12.07.2019

Novel Unforgettable; Buku Langka yang Tersisa di Sudut Toko Buku. Bukti Saya Pernah Bahagia




Waktu itu, saya masih berkuliah. Mencari-cari dan mengumpulkan novel karya Winna Efendi. Saya menemukan buku ini di Rumah Buku Surabaya. Tanpa pikir panjang, saya mengambil buku langkah dan tinggal satu-satunya itu, membawanya ke kasir. Membuka halaman pertama, menghidu aromanya; saya sangat bahagia waktu itu. 

Sejujurnya, tak ada yang istimewa dari novel karya Winna Efendi ini. Unforgettable bercerita mengenai dua orang yang bertemu di kedai wine. Bahkan, keduanya tidak diberikan nama khusus, akan tetapi cerita mengalir begitu saja. Keduanya bercerita mengenai apa saja; cinta, masa lalu, film, lagu, wine dan sebagainya. 

Tak ada adegan khusus selama cerita berlangsung, keduanya hanya mengobrol; perempuan itu seorang penulis, dia menulis di tepi jendela dan lelaki itu datang ke kedai wine sebagai tempat pelarian. Keduanya menobrol dan terus menerus seperti itu. 


Terkadang, saya tidak benar-benar menikmati sebuah cerita dari alur yang diberikan sang penulis. Saya juga menyukai rangkaian kata yang disambung menjadi kalimat, paragraf, hingga cerita dalam novel itu selesai. 


Apabila kamu menyukai novel dengan banyak adegan, tidak akan bisa menikmati novel ini. Sejujurnya, novel ini mengingatkan saya akan film Before Sunrise. Dalam film tersebut, tak banyak adegan, hanya dua orang yang bertemu di kereta. Sepanjang perjalanan film tersebut, lebih banyak berdialog alih-alih adegan. Ketiga seri film tersebut, memiliki konsep yang sama. 

Winna sendiri mendefinisikan novel ini mengenai menunggu. Seorang perempuan yang menunggu datangnya cinta, meskipun akhir cerita tidak selalu indah. Bagi saya, begitulah akhir sebuah cerita; tidak selalu bahagia. Karena bahagia selamanya, hanya sebuah dongeng. Tak ada kehidupan dalam kata “selamanya”.

Karena cinta punya masanya sendiri. Meminjam kalimat Raditya Dika, cinta memiliki kedaluwarsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)