8.20.2017

Semacam Prolog, Tanpa BAB Pertama



Aku masih belum bisa memahami, sebenarnya apa yang tengah kita lakukan sebulan belakangan? Awal sebuah cerita atau justru akhir dari sebuah cerita? Baik, sampai detik ini, aku pun masih meraba-raba, apa esensinya dari kedekatan kita belakangan, yang kemudian justru menjauhkan kita layaknya orang asing. Padahal, kita berteman sudah cukup lama. Berkali-kali kubilang, kaulayaknya air yang menyejukkan. Namun kini, apakah anggapan tersebut masih berlaku?

Jawabannya, entah.

Sulit mendeskripsikan benang merah antara kita berdua saat ini, lebih-lebih perasaanku. Dahulu aku menganggapmu sebagai lelaki yang bersahaja, sekarang sebagian dari diriku menganggapmu “Semua lelaki sama saja”. Oke. Kita sudah sama-sama punya niat baik, bahkan sempat membawa nama masing-masing kepada orangtua. Ehm, tapi. Tahukah kau, aku sudah membawa namamu ke telinga kedua orangtuaku, bertahun-tahun lalu? Namamu, sudah terpatri dalam ingatan kedua orangtuaku, sehingga mereka tak banyak bertanya mengenaimu, ketika kuceritakan kedekatan kita.

Namamu, sudah menjadi salah satu bagian kotak-kotak ingatan kedua orangtuaku. Sehingga, ketika kusebut namamu, mereka cukup membuka kotak dalam memorinya, tanpa bersusah payah mencari tahu.

Tapi, bagaimana dengan kedua orangtuamu? Pernahkah kau menyebut namaku kepada mereka sebelum ini? Bagaimana kerutan pada dahi keduanya, ketika kau menyebut nama orang asing ini? Tak usah dijawab, karena kita sudah tahu jawabannya. Yang ingin kutahu sekaligus yang tak ingin kuketahui, seberapa buruk anggapan mereka tentang perempuan tanpa penutup kepala ini? Begitu laknat? Lebih hina dari seorang penzina?

Aku tidak menganggap, kedekatan kita adalah sebuah kesalahan. Aku ingin menyimpannya rapat-rapat sebagai sesuatu yang bermakna indah. Bukan sesuatu yang harus kubenci, karena pada akhirnya kita gagal.

Terkadang, aku masih berpikir, usaha kita kurang. Kita terlalu pasrah dengan keadaan. Kita kurang komunikasi dan belajar berdiskusi dari hati ke hati. Atau justru, memang inilah yang Tuhan tunjukkan pada kita, bahwa kita tak boleh dalam suatu jalinan karena berbeda frekuensi?

Atau Tuhan sedang mengingatkanku, lewat kamu.

Beberapa dalam cerita kolosal, film-film romantis atau cerita apa pun, biasanya dua orang tak bisa bersatu karena perbedaan agama, ras, atau keturunan. Tapi kita, tak bisa bersama karena latar belakang kehidupan. Sebuah ucapan yang tak terbantahkan, yang sebenarnya bisa dibicarakan kembali.

Tapi, lagi-lagi, mungkin Tuhan menghendakinya demikian.

Pernah aku bercerita padamu, mengenai Tuhan yang melimpahkan segala rejekinya kepada tuna karya sepertiku. Aku bercerita kepadamu, aku takut Tuhan tiba-tiba mengambil segalanya. Merenggut kembali apa yang Ia berikan. Tapi, kini kutahu, bagaimana Tuhan menegurku agar mengingat-Nya. Melaluimu, melaluimu, melaluimu.

Aku pernah gagal. Kautahu itu, ketika kau menginginkanku mengenakan hijab. Dulu, aku gagal. Ini kedua kalinya aku terkena dilema yang teramat panjang. Bukan mengenai perpisahan kita, melainkan mengenai apa yang Tuhan inginkan. Apa yang Tuhan minta padaku.

Apa yang harus kulakukan, bila Tuhan juga mengambilmu, dari sisiku? Apa aku bisa terus berjalan dalam jalan ini, apabila kautak menuntunku?

Aku takut gagal, lagi.

Bagiku, kedekatan kita kemarin semacam prolog yang tak pernah ada BAB pertama. Bahkan, kita tak pernah menuliskan bab awal ini. Tiba-tiba, cerita kita berhenti pada prolog dan langsung meloncat ke epilog dengan kata terakhir SELESAI.


Pada kenyataannya, aku tak ingin semua ini usai. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)