6.09.2016

Klandestin




“An, dapat undangan dari Elvan?”
            Jemariku berhenti mengetik. Layar komputer jinjing milikku tetap menyala  menampilkan lembaran kosong Ms. Word. Pesan yang masuk dalam whatsapp milikku sangat menganggu. Sudah berkali-kali, aku mencoba melupakan hal itu, ada saja yang mengingatkannya.
            Kubiarkan pesan itu, tanpa berniat ingin membalas. Aku kembali berusaha untuk mengisi lembaran kosong di depanku. Lalu, datang pesan lain, dengan isi yang lebih menyebalkan.
            “Nanda, Elvan mau nikah sama Esa! Are you, okay?”
            Aku mendesah. Serta merta kuraih smartphone yang terongok di dekat komputer jinjing , dan langsung kunonaktifkan.
            Kutarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan cepat. Berharap dengan begitu, batu yang menghimpit dadaku terlepas begitu saja. Dua tahun. Dua tahun lamanya aku berusaha untuk mengenyahkan perasaan itu. Kupikir, saat mendengar berita semacam ini semua akan baik-baik saja. Kenyataannya, tidak demikian. Aku salah besar.

            Dan, kenapa teman-temanku itu tak pernah berpikir dengan cerdas? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tak seharusnya terlontar.
            Pandanganku teralih pada selembar kertas berwarna merah marun. Merah yang lebih mirip seperti darah. Seakan-akan, darah dari lukaku mengalir dalam kertas tersebut dan mengisi setiap pori kertas.
            Elvando  & Esa Sahila
            Begitulah nama yang tertera di atas kertas berwarna darah tersebut. Nama mereka tercetak dalam tinta emas. Sengaja dibuat sangat kontras dengan dasar warnanya. Seakan-akan, mereka takut tak seorang pun bisa membaca nama mereka jika tidak dicetak demikian.
            Mana mungkin aku tidak tahu, mereka akan menikah. Kalau mempelai prianya sendiri yang datang ke rumah mengantarkan undangan itu.
***
Sebelum pesan masuk dalam whatsapp yang datang bertubi-tubi itu, sehari sebelumnya Elvan datang ke rumah. Sarung tangan berwarna hitam milikknya, ia letakkan di lengan sofa, sedangkan pelindung lutut beserta jaket dengan warna senada, masih ia kenakan. Sorot matanya tetap sama, seperti yang kulihat dua tahun yang lalu. Matanya cenderung kecil dan bulat. Jenis mata yang jarang kutemui pada seorang laki-laki.
            Melihat dari penampilannya malam itu, Elvan baru saja pulang  kerja. Dia bekerja di Surabaya, kota di mana kami dulu bertemu dan menuntut ilmu.
            “Apa kabar?”Elvan menutup jurang di antara kami. Ini adalah pertemuan pertama kami, setelah dua tahun lamanya tak saling berjumpa dan berkirim kabar. Terkadang, aku merasa aneh. Bagaimana mungkin, dua orang yang sempat saling mengenal menjadi dua orang yang tak pernah bertegur sapa.
            “Ba-baik,”jawabku, sedikit kikuk. Sial. Setelah bertahun-tahun, sifatku tak pernah berubah. Selalu saja merasa ada yang salah ketika di depan Elvan. Seharusnya, aku bisa melakukan hal yang lebih baik dari ini.
            Akhirnya, aku memutuskan kontak mata kami. Memilin-milin rok terusan hitam yang kukenakan.
            “Kamu nggak tanya, bagaimana kabarku?”Suaranya menyadarkanku. Elvan masih duduk di tempat yang sama, dan mungkin masih menitiku dengan kedua mata kecilnya.
            Kutarik ujung-ujung bibirku, “Apa kabar?”
            “Baik,”jawabnya. Suaranya terdengar santai. Sama persis seperti suara Elvan dua tahun lalu. Ketika ia mengatakan hal itu. Ketika ia mampu membuat hatiku jatuh dan berserakan.
            Mendengar suara Elvan yang ringan, mau tak mau menciutkan hati. Elvan mungkin tak pernah tahu, hatiku masih berlompatan ketika menghadapinya seperti ini.
            “Nda,”panggilnya. Dari sekian banyak orang yang memanggil nama kecilku, An. Hanya keluargaku dan Elvan, yang memanggilku Nda. Tiga huruf terakhir dari nama kecilku, Nanda. “Kamu tahu, apa yang membuatku datang ke sini?”
            Dahulu, ketika Elvan berkunjung ke rumah. Selain karena aku memintanya untuk membetulkan ponselku atau untuk mengerjakan tugas, Elvan datang ke rumah untuk menemuiku. Hanya menemuiku. Tidak ada alasan khusus. Mungkin, memang karena rumah kami tidak berjauhan seperti teman-teman kuliah kami lainnya.
            Aku menggeleng. Mana mungkin aku tahu isi hati seseorang? Bahkan, selama masa kuliah kami, aku sama sekali tak pernah bisa menebak isi hati Elvan.
            Elvan menegakkan tubuhnya. Lalu, ia menyandarkan kedua sikunya di atas lutut. Ia menunduk sebentar, sebelum ia kembali menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Ia melakukan itu semua, tanpa mengalihkan tatapannya dariku.
            Aku masih duduk di hadapannya, menanti kalimat apa yang akan muncul dari bibirnya.
            “Untuk ini,”ucapnya. Entah kapan Elvan mengeluarkannya, mungkin ketika aku menunduk dengan gelisah, atau ketika pikiranku berkelana ke masa di mana kami masih saling membagi tawa. Aku tak tahu tepatnya kapan Elvan mengeluarkan kertas berwarna merah marun itu. “Kuharap apa yang terjadi di masa lalu, tak membuatmu membenciku.”Elvan menyodorkan kertas merah marun itu kepadaku. Dengan ragu, aku menerimanya.
            “Nda,”panggilnya. Tapi, aku tidak terlalu mendengarkan Elvan, karena perhatianku tengah berpusat pada kertas marun di tanganku,”aku akan menikah.”

            Aku pun kehilangan Elvan untuk kedua kalinya, seseorang yang sejak awal tak pernah benar-benar kumiliki.

*taken from Klandestin - Prolog

1 komentar:

Terima kasih sudah berkomentar :)