12.22.2019

Tentang K: Bagian Pertama


Aku mengenalnya, hampir seumur hidupku. Kami tumbuh bersama dalam kotak-kotak pendidikan sejak dalam balutan putih abu-abu. Dia, bukanlah sahabatku. Bukan seseorang yang selalu bersamaku. Aku hanya mengenalnya sebagai sosok yang jarang berbicara dan di luar jangkauanku. Kami memiliki obsesi, impian dan pandangan hidup yang serupa. Sayangnya, itu tak cukup membuat kami bisa terus bersama.

Aku adalah orang pertama yang melangkah mendekat, sosoknya yang misterius membuatku tertarik tuk terus mencari tahu. Mataku, adalah mata yang selalu mencari-cari sosoknya di antara seragam putih abu-abu. Dia, lelaki yang datang terlambat ketika pelajaran tambahan Bahasa Inggris.


Hari itu, bukan kali pertama aku mengenalnya. Kami sudah berada di atap yang sama selama setahun penuh. Tapi, pagi itu adalah kali pertama aku tertarik pada lelaki itu, yang belakangan kupanggil dia, K.

Tuhan tak akan pernah memberikan sesuatu tanpa sebuah alasan, aku selalu percaya itu. Begitu pula akan ada alasan, kenapa Tuhan memberikan jalan serupa dengan K. Dengan lelaki yang selalu jauh dari jangkauanku, meskipun kami seringnya berada dalam lingkaran yang sama.

K, adalah lelaki yang membantuku mengerjakan rangkaian digital yang tak pernah kupahami. Dia rela datang ke kampus malam-malam, demi membantu membetulkan komputer jinjingku, meskipun tubuhnya sedang tak sudi terkena angin malam. K, adalah satu-satunya lelaki yang membaca setiap kata yang kutorehkan dalam lembar-lembar Microsoft Word. K, adalah satu-satunya lelaki yang memintaku untuk memenuhi kewajibanku sebagai seorang muslimah.

K, adalah lelaki yang ingin kurengkuh, sekaligus kuhindari. Karena, sejak awal aku tahu, kami berada di frekuensi yang berbeda.

“Aku di rumahmu,”kirim K pada pesan masuk akun facebook milikku siang itu. Aku membacanya, ketika ia sudah pamit. Ketika itu, aku tengah terlelap dalam mimpi-mimpi, hingga kakakku menghancurkannya dan berkata K ada di depan.

K datang untuk membeli buku perdanaku. Tentu saja, itu bukan buku solo. Itu buku kumpulan cerita yang kutulis bersama penulis yang lain. K, lelaki yang selalu mendukungku, mengagumiku itu datang dengan aura tenangnya. Aura yang selalu membuatku merasa baik-baik saja.

Pada kesempatan lain, K datang kembali. Kini, dia jauh lebih berbeda daripada sebelumnya. Ia sudah memantapkan dirinya, memegang teguh Tuhan-Nya. Ia mulai menumbuhkan jenggot, memakai celana di atas mata kaki dan enggan bersentuhan dengan lawan jenis. K, semakin menjauh dari duniaku. Ia semakin sulit untuk dijangkau. Dan aku pun semakin menjauh darinya.

Ia datang tidak dengan tangan kosong. Ia membawa buku sirah Nabi Muhammad SAW. Buku dengan ketebalan lima centimeter tersebut, tak pernah berhasil kuselesaikan. Berkali-kali aku mencoba membacanya, berkali-kali pula aku menyerah. 

Aku semakin yakin, bahwa kami memang tak berada dalam ruang lingkaran yang sama.

Sekali lagi, aku tak pernah tahu apa yang Tuhan rencanakan. Meskipun aku selalu percaya, setiap apa yang Tuhan rencanakan ada sebuah alasan di baliknya.

K, datang dalam kehidupanku. Bukan sebagai seorang pengagum, bukan sebagai seorang lelaki yang selalu rela membaca karya-karyaku. Tetapi, sebagai calon imanku.

***
“Aku memikirkanmu,”ia mengirim pesan padaku pada bulan Juni. Ketika aku berjalan menyusuri setapak demi setapak kebun istana Keraton Yogyakarta. Kedatanganku ke Jogja tentu bukan tanpa sebuah alasan, ke sana aku membawa sebuah harapan. Untuk mimpi-mimpiku yang telah lama kukejar, K, tahu itu.

“Kenapa?”balasku.

“Entahlah, tiba-tiba saja.”

                Tak urung, pesan singkat dari K membuatku melambung. Ada hal-hal yang kutolak dari hatiku, ada juga kebahagiaan yang terselip di sana. Ada masa di mana aku takut saat-saat seperti ini akan datang. Berkali-kali kuyakinkan diri, bahwa tidak apa-apa. Memang sudah saatnya. Mungkin, bila lelaki lain yang berkata demikian tak akan ada beban yang kupikirkan, mungkin hanya akan ada rasa bagaimana cara kumenumbuhkan rasa suka? Bukan, justru beban, apakah K bisa menerimaku?

                Jauh sebelum K, mengirim pesan itu. Jauh ketika pemikiran-pemikiran mengenai bersanding dengan K muncul dalam otakku dan menjelma menjadi sebuah harapan. Aku berkata kepada sahabatku,”Aku takut.”

                Takut mengenai ajaran-ajaran yang akan diberikan oleh K, tuntutan-tuntutan mengenai menjadi muslimah yang baik, kewajiban-kewajiban yang harus aku lakukan. 

                “Kamu diajak menjadi baik, kok nggak mau sih,”ujar sahabatku waktu itu. Kala itu, hatiku masih dalam sebuah bongkahan batu. Keras dan terus menyangkal, bahwa aku tak pantas untuk K, bahwa aku bukanlah perempuan yang tepat untuk K.

                Dan kini, ketika ia memiliki niat baik untuk lebih mengenalku, kuenyahkan pemikiran-pemikiran tersebut. Meskipun dalam hati kecilku masih ada keraguan yang teramat besar. Selama ini, akulah yang mengenal K. Aku adalah orang pertama yang mengambil langkah untuk mendekat. K, baru akan mengenalku lebih jauh. Bukan sebagai seorang penulis yang membuatnya kagum. Lebih jauh daripada mengenai profesi yang ia kagumi. Jauh dari itu. Justru, itulah yang membuat hatiku menjadi kepingan-kepingan yang mengharuskan untuk segera pergi. Begitu saja, setelah makna indah yang ia berikan.

                Maka, kubiarkan hatiku jatuh padanya, lagi.
***

(792017)