1.01.2019

Angan


Suara suling teko memberikan keributan di sebuah pagi, saya segera menghampiri suara tersebut dan mematikan kompor. Mengambil teko dan menuangkan air panas ke dalam gelas gradasi antara warna abu-abu dan putih. Di dalamnya sudah ada bubuk kopi dan gula. Saya mengaduknya, sembari mendengar suara hujan yang menatap genting dengan kerasnya. Suaranya, bersahutan dengan suara Michael Buble dari YouTube yang berputar di laptop.

Saya membawa gelas berisi cairan kopi pekat ke meja kerja yang berada di tepi jendela kaca, menampilkan air hujan yang menempel pada permukaannya. Saya meletakkan cangkir tersebut di sisi kanan komputer portable dan mulai menulis.

Saya akan menulis mengenai tokoh-tokoh rekaan yang saya ciptakan, membuat salah satunya jatuh dari sepeda, patah hati hingga mau bunuh diri, tertawa sampai mengeluarkan air mata dan berdiam diri tak tahu hendak mau apa. 

Pada bagian-bagian yang saya tulis itu, ada impian-impian yang saya kejar sejak belia, ketika seorang anak perempuan menginginkan dirinya dikenal sebagai penulis. Beberapa tahun yang lalu, sayangnya hingga saat ini, impiannya itu belum juga terwujud. Entah Tuhan tak mengizinkan atau justru dia sendiri tidak berusaha dengan sungguh-sungguh. Bahkan, tiga paragraf di atas adalah rekaan belaka.

Tak ada meja kerja dekat jendela kaca, tak kehidupan sedamai itu, kecuali mengenai Michael Buble, teko dan gelas berkelir abu-abu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)