12.27.2019

Tetes Darah Pada Buah Apel


“Saya akan ambil dua kilo.”

                Belinda menyerahkan satu baskom buah apel hijau kepada seorang ibu muda yang berjualan buah-buahan. Dia memilih beberapa apel Malang, untuk dibawa pulang. Setiap pagi, dia akan berjalan menyusuri jalanan beraspal yang sempit, ke arah pasar buah yang terletak di depan tempat wisata tidak jauh dari rumahnya. 

                Perempuan berusia dua puluh tujuh tahun itu, mengenakan gaun selutut bermotif bunga dadelion kecil, berwarna putih gading. Ia membiarkan rambut bergelombangnya tergerai sampai menyentuh punggung. Pada tangan kanannya, terdapat kantong belanja berwarna putih dari kain belacu. 

                Setiap pagi, ia akan membeli buah apel Malang sebanyak dua kilo. 


                Pada lain waktu, Belinda akan membawa pulang seikat sayur pakis untuk dimasak, terkadang dia juga membawa pulang seikat petai besar. 

                “Nggak nambah jamur tiramnya sekalian, Mbak?”tanya ibu muda penjual buah-buahan. Selain buah-buahan, pada kios tersebut terdapat beberapa sayuran hasil orang-orang sekitar. Belinda tidak membeli apel di satu tempat, dia berpindah-pindah sampai menemukan apel Malang yang memiliki aroma harum. 

                “Saya sudah beli pakis,”jawab Belinda. Dia membayar dua kilo apel, yang menurutnya harganya sedikit mahal daripada biasanya. Tapi, itu bukan masalah baginya, karena apel yang dijual ibu muda itu sangat bagus. 

                “Tak lihat, mbak sering beli apel Malang,”tukas ibu muda tersebut. “Suka sekali ya?”

                Belinda menjawab, “Saya terbiasa membuat alur cerita sembari mengupas apel.”

                Ibu muda tersebut mengerutkan kening, tidak mengerti dengan yang dikatakan Belinda. Lalu, Belinda pamit, tanpa perlu repot-repot menjelaskan. Baginya, ibu muda itu mengerti atau tidak, bukan urusannya. Urusannya dengan penjual buah hanyalah sekadar transaksi jual-beli, selebihnya tidak ada yang harus dia lakukan. 

                Belinda berjalan cukup jauh ketika kembali ke rumah, sekitar dua kilo atau tiga puluh menit berjalan kaki. Terkadang, Belinda membeli apel menggunakan sepeda, ketika dia bangun terlambat karena tidur terlalu pagi. Seringnya, dia memilih berjalan kaki, karena dia begitu menyukainya. 

                Dia berjalan sembari melihat hamparan sawah yang tumbuh hijau, titik-titik embun bersemayam pada ujung daun padi. Awan terlihat kelabu dengan udara dingin yang membuat pipinya dingin. Belinda menyukai udara dingin di kawasan ini. Ia selalu menyukai awan-awan yang bergelantung manja siap meneteskan air. Ia selalu membawa payung kecil berwarna kuning cerah dalam tas belanjanya, mempersiapkan diri apabila tiba-tiba hujan turun. 

                Belinda berhenti pada sisi jalan sempit yang berada di tepi sawah. Di sana tumbuh tumbuhan teh hibiskus atau orang-orang di sini menyebutnya bunga rosella. Dia mengambil beberapa kelopak bunga yang gugur dan mengering di sekitar pohonnya, kemudian memasukkannya ke dalam tas belacu. Dan, dia melanjutkan perjalanan. 

                Setelah berjalan selama tiga puluh menit, dia sudah berada di depan rumahnya. Rumah berwarna putih gading, satu lantai. Dia membuka pintu pagar, lalu berjalan pada batu-batu kecil yang ia susun sendiri menuju teras rumah. Belinda mengeluarkan kunci pintu samping yang langsung terhubung dengan dapur. 

                Di dalam dapur, Belinda meletakkan belanjaannya di atas meja kayu, kemudian mengambil teko bening yang dia beli secara daring, mengisinya dengan air kran dan memanaskannya di atas tungku. Belinda beralih ke arah meja dapur, meraih tas belacunya dan mengeluarkan isinya. Pertama, dia mengeluarkan apel-apel berwarna hijau segar itu dan memindahkannya ke dalam keranjang rotan. Lalu, dia mengeluarkan sayur pakis, mencucinya, kemudian meletakkannya ke dalam lemari pendingin. Terakhir, dia memunguti kelopak bunga rosella kering pada dasar tas belacu.

                Suara air keran beserta air yang mendidih mengisi suara dalam keheningan itu. Belinda mencuci kelopak bunga rosella, kemudian memasukkannya ke dalam teko bening yang mendidih. Perlahan, air teko yang awalnya bening itu berubah menjadi merah keunguan, sampai akhirnya air teko berubah merah sepenuhnya. 

                Belinda mematikan tungku, kemudian meraih gagang teko. Dia mengambil gelas bening dari rak, kemudian mengisinya dengan teh rosella. Aroma teh yang harum memenuhi ruangan. Dia meminum teh tersebut secara perlahan, sembari mengecek ponselnya yang sejak semalam belum dia sentuh. Baginya, aroma teh di pagi hari adalah hal paling baik, setelah aroma kopi. Terkadang, ketika Belinda bosan dengan kedua aroma itu, dia akan menyeduh wedang uwuh dengan bahan-bahan yang dia beli di pasar dan beberapa dari kebunnya sendiri.

                Perempuan itu, membawa sekeranjang apel kedalam ruang kerjanya. Belinda memiliki ruang kerja dengan jendela kaca bening, yang terhubung dengan kebun beserta taman bunga kecil miliknya. Dia meletakkan keranjang apel ke atas meja kerja, kemudian mengambil satu buah apel beserta pisau dari keranjang dan di bawahnya ke arah sofa rotan dengan alas duduk bantal kecil yang mengarah ke arah luar rumah. 

                Dari sini, Belinda bisa merasakan matahari bersinar hangat ke arahnya, sembari melihat ke arah kebun. 

                Belinda memulai sebuah adegan dalam benaknya. Seorang perempuan dengan polesan bibir berwarna merah gelap membawa sebuah pulpen bergaris hitam dengan dasar putih. Perempuan itu sedang menulis sesuatu pada buku catatannya yang selalu dia bawa ke mana-mana. Lalu, Belinda memikirkan anak lima tahun yang dia temui ketika membeli apel; anak dari penjual apel. Belinda tersenyum tipis, merasa menemukan korban baru. 

                Lalu, Belinda mulai mengupas kulit apel di tangannya secara perlahan, dengan mata tetap melihat ke arah luar jendela kamar. Lebih tepatnya, ke arah kupu-kupu yang hinggap di atas bunga kertas ungu yang mekar sempurna.

                Selama dua jam lebih, Belinda sudah mengupas sebanyak sepuluh buah apel. Pada apel terakhir dari keranjang rotan, Belinda berhenti. Dia melihat ke arah jari telunjuknya sebelah kiri yang mengeluarkan cairan kental berwarna merah pekat. Cairan tersebut mengenai daging apel yang tengah dikupasnya. 

                Lagi-lagi, dia melukai jemarinya. Padahal, jari terlunjuk miliknya sudah berkurang banyak. Dia begitu sering membuat jari telunjuknya berdarah karena mengupas apel yang dibelinya setiap hari. Tapi, dia tidak bisa memikirkan alur cerita apabila tidak melakukannya. 

                Belinda meletakkan apel berdarah tersebut di atas apel-apel lain yang telah terkupas. Lalu, mencari plester untuk mengobati lukanya. Setelah itu, Belinda menyalakan komputer jinjingnya, membuka sebuah halaman MS. Word. 

                Pada kalimat pembukannya, Belinda menuliskan...

                Korban kedua adalah seorang anak laki-laki berusia lima tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)