8.31.2017

Seandainya Kau dan Aku ditakdirkan Bersama

Seperti dalam sebuah novel, kisah kita hanyalah prolog. Kupikir, akan ada bab-bab selanjutnya yang akan mengikuti, puncak cerita, kemudian akan berakhir bahagia. Teman-teman kita akan membicarakan kisah kita yang penuh liku, atau lebih tepatnya kisahku. Bagaimana aku menyukaimu sejak dulu dan akhirnya kita bisa bersama. Aku sudah membayangkan, bagaimana hebohnya teman-teman kita ketika tahu kita akhirnya bersama. Berakhir di pelaminan dan memulai kehidupan baru, berdua.

Mungkin, bila saat ini kita masih bersama, aku akan mengajakmu untuk duduk dalam satu meja dengan menghadap komputer jinjing masing-masing. Kamu dengan kode-kode dan aku dengan untaian kata.

Tak perlu banyak kata, cukup dengan kehadiran masing-masing. Kubayangkan, kau duduk di depanku, keningmu berkerut dengan kedua alismu yang tebal saling bertaut. Mungkin, kamu sedang memikirkan mengenai kode-kode dalam layar 14 inci di hadapanmu, nasib para petani di Indonesia, kelangsungan perusahaan tempatmu bekerja, atau justru kamu sedang memikirkanku.


Sesaat mungkin kita akan berpaling dari layar masing-masing, saling memandang dan melemparkan senyum. Aku akan memalingkan muka karena malu, meraih cangkir kopi di sebelah dan menyesapnya. Hatiku bergemuruh, bersyukur kepada-Nya telah mengirimu kepadaku. Tak henti-hentinya berucap terima kasih, karena kamu berada di dekatku. Kamu kembali menatap layar komputer jinjingmu dan dahimu kembali berlipat-lipat.

Aku membayangkan, kita akan melakukannya sepanjang waktu. Saling mendukung pekerjaan masing-masing, saling mengagumi dan saling mencintai. Seakan-akan, apa yang sudah kita miliki terasa cukup, sehingga tak ada hal yang lebih indah selain bersama dan terus mencintai passion masing-masing.

Terkadang, aku masih rindu. Rindu perhatianmu, perkataanmu yang terlampau jujur apa adanya, bahkan aku rindu percakapan kita lewat dunia maya mengenai isu-isu pelik yang selalu merisaukanmu. Aku rindu membaca topik-topik yang kamu lemparkan kepadaku. Aku akan membacanya berulang-ulang, memikirkan apa yang kamu maksudkan. Dahiku berkerut, mencoba memahami kalimatmu yang begitu berat. Aku selalu berusaha mengimbangimu, agar kamu menemukan kawan yang tepat untuk berbagi mengenai isi kepalamu.

Aku selalu ingin menjadi orang yang bisa menenangkan isi kepalamu, meringankan beban tubuhmu. Aku ingin kamu bercerita mengenai segala yang membuat kepalamu keruh tak menentu. Aku ingin berada di sisimu, mendukungmu, dan mencintaimu.

Aku juga membayangkan, kamu akan membaca seluruh kisah yang kutulis. Kamu akan menandai bagian-bagian yang menurutmu ambigu dan kurang sesuai. Kita akan berdebat, memegang pendapat masing-masing. Kita akan bersiteru, saling membuang muka, lalu bercinta.

Dan, aku selalu membayangkan kamu adalah orang pertama yang akan kuberitahu, mengenai naskah-naskahku yang akan terbit. Mengenai impian-impianku dan bagaimana aku meraihnya. Aku selalu ingin membaginya denganmu. Bahkan, aku ingin menangis bahagia dalam pelukanmu, saat kukabarkan kita akan menjadi orangtua.

Kamu tak pernah tahu, bagaimana khawatirnya aku ketika kamu tak memberi kabar. Bagaimana bahagia dan kesalnya aku hingga menangis ketika kau baru mengirim pesan setelah seharian tak ada kabar. Ini bukan hal yang kubayangkan, ini adalah hal yang benar-benar kualami.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)