ingin menjadi dokter. Karena hanya itulah pilihan saya waktu itu. Tidak ada cita-cita lain. Hanya itu. Selang beberapa waktu, ketika saya menginjakkan kaki di sekolah menengah pertama. Impian saya pun berubah. Bukan lagi dokter, tapi guru. Entah, guru apa.

Kala itu, saya sudah menyukai membaca cerita, menulis puisi dan cerpen, dan mulai menulis novel kelas tiga SMP. Tanpa saya sadari, itulah impian saya. Meskipun, pada waktu itu menulis sekadar hobi atau nantinya akan saya gunakan sebagai pekerjaan sampingan. Tak pernah sedikit pun berpikiran saya akan menjadi penulis penuh.

Sayangnya, banyak hal yang sulit kita raih, termasuk impian.


Impianlah yang membuat saya jalan di tempat. Tak ke mana-mana.

Saya pun berpikir, seandainya saja saya tak punya impian atau keinginan tersebut, mungkin kehidupan saya tak akan seperti ini. Saya akan menjadi perempuan-perempuan normal di luar sana. Berpacaran, Bekerja, Menikah. Selesai. Tak ada keinginan muluk dengan mempunyai novel sendiri atau memiliki sesuai yang berbeda sekadar untuk diakui.

Saya pernah berkata, hal yang paling menyakitkan adalah dilupakan.

Dilupakan untuk dicintai, dilupakan untuk dipeluk, dilupakan bahwa saya ada.

Seandainya saja, pekerjaan impian saya adalah berangkat pagi, pulang sore. Duduk di dalam ruangan ber-AC. Pulang kerja nongkrong. Mungkin, saya tidak akan seperti ini. Menjadi orang linglung tak tahu arah. Setiap kali mata terbuka tak memiliki semangat dan terpuruk. Dan, mungkin haid saya akan lancar karena tak ada tekanan yang mengakibatkan stres.

Tapi, itu semua pilihan.

Dan, saya memilih meraih impian tersebut, sebelum mewujudkan impian orang lain.

Kehidupan memang bukan melulu mengenai kita, tapi sampai kapan?

Tidak mungkin selamanya saya harus menuruti segala keinginan setiap orang, menjadi baik dipandangan mereka. Lalu, bagaimana dengan hati saya?

Saya yakin sebagian orang akan mencibir saya, menjauhi, dan meremehkan dengan apa yang saya ambil. Mengatai bodoh dan berpikiran tak waras. Semakin kesini, semakin banyak hal yang datang tuk menentang. Tuk merobohkan. Tuk membelokkan. Semakin kesini pun saya semakin takut akan berbalik arah dan menyerah pada keadaan.

Namun, apa pun itu, saya sekadar perempuan yang hendak berusia 25 tahun, yang masih mengejar impiannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)