6.27.2016

Maaf, Aku Mencintaimu


taken from unsplash.com

“Maaf, aku suka kamu.”

                Dalam lingkaran pertemanan kami, tak pernah sekalipun kalimat itu terucap. Entah dari bibirku, apalagi bibirnya. Tak sekalipun, aku berharap ia akan mengatakannya. Bahkan, ketika aku ingin sekali mendengarkan kalimat itu terucap.

                Karena, ketika kalimat itu benar-benar terucap, aku tak tahu harus berbuat apa.

                “Bercandaan saja kamu, ih!”aku memukul lengannya pelan, sambil tertawa kecil. Tapi, sampai tawaku mereda, ia tetap berdiri di depanku, menatapku.

                Aku menelan ludah. Ini serius?

                Mendadak aku rikuh. “Ehm, setelah ini, kita ke mana?”mengalihkan topik pembicaraan, sepertinya adalah pilihan yang tepat.


                Hari ini, kami mendapat tugas dari Forum Ilmu berbelanja kebutuhan untuk berbuka puasa bersama. Aku dan Fin, pergi ke pasar tradisional, membeli berbagai macam sayur. Lalu, hujan turun. Kami berteduh di bawah kanopi sebuah toko yang sedang tutup. Rambut Fin basah kuyup, begitu juga dengan kerudung berwarna abu-abu yang kukenakan.

                Fin mendesah. Bahunya melorot, aku melihat sorot kekecewaan di sana. Ia mundur, lalu bersandar pada dinding toko. Kedua tangannya bersendekap di depan dada. Aku menghampirinya, berdiri di sebelahnya.

                Pertemananku dengan Fin, sekadar mengenai Forum Ilmu, pembicaraan-pembicaraan tak penting tentang lebih enak mana nasi lembek dan nasi setengah matang untuk bahan nasi goreng. Dan, terkadang kami melewati batas, dengan bercerita mengenai masalah kami.

                Dan, setelah empat tahun pertemanan ini, tiba-tiba saja kalimat itu muncul. Padahal Fin tahu, kami tak akan pernah menjadi kita.

                “Sepertinya, hujannya akan lama,”kataku. Fin tak menanggapi. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. Selama mengenalnya, Fin selalu menghormati orang-orang di sekitarnya. Terlebih lagi ketika bulan ramadhan. Kali ini, entah apa yang mengusiknya. Sampai-sampai, ia menjadi bukan dirinya.

                “Kamu pernah merasa, kalau apa yang kita miliki saat ini sudah lebih dari cukup?”ucapku. Aku tak tahu Fin mendengarkannya atau tidak. Tapi, aku terus berkata, “perasaan yang perlu kita syukuri. Rasa yang tak perlu diungkap. Kamu tahu, kalau selama ini memiliki perasaan itu saja sudah sangat membuatku bahagia?”

                Kali ini, aku mendongak. Fin masih menatap ke arah orang-orang berlalu lalang di bawah rintik hujan. Mereka tak peduli dengan hujan yang membasahi tubuh-tubuh mereka. Seakan hujan sudah menjadi kawan.

                “Aku menyadarinya, kali pertama kita bertemu. Saat kamu berbicara di depan orang-orang. Terlihat begitu ringan, tanpa beban. Melihatmu saja, sudah membuat beban yang ada terasa ringan.”
                “Apa karena kita berbeda?”kali ini, Fin bersuara. Biasanya, dalam perdebatan, ia juaranya. Ia selalu menang. Kali ini, ia terlihat berbeda. Seakan-akan, ia membawa beban.

                Aku tersenyum. Memahami bagaimana perasaannya. Fin tak pernah tahu, bahwa ada masa di mana aku pernah bertarung dengan perasaanku sendiri. Mengenai dia. Mengenai kami. Saat itu, kuyakin, Fin belum memiliki perasaan terhadapku. Saat itu, selama satu Minggu penuh, aku tidak muncul di kampus. Dalam masa pertaruangan batin tersebut, aku tak ingin Fin memperkeruh keadaan. Maka, aku memilih untuk menghindar.

                “Kita sama-sama tahu, apa yang terbaik untuk kita, bukan?”ungkapku.

                Fin menjatuhkan batang rokoknya yang masih tersisa banyak. Lalu menginjak batang rokok tersebut dengan sepatunya. Ia mengambil tas belanjaan kami, kemudian berkata. “Hujannya sudah reda. Kita balik sekarang, atau kamu mau ke masjid dulu?”ucapnya. “Sudah Ashar.”

                “Masjid,”jawabku. Fin tersenyum, lalu mengangguk. Ia berjalan mendahuluiku, membiarkanku melihat punggungnya menjauh. Memilih menjadi orang pertama yang pergi.

                Fin tak akan pernah tahu, malam ini akan menjadi malam terberat bagiku. Aku harus membunuh perasaan itu sekali lagi.

- Wulan K. -
Mojokerto, 27 Juni 2016