11.27.2017

Awal Musim Penghujan


Genangan air ada di mana-mana. Pada tengah lahan yang cekung, lahan beraspal dekat koridor, dan beberapa di jalanan kampus. Dedaunan yang gugur pun tak terlewatkan oleh air hujan, ranting-ranting pohon, rerumputan dan genting-genting pada bangunan-bangunan kampus. Ini bulan November, seperti lagu milik Guns N’ Roses ”November Rain”.


                Sesekali, air hujan jatuh membasahi buku yang tengah kubaca. Aku duduk di dudukan beton yang dibangun permanen di bawah pohon Akasia. Biasanya pohon besar itu, melindungi kami dari teriknya sinar matahari tapi ia tak mampu menahan air hujan tuk tak jatuh ke bumi. Ketika air hujan itu jatuh dan membasahi salah satu halaman buku, aku mendesah. Bukan salah air yang jatuh apalagi salah dedaunan yang menjatuhkannya. Salahku sendiri, karena memilih duduk di tempat ini. Bukan karena tak ada tempat duduk yang lebih kering atau lebih nyaman untuk membaca, karena di koridor gedung A5 masih ada bangku-bangku kosong yang lebih nyaman. Tetapi, aku ingin duduk di sini, mengenang kenangan lima tahun lalu, kali pertama kami melepas rindu.

                Tak ada yang tahu mengenai hubungan kami, begitu pula teman terbaikku. Tak ada dari kami yang saling mengungkapkan untuk menjaga rahasia ini. Kami sama-sama enggan untuk bercerita atau memang tak ada yang bisa diceritakan dari hubungan tak berstatus ini. Namun, kami sama-sama tahu, kami saling menyukai.

                Lelaki yang selalu membawakanku sebotol yogurt. Tak selalu di merek yang sama. Ia seringkali membawa merek berbeda, ketika ia menemukan jenis yogurt yang lain. Yang pasti, dia selalu membawakan rasa strowberry untukku dan rasa leci untuknya. Pertemuan-pertemuan kami lakukan di kampus, danau dan di tempat-tempat umum lainnya.

Sampai pada akhirnya, ia pamit dan hubungan kami selesai.

                Aku tidak sengaja datang kemari, usai berkunjung ke rumah seorang teman dekat kampus. Hatiku tergoda untuk mampir ke gedung-gedung tua yang dulunya, pernah menjadi rumah kedua aku mengemban ilmu. Gedung-gedung yang riuh oleh langkah-langkah kaki dan suara-suara mahasiswa. Tak ada yang berubah dari gedung-gedung ini, kecuali lahan-lahan yang dulunya rerumputan sekarang menjadi lebih luas dan bersih. Gedung-gedung baru dengan konsep modern yang terbangun di antara gedung-gedung lama.

                Helai-helai rambutku yang terurai tertiup angin, kurasakan gigil mulai menyerang. Kurapatkan jaket berkelir merah marun yang kukenakan, berusaha menghalau dingin, meski hasilnya nihil. Nampaknya, hujan enggan benar-benar pergi sore itu, meskipun langit hendak menampakkan cahayanya. Sesekali, langit terlihat murung. Sesekali, ia cerah. Aku meraih buku, menutupnya dan memasukkannya ke dalam ransel. Memutuskan untuk mengakhiri kenangan pada detik itu. Aku tak mau air hujan membasahi novel Jane Austen yang baru kupinjam dari seorang kawan, terlebih lagi aku tak mau Etro terkena air hujan meskipun ia meringkuk dengan nyaman di dalam tas.

                Aku membuka pintu mobil yang terparkir di depan gedung A5, melemparkan tas ransel ke atas kursi penumpang, menstater dan mengendarainya, menjauh dari Fakultas Teknik. Kubelokkan Lancer Sl berkelir abu-abu muda itu ke kanan, ke arah kantin. Namun, sial aku menabrak mobil yang terparkir sembarangan dan menghalangi jalanku. Ujung kiri bumper mobil depanku, mengenai ujung kanan bumper belakang mobil itu.

                Aku mematikan mesin mobil, mengerang pelan, berusaha menenangkan diri karena jantungku berpacu dan memikirkan segala macam apa yang akan terjadi. Aku turun dari mobil, berjalan ke arah mobil yang kutabrak. Tepat ketika aku melihat keadaan bumper mobilku dan mobil yang terparkir sembarangan itu, seseorang muncul dari balik kap mobil yang ternyata sejak tadi terbuka.

                Seorang lelaki berkaus hitam dengan jaket berkelir hijau matang dan bercelana jins berwarna navy. Rambutnya sedikit panjang hingga telinga, sesekali tertiup oleh angin. Tak jauh berubah dari kali terakhir aku melihatnya. Sama halnya denganku, ia terkejut dengan pertemuan kami yang tiba-tiba ini.

                Tak ada di antara kami yang mengambil langkah terlebih dahulu, tak ada sapaan “Apa kabar?” ataupun “Hai” yang kami ucapkan. Sampai akhirnya, suara klakson dari pengendara motor yang tak bisa lewat karena terhalangi oleh kami, membuyarkan segalanya.

                Adalah aku orang pertama yang melemparkan senyum padanya, berucap “Hai,”dan “Apa kabar.”yang dia jawab dengan ungkapan, dia baik-baik saja, senang bertemu denganku.

                Seharusnya, aku mengambil langkah seribu untuk pergi darinya, seperti yang pernah ia lakukan padaku dulu. Sayangnya, hati berkata lain. Ia mengkhianati diriku, membuatku tetap berdiri di depan lelaki yang pernah pergi tanpa peduli sakit yang kuderita.


                Lelaki yang selalu membawa sebotol yogurt rasa leci dalam tas ranselnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)