11.30.2019

Kim Ji-Yeong; Perempuan, Patriarki, dan Misoginis




Saya selalu menyukai isu-isu mengenai perempuan. Baik itu mengenai kekerasan seksual, percintaan, patah hati, bahkan depresi. Seakan-akan, isu mengenai perempuan tak ada habisnya. Stigma di masyarakat, menekan perempuan dengan kerasnya. Mirisnya, tak hanya dari laki-laki, pun dari perempuan sendiri. Seakan semua hal digantungkan pada pundak perempuan. Perempuan harus begini, perempuan harus begitu. Selalu seperti itu dan terjadi selama bertahun-tahun.

Nyatanya, patriarki tak hanya terjadi di Indonesia. Pun di Korea. Dan mungkin, di negara-negara yang lain juga terjadi hal serupa. Isu inilah yang diangkat penulis Cho Nam-Joo dalam bukunya Kim Ji-Yeong – lahir tahun 1982.

Kim Ji-Yeong adalah gambaran perempuan masa kini, apabila dirunut dari tanggal lahirnya, maka sekarang dia berusia 37 tahun. Seorang ibu muda dengan suami yang penuh perhatian dan juga tampan. 


Pada awal novelnya, Cho Nam-Joo menggambarkan gejala depresi Kim Ji-Yeong. Perempuan beranak satu itu, mulai bertingkah aneh. Dia sering hilang ingatan dan menjadi orang lain; orang-orang terdekatnya. Mulai menjadi ibunya sendiri dan sahabatnya. Usai itu, dia tidak mengingat apa pun. Suaminyalah yang menyadari hal tersebut.

Suami Kim Ji-Yeong, akhirnya menemui psikolog untuk berkonsultasi mengenai hal tersebut. 


Dalam buku ini, saya dibawa ke masa muda Kim Ji-Yeong, di mana kelahirannya tak pernah diinginkan. Di Korea, kelahiran anak laki-laki yang selalu diharapkan. Bahkan, ibu Kim Ji-Yeong menggugurkan kandungannya, setelah tahu anak ketiganya perempuan. Dan ketika mengatakan hal tersebut kepada suaminya, suaminya bukannya menenangkan dia justru menekan istrinya.


Cerita-cerita terus berlanjut, bagaimana perasaan Kim Ji-Yeong yang tak bisa ia suarakan. Dia hanya bisa mengatakan hal yang sebenarnya tak ingin dikatakannya, demi menjaga perasaan orang lain. Dengan kata lain, dia memilih diam. Menyuarakan pendapat pada masyarakat misogonis sangatlah sulit. Saya merasakan sendiri, bagaimana menjadi perempuan. Menggoreng kerupuk dan tidak mekar saja, kamu bisa dinilai tidak akan bisa bertahan lama hidup bersama mertua.

Selama membaca buku ini, saya tidak merasakan kebahagiaan apa pun. Seakan saya mengiyakan semua cerita yang ada dalam buku ini. Bahkan, penulis tidak perlu repot-repot memberikan kebahagian bagaimana Kim Ji-Yeong bertemu suaminya. Hal ini benar-benar membuat saya frutrasi. 

Kim Ji-Yeong harus meninggalkan pekerjaannya dan mengurus anak. Di situlah puncak depresi perempuan itu. Ketika hendak bekerja kembali, ada saja halangan yang membuat ia mengurungkannya.

Selain membaca buku ini, saya pun menonton filmnya. Menonton filmnya, masih ada kebahagiaan. Akan tetapi, pada puncak konflik, saya menangis tiada henti. Berbeda dengan bukunya, pada filmnya ada sedikit kebahagiaan.

Yah, isu mengenai perempuan selalu menarik untuk dinikmati. Seakan menjadi perempuan, tak membuat saya benar-benar mengenal perempuan.

1 komentar:

  1. Kok penasaran ama bukunya. Kayaknya cerita melankolis nih. Huhi

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkomentar :)