10.12.2017

Lelaki Melankolis



Adalah Lelaki Melankolis yang mengenalkan saya pada gemar membaca. Ketika itu, saya masih kelas tiga di Sekolah Dasar. Di mana saya baru bisa mengenal huruf ketika kelas dua, yang berarti saya baru lancar-lancarnya bisa membaca. Ada seorang teman saya yang membawa majalah Bobo ke kelas, namanya Tama. Selain majalah Bobo, dia juga membawa beberapa komik. Saat itu, saya sudah tertarik dengan majalah Bobo. Kemudian, saya ke Jombang, rumah paman saya. Di sana, saya menemukan majalah serupa milik sepupu. Sepulang dari Jombang, saya meminta Lelaki Melankolis untuk membeli majalah Bobo.

Waktu itu, kami - Lelaki Melankolis dan saya - tidak tahu di mana bisa membeli majalah Bobo. Saya pun tak punya inisiatif bertanya kepada Tama maupun sepupu. Akhirnya, Lelaki Melankolis membawa saya ke pasar loak di Mojokerto. Di sana selain saya menemukan barang-barang bekas, saya juga melihat kios-kios buku bekas dan majalah bekas. Lelaki Melankolis membelikan saya beberapa majalah Bobo bekas.

Awalnya, saya lebih suka membaca cerita bergambar Nirmala dan Oki, Paman Gembul, dan Bona si Belalai Panjang. Setiap membeli majalah Bobo - entah baru atau bekas - yang saya baca cerita-cerita itu saja. Karena saya suka sekali membaca cerita bergambar, akhirnya saya meminta Lelaki Melankolis membeli komik. Waktu itu, saya dibelikan komik Crayon Shinchan, Doraemon bahkan sampai Dragon Ball. Tentu, sebagian merupakan komik bekas. Bahkan, ketika saya harus rawat inap di Rumah Sakit, yang saya minta adalah komik.


Lambat laun, saya mulai membaca artikel-artikel yang ada di majalah Bobo. Saat itu, saya masih tertarik menulis puisi, alih-alih cerpen. Ya, karena waktu itu saya belum pernah membaca cerita pendek sekalipun. Saya baru membaca cerita pendek ketika masuk kelas satu SMP.

Saya ingat betul, ketika itu guru Bahasa Indonesia kami meminta mencari kliping sebuah cerita pendek, saya ingat saya mempunyai majalah Bobo dengan cerita pendek di sana. Saat itulah, saya mulai menyukai membaca cerita pendek dan mulai menulis cerita pendek.

Jangan ditanya bagaimana tulisan saya waktu itu. Sangat-sangat buruk. Mengenai tanda baca dan semacamnya. Saya meletakkan titik (.) setelah tanda seru (!), atau besar kecil huruf yang tak saya ketahui aturannya. Akan tetapi, dengan tulisan semacam itu, saya berani mengirimnya ke majalah lokal antar sekolah yang ada di Mojokerto waktu itu. Kalau teman-teman satu kabupaten dengan saya, pasti tahu majalah PEACE.

Adalah Lelaki Melankolis yang mengenalkan saya mengenai surat-menyurat lewat kantor POS. Pertama kali mengirim karya, saya mengirim rubrik puisi, kolom pembaca, dan cerita pendek. Lelaki Melankolis mengajak saya ke Kantor Pos, setelah sebelumnya saya sudah memasukkan karya-karya saya ke dalam amplop cokelat dan membeli perangko 2000. Kami berdiri di depan kotak berkelir oranye yang berada di depan Kantor Pos. Lelaki Melankolis mengajari saya bagaimana menempelkan perangko ke amplop cokelat. Beliau meminta saya untuk menjilat bagian belakang perangko, ternyata begitu saja perangko sudah bisa menempel ke amplop. Lalu, saya memasukkan amplop ke dalam kotak pos sesuai intruksi Lelaki Melankolis.

Jangan menganggap, karya saya langsung dimuat. Tidak. Saya harus mengulangi hal serupa beberapa kali, sampai pada suatu hari ketika saya membeli majalah PEACE di koperasi, saya melihat karya saya dimuat pada kolom pembaca. Saya senang sekali. Bukan karena saya mendapatkan honor sebesar Rp. 10.000, tetapi karena kebanggaan diri karya dimuat.

Hari-hari selanjutnya, puisi saya dimuat dan beberapa kali jejak pendapat di kolom pembaca. Tak satu pun cerita pendek saya dimuat waktu itu.

Saya mengenal novel, ketika ke perpustakaan. Saya meminjam novel karya Mira W. Pertama kali membaca novel, toko utamanya bernama “Wulan”, yang berarti sama dengan nama saya. Terus terang, saya terbawa perasaan waktu itu. Ternyata mengenal karakter dalam waktu lama, membuat duniamu tersedot dalam cerita tersebut. Dari itulah, saya ingin membaca novel lain. Saat itu, sedang ramai-ramainya film Dealova yang diangkat dari novel. Saya ingat, saya sudah kelas tiga SMP waktu itu. Saya meminjam novel tersebut dari seorang teman, Ellen.

Saya jatuh cinta dengan novel ketika itu. Terlebih lagi, penulis dari Dealova merupakan anak SMA, membuat saya berpikir bagaimana kalau saya menulis novel saja? Dyan – penulis Dealova- saja bisa, pasti saya juga bisa. Akhirnya, saya menulis cerita panjang di buku tulis. Saya menulisnya hingga menghabiskan banyak buku. Teman-teman sekelas saya yang membaca cerita itu. Meskipun tulisan saya tak keruan serta tanda baca yang masih salah. Setiap hari, teman-teman saya menagih cerita-cerita saya.

Ketika SMA, saya ingin membeli novel. Lagi-lagi, Lelaki Melankolis yang saya repotkan. Kami keliling kota Mojosari mencari novel. Sayangnya, saya tak menemukan satu pun novel. Saya sampai kesal dengan Lelaki Melankolis, “Kenapa sih, saya harus hidup di kota kecil ini?” Kekesalan yang saya lampiaskan bukan pada tempatnya.

Ada kejadian lucu ketika pencarian novel di kota ini. Saya ke kios buku dengan Lelaki Melankolis dan bilang mencari novel. Saya mengambil buku bersampul merah dengan desain kover seorang pengantin perempuan. Si penjual buku bilang, “Ya itu novel.” Dan saya pun membelinya. Ternyata, itu buku untuk orang-orang yang akan menikah. Sebuah buku bacaan, non-fiksi. Bukan novel.

Cerita pendek pertama saya dimuat ketika kelas satu SMA ini. Saya senang sekali waktu itu. Saya tak bisa bagaimana menjelaskan perasaan saya. Setelah sekian lama, akhirnya cerita pendek saya dimuat. Tentunya, tanda baca tulisan saya membaik. Sudah mulai enak dibaca. Tentu, Lelaki Melankolis adalah orang pertama yang saya kasih tahu, ketika di rumah. Lelaki Melankolis akan mengambil kacamatanya dan membaca karya saya di majalah tersebut. Selalu begitu.

Ketika itu, saya mulai meminta seperangkat komputer. Saya ingin menulis di komputer. Saya ingin mengirim karya saya ke penerbit – padahal saya belum tahu bagaimana caranya –. Yang saya pikirkan saat itu, saya ingin membuat Lelaki Melankolis lebih bangga terhadap saya, lewat menulis. Jelas, permintaan saya tak langsung dituruti. Ini barang elektronik yang mewah waktu itu. Tapi saya terus meminta dan meminta. Sampai akhirnya, Lelaki Melankolis menuruti.

Saya dibelikan seperangkat komputer pentium 3 bekas. Harganya sekitar satu juta. Sangat mewah waktu itu. Melalui komputer tersebut, saya mulai menulis. Satu-satunya yang saya pikirkan adalah saya ingin membuat Lelaki Melankolis bahagia dengan saya sebagai penulis.

Sayangnya, sampai tulisan ini saya tulis, keinginan tersebut belum sepenuhnya terwujud. Saya masih penulis serabutan, bukan seorang novelis. Lelaki Melankolis adalah orang yang mendukung segala keinginan dan impian saya, meskipun tak jarang Lelaki Melankolis menentang hal ini.

Saya tahu, Lelaki Melankolis tak ingin saya hanya menjadi seorang penulis. Ia ingin saya menjadi seseorang yang dihormati, mempunyai jabatan dan bermartabat. Sayangnya, saya seseorang yang keras kepala. Ambisi terlalu tinggi dalam mengejar sesuatu yang saya cintai. Tanpa sadar, sifat ini diturunkan sendiri dari Lelaki Melankolis. Sifat yang ia didik dan tunjukan sejak dini.

Tanpa Lelaki Melankolis sadari, saya adalah cerminan dari dirinya sendiri.

Pernahkah kau membeci seseorang yang sekaligus membahagiakan orang tersebut?

Lelaki Melankolis adalah satu-satunya orang yang saya benci, sekaligus satu-satunya orang yang ingin saya bahagiakan.

Terima kasih, Bapak.

Terima kasih karena sudah terus percaya, meskipun saya belum membuktikan apa-apa.

Terima kasih karena sudah menekan ego, demi anakmu yang selalu menentangmu.

Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.

Saya sayang Bapak.


3 komentar:

  1. Bapak selalu punya tempat tersendiri di hati anak perempuannya. Tempat yang tak bisa dijamah oleh pujaan hati sekalipun. Cinta untuk bapak tak lekang oleh waktu. Duh jadi pengen mewek.

    BalasHapus
  2. Aih melting bacanya. Kebalikan aku ini. Orang mengenalkan aku dengan buku adalah mama. Dan beliau selalu setia membelikanku buku

    BalasHapus
  3. Mbak.... sudah dibaca oleh Ayah dan Ibu.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkomentar :)