1.23.2018

Di Danau Pagi Itu


Sudah hampir satu jam kami duduk di dudukan beton di tepi danau. Danau buatan yang berada di tengah-tengah kampus. Berada di antara kantin yang riuh dan masjid yang teduh. Aku, sejak kedatanganku tadi hanya memberikan tatapan sendu tanpa mengeluarkan satu kata pun. Sedangkan dia, sedari tadi berbicara mengenai dirinya, kondisi tubuhnya, pemikiran-pemikirannya, dan kekhawatiran-kekhawatirannya akan masa depan.

Sesungguhanya, pertemuan ini dialah yang memulainya. Mempertanyakan hubungan kami – hubungan yang ingin tak ingin ia lakukan. Maka, ia pun merasa gamang. Sebenarnya, apa yang kami lakukan, sedangkan ini bertolak belakang dengan prinsip hidupnya.

Aku masih membisu.

Dan dia terus berseru.

Sayup-sayup lantunan lagu My Heart Will Go On terdengar dari kejauhan. Nampaknya, dari arah kantin kampus.


Every night in my dreams

I see you, I feel you,

That is how I know you go on

Lagu itu, lagu yang populer dalam film Titanic itu, pernah menjadi salah satu lagu yang mengingatkanku akan dirinya. Akan dirinya yang ingin terlihat keren seperti Jack dalam Titanic – memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Pikiranku melayang ke masa-masa SMA kami, masa di mana kami hanya saling tahu nama satu sama lain. Tak pernah menyangka, kini, kami sedekat ini.

Aku bisa mencium wangi khas dari pakaian yang ia kenakan dari sini. Aroma lambat laun yang mungkin akan membuatku selalu tersenyum ketika menghidunya, atau justru aroma yang akan membuatku ingin mati saja karena mengingatkanku padanya. Salah satunya, pasti akan kualami nanti.
Karena aku sudah mengambil risiko dengan memilih untuk tetap tinggal.

                “Tak ada yang ingin kau katakan?”tanyanya, setelah selama bermenit-menit bercerita mengenai daya tahan tubuhnya yang begitu lemah. Ia kelelahan bekerja, tetapi ia tak pernah ingin meninggalkan pekerjaannya. Ingin berbuat sesuatu yang berguna untuk orang lain, katanya. Ia rela sakit, demi ilmu pengetahuan.

                Bagi sebagian orang, itu pemikiran konyol. Mungkin bagiku juga demikian, tetapi anehnya aku menyukainya.

                Aku menoleh, menatap kedua matanya, kemudian berpaling.

                Mungkin ini sifat kekanakanku, sengaja tidak mempedulikannya, meskipun ia berkali-kali mencoba membuatku bicara. Ya, aku ingin dia tahu, aku marah.

                Kami sama-sama diam. Aku memperhatikan burung-burung merpati berterbangan di sekitar danau. Mendarat di tepi danau, kemudian kembali terbang ke rumahnya yang berada di tengah-tengah danau.

                Sesekali, orang-orang melewati kami. Melihat kami sekilas, seakan penasaran apa yang kami lakukan saat ini.

                “Air itu komponen penting bagi kehidupan,”ia kembali bersuara. Mengisi kekosongan diantara kami, mengambil alih keadaan. Serta merta, perhatianku tertuju pada air danau di hadapan kami. Aku yakin, dia juga melihat ke arah air danau. “....dalam agama kita, Islam, air banyak dibahas dalam Al-Qur’an.”Ia terus melanjutkan, tak peduli aku mendengarkan atau tidak. Ia terus bercerita, mengisi kekosongan. Hening yang kuciptakan dan dia berusaha untuk membuatnya gaduh, dengan pengetahuannya. Segala hal yang bisa memberinya manfaat, selalu membuatnya tertarik.

                “Bagaimana Allah membuat air turun dari langit, membasahi bumi yang kering, karena adanya air tadi, tumbuhlah tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan buah. Rejeki untuk kita. Untuk manusia.”

            Aku melihat ke arahnya, ia melihatku balik. Aku kembali berpaling. Dia melanjutkan,”Dalam kepercayaan Nordik, saat terjadi Ragnarok raksasa Surtr membuat Dunia Tengah, Midgard, dalam lautan api dengan satu sapuan pedang apinya. Semua terbakar tak ada yang tersisa.”Belakangan dia suka membaca mengenai Mitologi, cerita yang sedang ia sampaikan padaku adalah cerita yang ia dapatkan dari buku-buku itu. “Lalu, air laut naik memadamkan api itu. Di tanah Midgard muncul kembali tumbuhan. Mereka yang selamat kembali memulai kehidupan.”

                Ia masih melanjutkan, mengenai air pada kepercayaan Kristiani ada air suci. Air yang dipercaya mampu mengalahkan roh jahat. Dia terus bercerita, memberikan informasi tersebut padaku. Tak peduli aku yang hanya diam dan sama sekali tak memperhatikannya. Tetapi, dia pasti tahu. Aku peduli. Aku mendengarkannya.

                Karena tak ada hal yang lebih menarik saat ini, kecuali dia.

                “An, tak ada yang ingin kau katakan?”ia kembali bertanya. Aku diam. Dia melihat ke layar ponselnya. “Pukul sepuluh lebih limabelas menit,”katanya. Sudah satu jam lebih lima belas menit, kami di sini. “Kalau tak ada yang ingin kau ucapkan, ayo pulang.”

                Aku masih diam. Belum ingin pulang. “Kalau kamu masih mau di sini, aku pulang dulu,”katanya, ketika sebelumnya telah menawariku untuk mengantarku ke parkiran.

                “Assalamualaikum,”dia pamit. Berjalan pergi, tanpa menungguku menjawab salamnya. Setelah tiga langkah yang ia peroleh, aku bersuara.

                “Mas,”panggilku. Tangisku hampir pecah, aku berpaling. Mungkin, saat ini dia begitu kesal menghadapi sifat kekanakanku. Dia bisa saja tak peduli dengan panggilanku, tak peduli denganku lagi. Tapi, dia membalikkan badannya, berjalan kembali ke arahku. Duduk di sampingku, lebih dekat daripada tadi.

                Saat itu ingin sekali kukatakan padanya, aku ingin bersamamu, aku ingin bersamamu, aku ingin bersamamu. Berkali-kali, agar dia yakin. Namun, yang keluar dari bibirku adalah “Kita gimana?”tanyaku padanya, dengan begitu lirih.

                “Baik-baik saja,”jawabnya. "Aku tidak akan pergi darimu."Begitu saja. Begitu saja, membuatku lebih baik.

                Dia menemaniku di sini, di pagi menjelang siang, sampai waktu dzuhur.
                

1 komentar:

  1. Hiks sedihnya
    Aku malah membayangkan danau yang ada di kampusku dulu
    Di situ, banyak kisah

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkomentar :)