8.31.2017

Epilog

Aku ingin menceritakanmu sebuah kisah. Kisah seorang lelaki.

Lelaki itu pikirannya tengah keruh, mengenai obsesinya soal kebebasan. Peristiwa yang menimpanya hampir saja menghabisi masa mudanya. Ia berjalan dalam sebuah pemukiman bersama ayahnya. Dalam perjalanan tersebut, pandangannya bertemu dengan seorang gadis. Seorang gadis yang teramat cantik, sehingga lelaki itu merasa tertarik.

Ketertarikannya tak bertepuk sebelah tangan. Nampaknya, gadis itu pun menaruh hati pada lelaki itu. Gadis itu ingin sekali menatap kedua bola mata lelaki itu yang memancarkan pandangan kerinduan akan masa depan.

Sayangnya, belum lama mereka berdua memadu kasih. Ada larangan keras yang tak bisa ditolak lelaki itu. “Aku bersama ayahku. Aku tidak kuasa untuk memberontak kehendak beliau dan berpisah dengannya.”


Lelaki itu hampir saja memohon restu kepada ayahnya, agar ia bisa melamar gadis itu. Rupa kecantikannya, kesempurnaannya, keangguanan, dan kesucian itu telah merebut hatinya. Lelaki itu benar-benar terpesona.

Namun, lelaki itu telah dijodohkan dengan gadis lain oleh ayahnya.

Suatu hari, mereka bertemu kembali. Gadis itu memalingkan wajah penuh kekecewaan dan emosi. Lelaki itu bertanya kenapa demikian. Gadis itu menjawab,”Sinar yang berseri-seri itu kini sudah menghilang dari raut wajahmu....”

***


Aku yakin, kamu pernah membaca kisah ini. Ini adalah kisah ‘Abdullah, kisah yang kubaca dari buku yang kamu pinjamkan padaku. Buku yang tak pernah tuntas kubaca dan yang seharusnya kukembalikan padamu bertahun-tahun lalu. Sadarkah kamu, bahwa kisah ‘Abdullah teramat mirip dengan kisah kita? Aku adalah gadis itu dan kamu telah menambatkan hati pada gadis lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)