12.25.2019

Dua Perempuan di Ambang Sore


Gula aren berada pada dasar gelas, disusul potongan es batu, lalu susu cair dan terakhir cairan kopi. Perpaduan empat bahan tersebut sedang happening di kafe-kafe, rumah makan, stand-stand kecil di mal. Raya ikut memesannya ketika memasukki Arung Senja. Sebuah kafe di sudut senja Surabaya. 


                Cairan kopi terus turun bercampur dengan putihnya susu. Melihat perpaduan yang indah itu, membuat Raya enggan tuk mengaduknya. Agar mereka bersatu dan menciptakan perpaduan minuman dengan cita rasa yang nikmat. 


                Raya membiarkan gelas di hadapannya mengembun, karena kotak-kotak es balok itu mencair. Seharusnya, ia segera mengaduknya, mencicipinya selagi es tersebut belum sepenuhnya mengambil alih minuman sehingga menjadikan minumannya hambar. 


                Nampaknya, Raya sengaja membiarkan minuman tersebut terkontaminasi oleh es balok, sehingga yang tersisa hanya rasa yang hambar. 



                “Kau membuat minuman itu sia-sia,”ujar seseorang. Raya menggerakkan kepalanya, melihat ke asal suara. Seorang perempuan dengan tas tersampir di bahunya. Perempuan itu mengingkat rambutnya menjadi ekor kuda. Ia memakai setelan rok lipit selutut berwarna cokelat muda dan dipadukan dengan sweter rajut lengan panjang berwarna putih. 


                Perempuan itu mengulurkan tangannya ke arah Raya, “Delima.”Ia memperkenalkan diri. Raya menyambut uluran tangan perempuan itu tanpa ragu, meskipun ia sama sekali tidak mengerti. Raya tidak mengenal Delima. “Panggil saja, Dee,”lanjutnya. “Aku suka dipanggil demikian. Kau tahu, terlalu panjang untuk nama pendek. De-Li-Ma.”Perempuan itu mengeja namanya. 


                Raya tersenyum dan berkata, “Naraya.”Ia memperkenalkan diri. “Panggil saja Raya.”


                “Bagus, kita sama-sama memiliki nama dengan tiga suku kata,”sahut Delima. “Nampaknya, kau tidak sedang menunggu seseorang. Boleh aku duduk di sini?”lanjutnya. Dia menunjuk kursi kosong di depan Raya. Raya melihat ke sekeliling, dia lihat hanya mereka berdua pelanggan kafe sore itu. “Kalau kau tidak keberatan berbagi, karena ini tempat duduk favoritku.”


                “Ah, kau pelanggan kafe ini,”ucap Raya. “Aku akan pindah.”


                “Ah, tidak perlu, Raya,”sahut Delima. “Kau cukup membagi kursi kosong di depanmu denganku.”


                “Oke,”sahut Raya. Maka, Delima memesan secangkir es kopi susu pada pramusaji kafe dan duduk pada kursi di depan Raya.


                Seorang pramusaji meletakkan segelas es kopi susu di depan Delima, bersisihan dengan minuman milik Raya. Lalu, Delima mengaduk minuman tersebut dan meminumnya. “Selalu nikmat,”ucapnya. Delima merogoh tas bahunya, mengeluarkan sebuah buku bersampul hijau dan putih. 


                “Aku juga membaca buku itu,”tukas Raya, setelah mengetahui judul buku yang Delima keluarkan. “The Great Gatsby. Kisah cinta yang memilukan.”


                Delima mengangguk, “Yah, aku sudah mengetahui akhir kisahnya.”Delima mengambil jeda. “Kau tahu, aku menonton filmnya terlebih dahulu. Pesona Leonardo, siapa yang bisa menolak?”Delima tertawa kecil, “aku sudah membaca buku ini tiga kali. Ini keempat kalinya. Dan yah, aku masih belum mengerti dengan Gatsby.” 


                “Aku justru tak mengerti, kenapa  F. Scott Fitzgerald harus memperlakukan Gatsby dengan tidak adil,”sahut Raya. Dia mendesah, kemudian melihat ke arah luar kafe. Pada sisi kafe, terdapat tanaman-tanaman dalam pot. Mereka tersusun rapi. Ada pot ukuran besar dan kecil, semua terlihat hijau. Beberapa pot berisi sukulen. “Dia sudah tertolak sejak muda.”


                Delima tertawa, “Kau kasihan padanya karena dia telah menunggu lama untuk Daisy?”


                “Ya,”Raya tertawa getir. “Cinta tak selalu memihak pada orang-orang seperti Gatsby. Mungkin, kau tak mengerti, bahwa Gatsby itu bodoh.”


                “Dia laki-laki, “sahut Delima. “Yang tak aku mengerti, kenapa dia bisa sebodoh itu?”


                “Kau tahu, laki-laki cenderung mencari perempuan lain. Bahkan, ketika ia sudah memiliki pasangan,”lanjut Delima. Raya menatap Delima, melihat ke arah kedua mata perempuan asing itu. Dia merasa kesal dengan pernyataan perempuan itu, akan tetapi, Delima benar. “Itu hanya karya fiksi. Di dunia nyata, tak ada laki-laki seperti dia.”


                “Menyakitkan, tetapi benar,”Sahut Raya. “Mungkin, karya tersebut sebuah sindiran.”


                “Kau harus meminum kopimu,”tukas Delima. “Meskipun, mungkin rasanya sudah hambar.”


                Raya tersenyum, meraih gelas kopinya yang sangat basah. “Terima kasih sudah mengingatkan,”tukasnya. Kemudian, dia mengaduk isi gelas tersebut dan meminumnya. “Belum terlalu buruk.”


                Raya kembali tersenyum. Melihat ke arah gelasnya, lalu ke arah tanaman-tanaman dalam kafe tersebut. “Kau tahu Dee, bahwa ada hal-hal yang semestinya terjadi. Ada orang-orang yang membiarkan rasa sakitnya bertahan begitu lama, ia biarkan begitu saja.” Dia meletakkan gelasnya ke atas meja. “Dan ada orang-orang yang mengingatkan, untuk segera melepaskan. Sayangnya, kita tak pernah benar-benar tahu caranya.”


                Delima tersenyum, “Ini kali pertama kau memanggil namaku dan rasanya terasa sangat akrab.”Dia mengangguk, “Kuharap ada yang mengingatkan aku, ketika aku terlalu jauh melangkah sampai akhirnya menyakiti orang lain.”Delima mengambil jeda. “Terkadang, aku menyesali perbuatanku. Terkadang, aku meyakinkan diri bahwa tidak apa-apa menjadi egois sekali waktu.”


                “Terkadang, aku juga ingin menjadi egois. Menyakiti orang lain tanpa merasa bersalah. Membalas orang-orang yang menyakitiku, namun lagi-lagi, aku berpikir bahwa semua orang memiliki hidup yang harus diperjuangkan. Aku tidak tahu pasti apa yang telah dilalui oleh orang-orang tersebut. Maka, aku menangis.”


                “Menangis karena tidak bisa berbuat apa-apa. Membiarkan orang-orang terus menyakiti dan terkadang aku merasa kasihan dengan diri sendiri.”


                “Kau sedang patah hati rupanya,”sahut Delima.


                Raya tersenyum,”Seumur hidupku, kuhabiskan waktu dengan hati penuh luka.”Dia mendesah,”Dan, tahun ini yang terparah.”


                “Hidup memang tak pernah adil, bukan?”


                “Begitulah. Seperti Mr. Gatsby yang tak pernah benar-benar bisa memiliki Daisy. Dia berharap kekasihnya menghubunginya, setelah segala pengorbanan yang dia lakukan. Tapi, Daisy tetaplah Daisy.”


                “Tak mudah menjadi Gatsby, mencintai seseorang yang sudah terikat pernikahan. Sekeras apa pun dia berusaha, apabila Daisy tak bisa melepaskan kehidupannya, maka Gatsby yang harus pergi.”


                “Bukankah, dalam kasus tersebut Daisy adalah orang paling egois?”lanjut Delima. 


                “Keserakahan Daisy, membuat Gatsby dan Tom hidup dalam kehampaan.”


                “Lalu, dalam kisah tersebut, kau sebagai siapa?”tanya Delima secara tiba-tiba. 


                “Tom.”


                Matahari di luar kafe hampir tenggelam sepenuhnya, semburat warna oranye di ufuk barat tinggal sejengkal. Delima mendesah. Tidak banyak bicara setelah itu. Dia melanjutkan bukunya, sampai pada akhirnya Raya pamit. 


                Sebelum Raya beranjak dari kursinya, ia berkata, “Dan aku adalah Mr. Gatsby.”


                Keduanya saling berpandangan. Kemudian, Raya tersenyum kecil dan berkata, “Semoga kita bertemu kembali.”

***
Delima menelusuri lekuk lengan kekasihnya, dia menyandarkan kepalanya pada dada lelaki yang paling dia cintai saat ini. Semalam, mereka berdua telah menghabiskan malam bersama. Seperti yang sudah-sudah. Setiap akhir pekan, mereka akan memesan kamar dan bermalam. Delima selalu menyukai pertemuan mereka, meskipun pada akhirnya akan tersisa perasaan hampa dan kekosongan luar biasa.


                Namun, Delima tak dapat menghentikan pertemuan-pertemuannya dengan lelaki tersebut.

                “Kau tahu, kemarin sebelum kita bertemu, aku ke kafe dan mengobrol dengan seseorang. Kami berkenalan.”


                “Oh ya?”lelakinya merespon. Dia mengelus puncak rambut perempuan dalam dekapannya. “Laki-laki?”


                “Perempuan.”Delima menjelaskan,”Kami membicarakan novel The Great Gatsby. Kurasa, kami cocok.”


                “Bagus. Kau menemukan sahabat.”


                “Dia sedang bersedih. Kopi yang dipesannya tak disentuhnya,”Delima bercerita. Dia mendesah. “Aku harus mengingatkannya berkali-kali, baru dia meminumnya. Lalu, dia melamun lagi. Tersenyum untuk hal yang tak kumengerti.”


                Delima mengangkat kepalanya, melihat ke arah lelaki berhidung bangir yang balas menatapnya. “Melihat dia, hatiku ikut hancur. Membuat rasa bersalahku semakin dalam. Lebih parah lagi, ketika tahu apa yang sedang dihadapinya.”


                “Apa?”


                “Rumah tangganya, retak.”Delima mendesah. “Kita hidup dalam dunia bersebrangan dan aku mengatakan itu padanya. Kau tahu apa yang dia katakan?”Lelaki di depannya menggeleng. “Dia tersenyum dan berkata semoga bisa bertemu denganku lagi.”


                “Itu bagus, kan?”


                “Sayang, dia mengingatkanku akan istrimu. Mungkin, dia juga seperti perempuan di kafe itu.”Delima mendesah. “Boleh aku tahu, siapa nama istrimu?”


                “Itu tidak penting. Untuk apa kau tahu?”


                “Sekadar ingin tahu.”


                “Naraya,”ucap lelaki itu. “Nama istriku, Naraya.”

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)