3.03.2016

Friends with Benefits (1)

"Kita pacaran saja. Oke?"Gandu berkata ketika Nala mengeringkan rambutnya dengan handuk di atas ranjang. Gandu, melihat ke arah Nala dengan penuh minat. Ia sama sekali tak mengedipkan kelopak matanya sekalipun. Wajahnya serius. Seperti biasa.

Nala tertegun. Menegakkan kepalanya yang dimiringkan ketika mengeringkan rambut ikalnya. Kaus merah marun milik Gandu yang ia kenakan basah. Lalu, ia tertawa keras. Sangat keras. Gandu tak bereaksi apa pun. Saat itulah, Nala berhenti tertawa.

"Beb, aku serius."


"Oh."

"Oh?"

"Darimana kamu mendapatkan gagasan absurd itu?"tanya Nala. Baginya, nama Nala dan Gandu tak akan pernah menjadi sebuah kalimat, apalagi paragraf yang membentuk sebuah cerita. Ah, mereka sekadar berteman. Bukan kekasih.

Tapi, disebut sekadar pertemanan pun tak pantas.

Gandu yang tadi duduk di lantai berdiri, berjalan ke arah Nala, lalu duduk di sebelah perempuan itu. Ranjang itu sedikit bergerak ketika Gandu duduk. "Ide bagus, bukan?"

"Kita teman, Beb,"ujar Nala. "Kali saja kau lupa."

Kali ini Gandu yang terbahak. "Setelah kejadian semalam kamu masih beranggapan seperti itu? Kau bercanda?"

"Kita hanya berciuman,"sahut Nala. 

"Teman nggak akan pernah berciuman, Beb."Gandu mengingatkan. "Dan, jangan hilangkan bagian kita hampir melakukannya semalam."

Nala menelan ludah. Ya, semalam ia dan Gandu hampir saja melakukannya. Hubungan fisik yang seharusnya tak terjadi. Untung saja kewarasannya datang di saat yang tepat sehingga ia bisa menarik diri dari Gandu dan akhirnya mereka memutuskan untuk tidur berjauhan. 

Nala di atas ranjang, Gandu di lantai.

"Kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu?"selidik Nala. Kedua alisnya saling bertaut. Ia merasa aneh. Sudah sekian lama mereka berteman, meskipun hanya jarak jauh, tak sekalipun Gandu menyinggung mengenai hubungan mereka.

Setelah bertahun-tahun hanya berkomunikasi melalui dunia maya, akhirnya mereka bertemu. Ide itu tercetus begitu saja. Dan, sekarang di sinilah mereka. Penginapan murah di daerah Malioboro.

"Kamu masih sendiri, begitu juga denganku."

Nala diam. Gandu sama sekali tak mengerti. Bagi seorang perempuan seperti dirinya, ajakan untuk menjalin hubungan itu berarti mereka harus saling mencintai. Bukan sekadar saling membutuhkan hanya karena kesepian.

"Beb,"lirih Nala. "Hubungan kita itu sudah asik banget,"jelasnya. "Kita nggak usah baper kalau salah satu dari kita bersama orang lain. Kita tak usah khawatir untuk tersinggung. Ini sempurna."

"Oh ya?"

Nala tersenyum. Mengangguk. Matanya melihat ke arah Gandu dengan menggoda. "Kalau kamu hanya ingin melanjutkan apa yang tertunda semalam, kau tak usah mencari-cari alasan dengan memintaku menjadi pacarmu,"ia berbisik. "Karena, kita bisa melanjutkannya sekarang."

Nala berdeham. "Sekarang tidak terlalu pagi, bukan?"bisik Nala, tepat di telinga Gandu.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)