4.01.2016

Perjalanan Kereta dan Kisah Sentimentil di Baliknya (1)


Banyak alasan mengapa saya menyukai berpergian dengan kereta; alasan logis, pun alasan sentimentil yang membuat saya buru-buru membuka note dan segera menuliskan perasaan saya waktu itu. Mungkin bukan sebuah rahasia lagi, jika saya seorang perempuan pemeluk kenangan, melankolis, dan pecinta kenangan. Rasanya, kenangan-kenangan itulah yang mampu membuat saya bertahan sejauh ini. Bertahan dalam harapan yang kian hari kian memudar.

Jadi, tanggal 14 Maret 2016 lalu saya memutuskan untuk pergi ke Jogja. Tanpa tahu sebenarnya apa yang akan saya lakukan di sana. Saya bilang kepada kawan-kawan saya,"Melepaskan impian." Banyak sekali alasan yang saya utarakan untuk tetap tinggal di kota penuh inspirasi tersebut. Banyak sekali harapan yang saya curahkan di sana. Mengenai impian, mengenai masa depan, dan mengenai kenangan.

Pukul sembilan pagi, saya sudah berada di stasiun Mojokerto. Ini kali pertama saya berada di stasiun Mojokerto, untuk naik kereta. Dan, ini perjalanan kedua saya ke Jogja menggunakan kereta. Tiga tahun lalu, saya pernah singgah di kota sego kucing tersebut, bersama kawan saya Viki. Saat itu, kami berangkat dari Surabaya, tepatnya stasiun Gubeng.

Stasiun Mojokerto tak seramai stasiun Gubeng Surabaya. Kepergian saya waktu itu, diantar oleh lelaki melankolis, salah satu alasan saya tak bisa tinggal dan menetap di Jogja. Ah, betapa lelaki itu mencintai saya, sampai-sampai ia tak sanggup berpisah lama dengan saya. 

Antrean panjang memenuhi loket pembelian tiket. Hanya dua loket yang buka. Satu loket belum menampakkan kehidupan. Dalam antrean panjang itu, banyak sekali orang-orang yang menyerobot untuk lekas mendapatkan tiket. Alasannya klise,"Saya berangkat hari ini." Ah, padahal kereta yang saya tumpangi berangkat pukul sepuluh pagi itu. Satu jam lagi. Tapi saya tetap mengikuti aturan dengan tetap mengantre. Menunggu giliran. Namun, tak urung jua saya misuh-misuh ketika seorang ibu-ibu pegawai negeri menyerobot, tepat ketika giliran saya tiba.

"Kalau di Jogja tidak begini,"ujarnya. Mendengar kata Jogja, saya urung membenci pegawai negeri itu. Ah, betapa mujarabnya cinta.

"Oh ya, Bu?"balasku. Ibu tersebut menyerahkan slip pembelian tiket dari Indomaret, saya melakukan hal yang sama. Lalu, petugas loket mengambil kedua slip kami.

"Iya. Kalau sudah beli di luar, tak perlu mengantre lagi,"ceritanya. "Ada tempatnya sendiri. Nggak usah ngantri."

Selang beberapa menit, saya pun mendapat tiket perjalanan saya ke Jogja. Kereta ekonomi, gerbong 2, jurusan St. Lempuyangan. Kira-kira saya akan sampai di Jogja pukul tiga sore. Sebelum ini, saya sudah memberitahukan Rizky dan memintanya menjemput saya di stasiun.

Saat itu, jam dalam pergelangan tangan saya menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas menit. Saya duduk di kursi tunggu di antara ribuan murid TK dan wali muridnya. Ruang tunggu begitu riuh, terdengar suara kereta berhenti, lalu kembali berjalan. Suara anak-anak kecil beserta ibu mereka. Mencium bau gurih dari stand penjual Roti'O. Saya beranjak dari tempat duduk, dan membeli sepotong roti tersebut.

Tiba pukul sepuluh kurang lima belas menit, kereta saya datang. Saya menyerahkan tiket beserta surat tanda pengenal di pintu pemeriksaan tiket. Lalu, saya menuju gerbong tiga, dan duduk di kursi nomor 2A. Tepat di dekat jendela.

Perjalanan pun dimulai. Senyum mengembang dan rasa bahagia tergambar jelas dikedua bola mata.

Biasanya, ketika saya berpergian menggunakan kendaraan umum atau mobil pribadi. Saya pasti akan mual-mual dan perut saya melilit luar biasa. Semacam gunung merapi yang mau meletus. Badan berkeringat, perut penuh. Perjalanan saya tak pernah menyenangkan. Tapi, ketika naik kereta, semua itu sirna. Yang ada rasa nyaman, meskipun saya harus duduk berhimpitan karena jarak kursi saya dengan depan amatlah pendek. Sehingga, dengkul saya harus berjejalan dengan dengkul penumpang di depan saya.

Meskipun begitu, saya menikmatinya.

Saya mengambil sebuah buku dari dalam ransel. Buku kumpulan cerpen "Penjual Kenangan" kaya Widyawati Oktavia. Buku yang saya beli secara obral di depan Gramedia di Surabaya. Buku bagus, dengan harga yang teramat murah. Saya sekali kalau dilewatkan.

Naik kereta bisa membuat saya nyaman untuk membaca, terlebih lagi ditambah dengan menggigit roti beraroma kopi. Betapa lengkapnya perjalanan saya. Betapa bahagianya saya. Melihat rumah-rumah yang ditinggalkan oleh kereta, pepohonan, dan sawah.Sebenarnya, pemandangan semacam ini bukan kali pertama saya rasakan. Tapi, rasanya sama sekali berbeda di dalam kereta.

Saat kau dalam perjalanan kereta, yang kau tak akan memikirkan kapan kereta ini berhenti dan menurunkanmu. Kau akan menikmatinya, sampai kau tak terasa sudah berada pada tujuanmu.

Sayangnya, perjalanan pulang menyisahkan tangis dan penyesalan. Nyatanya,perjalanan saya kali ini tak menghasilkan apa pun. Saya tetap menyisahkan rindu yang teramat pada kota pemilik Jalan Malioboro itu.


Wulan K.

2 komentar:

  1. sama mba Wulan, saya juga seneng jalan2 naik kereta, kenangannya banyak :)

    BalasHapus
  2. Mana cerita melepas kenangannya?

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkomentar :)